My mother groaned, my father wept, into the dangerous world I leapt.”
-William Blake-
Pengalaman 4 kali melahirkan normal dan sekali keguguran, membuat mentalku siap ketika memutuskan untuk hamil dan melewati (lagi) sakitnya proses kelahiran. Paling tidak, aku sudah familiar dengan rasa sakit yang akan kuhadapi dan berbagai keluhan selama hamil, melahirkan dan menyusui nanti. Tapi setiap anak memang memiliki kisahnya masing-masing, bahkan sebelum mereka dilahirkan ke dunia.
Masa kehamilanku kali ini cukup berat. Setelah melewati masa mual dan muntah yang tidak menyenangkan selama kurang lebih 3 bulan, kemudian berhasil melewati serangan virus tokso dan rubella, di bulan kelima kehamilan, aku mengalami pendarahan, sehingga harus bedrest selama kurang lebih 1 bulan. Selagi masa bedrest itu, aku menderita sakit batuk selama 3 bulan, lalu mengalami panas tinggi hingga 40 derajat selama 1 minggu. Akibatnya tubuhku digempur banyak obat-obatan dan makanan supaya daya tahan tubuhku tidak terus menurun. Barulah di bulan terakhir kehamilan, kondisi kesehatanku berangsur pulih dan bisa beraktivitas dengan normal.
Setiap pemeriksaan rutin kehamilan, tidak ada masalah dengan bayi di dalam perut. Posisinya bagus, ketuban bagus, perkembangannya pun normal, sehingga dokter, aku dan suami, semuanya optimis, kali ini pun persalinan bisa dilakukan secara normal. Apalagi katanya, kelahiran anak kelima biasanya jauh lebih cepat dan mudah.
Memasuki usia kehamilan 9 bulan, kami sekeluarga sudah tidak sabar menunggu kelahiran si jabang bayi. Tapi, tunggu punya tunggu, si jabang bayi tak juga kunjung datang. HPL semakin dekat, dan dari pemeriksaan USG, air ketuban pun sudah mulai berkurang. Memasuki minggu ke 38, aku merasakan kontraksi yang cukup stabil, interval 30 menit, selama berhari-hari. Aku memperbanyak aktivitas jalan, nungging, atau apapun yang bisa mempercepat proses kelahiran.
Senin pagi, 22 April 2013, akhirnya aku masuk ruang bersalin, setelah interval kontraksi menjadi 5 menit sekali. Hasil CTG menunjukkan kontraksi bagus dan jalan lahir sudah pembukaan satu. Setelah itu semuanya berjalan begitu lambat. Sampai malam datang, pembukaan tidak bertambah, tetap satu. Dokter sudah melarangku pulang ke rumah. Akhirnya mau gak mau aku dan suami menunggu dan menginap di rumah sakit, di ruang perawatan. Dokter sudah menjadwalkan induksi infus Selasa pagi. Jadi, malamnya aku diminta tidur dan beristirahat, menyiapkan mental untuk menghadapi sakit setelah diinduksi. Kelahiran anakpertama dan kedua, aku juga diinduksi, jadi aku tau, induksi itu artinya sakitnya sakit banget.
Masa kehamilanku kali ini cukup berat. Setelah melewati masa mual dan muntah yang tidak menyenangkan selama kurang lebih 3 bulan, kemudian berhasil melewati serangan virus tokso dan rubella, di bulan kelima kehamilan, aku mengalami pendarahan, sehingga harus bedrest selama kurang lebih 1 bulan. Selagi masa bedrest itu, aku menderita sakit batuk selama 3 bulan, lalu mengalami panas tinggi hingga 40 derajat selama 1 minggu. Akibatnya tubuhku digempur banyak obat-obatan dan makanan supaya daya tahan tubuhku tidak terus menurun. Barulah di bulan terakhir kehamilan, kondisi kesehatanku berangsur pulih dan bisa beraktivitas dengan normal.
Setiap pemeriksaan rutin kehamilan, tidak ada masalah dengan bayi di dalam perut. Posisinya bagus, ketuban bagus, perkembangannya pun normal, sehingga dokter, aku dan suami, semuanya optimis, kali ini pun persalinan bisa dilakukan secara normal. Apalagi katanya, kelahiran anak kelima biasanya jauh lebih cepat dan mudah.
Memasuki usia kehamilan 9 bulan, kami sekeluarga sudah tidak sabar menunggu kelahiran si jabang bayi. Tapi, tunggu punya tunggu, si jabang bayi tak juga kunjung datang. HPL semakin dekat, dan dari pemeriksaan USG, air ketuban pun sudah mulai berkurang. Memasuki minggu ke 38, aku merasakan kontraksi yang cukup stabil, interval 30 menit, selama berhari-hari. Aku memperbanyak aktivitas jalan, nungging, atau apapun yang bisa mempercepat proses kelahiran.
Senin pagi, 22 April 2013, akhirnya aku masuk ruang bersalin, setelah interval kontraksi menjadi 5 menit sekali. Hasil CTG menunjukkan kontraksi bagus dan jalan lahir sudah pembukaan satu. Setelah itu semuanya berjalan begitu lambat. Sampai malam datang, pembukaan tidak bertambah, tetap satu. Dokter sudah melarangku pulang ke rumah. Akhirnya mau gak mau aku dan suami menunggu dan menginap di rumah sakit, di ruang perawatan. Dokter sudah menjadwalkan induksi infus Selasa pagi. Jadi, malamnya aku diminta tidur dan beristirahat, menyiapkan mental untuk menghadapi sakit setelah diinduksi. Kelahiran anakpertama dan kedua, aku juga diinduksi, jadi aku tau, induksi itu artinya sakitnya sakit banget.
Induksi dilakukan pagi-pagi sekali, dan benar saja, dalam waktu 1 jam saja efeknya mulai terasa. Sakit! Menjelang siang, rasa sakit semakin bertambah, tapi pembukaan jalan lahir masih tetap sama, satu cm. Padahal aku tetap bangun, jalan-jalan, buang air sendiri ke kamar mandi. Lepas tengah hari, dosis induksi ditambah, karena aku sudah kelelahan. Harapannya proses persalinan semakin cepat dan bayi segera lahir. Tapi yang bertambah hanya rasa sakitnya saja. Pembukaan jalan lahir tetap tidak bertambah.
Makin lama rasa sakitnya semakin tidak masuk akal. Aku berusaha tetap fokus dan konsentrasi supaya bisa melewati setiap rasa sakit. Tapi tidak berapa lama, aku mulai disergap rasa panik. Ada sesuatu yang berbeda, tapi aku tidak tau apanya yang salah. Rasa sakit terus menerus datang, gak pakai interval-intervalan. Aku berulangkali mengatakan kepada suamiku, ini gak seperti biasanya, biasanya gak kaya gini. Para perawat bergantian menenangkan dan menghiburku. Mereka bilang, tiap kelahiran beda-beda prosesnya, ibu sabar, ya, dan kalimat penghiburan lainnya.
Seperti biasanya prosedur rumah sakit, dokter kandungan baru datang pas last minute. Tapi konsultasi dan pengarahan terus-menerus dilakukan melalui telepon. Salah satu perawat datang dan mengatakan kalau dosis induksi akan ditambah lagi. Suamiku setuju, tapi aku menolak. Sebuah kesadaran menyergapku. Aku tidak mungkin sanggup menahan sakit ini sampai tahap akhir persalinan. Yang kurasa dan pikirkan pada saat itu adalah, rasa sakit yang tidak wajar ini harus berakhir. Aku gak sanggup lagi. Aku menangis. Semuanya harus berakhir. Aku gak akan kuat kalau harus meneruskan.
Di antara erangan kesakitan, bujukan gaduh para perawat, dan suara cemas suamiku, aku menatapnya dan memohon agar menyudahi saja rasa sakit dengan sebuah keputusan, operasi caesar. Tapi permohonanku tidak begitu saja dikabulkan. Para perawat bergantian membujukku supaya tetap tenang dan sabar. Mereka mengatakan itu adalah proses yang harus kulalui.
Makin lama rasa sakitnya semakin tidak masuk akal. Aku berusaha tetap fokus dan konsentrasi supaya bisa melewati setiap rasa sakit. Tapi tidak berapa lama, aku mulai disergap rasa panik. Ada sesuatu yang berbeda, tapi aku tidak tau apanya yang salah. Rasa sakit terus menerus datang, gak pakai interval-intervalan. Aku berulangkali mengatakan kepada suamiku, ini gak seperti biasanya, biasanya gak kaya gini. Para perawat bergantian menenangkan dan menghiburku. Mereka bilang, tiap kelahiran beda-beda prosesnya, ibu sabar, ya, dan kalimat penghiburan lainnya.
Seperti biasanya prosedur rumah sakit, dokter kandungan baru datang pas last minute. Tapi konsultasi dan pengarahan terus-menerus dilakukan melalui telepon. Salah satu perawat datang dan mengatakan kalau dosis induksi akan ditambah lagi. Suamiku setuju, tapi aku menolak. Sebuah kesadaran menyergapku. Aku tidak mungkin sanggup menahan sakit ini sampai tahap akhir persalinan. Yang kurasa dan pikirkan pada saat itu adalah, rasa sakit yang tidak wajar ini harus berakhir. Aku gak sanggup lagi. Aku menangis. Semuanya harus berakhir. Aku gak akan kuat kalau harus meneruskan.
Di antara erangan kesakitan, bujukan gaduh para perawat, dan suara cemas suamiku, aku menatapnya dan memohon agar menyudahi saja rasa sakit dengan sebuah keputusan, operasi caesar. Tapi permohonanku tidak begitu saja dikabulkan. Para perawat bergantian membujukku supaya tetap tenang dan sabar. Mereka mengatakan itu adalah proses yang harus kulalui.
Rasanya ingin marah, tapi tak berdaya. Kenapa tidak ada yang bisa mengerti kalau rasa sakit yang kurasakan ini tidak seperti biasa? Aku hanya berharap suamiku mempercayai dan mendukungku. And he did it. Melalui telepon, suamiku mengatakan kepada dokter, dengan pengalamanku melahirkan normal 4 kali, kalau sekarang aku sampai meminta caesar karena sangat kesakitan, pasti ada sesuatu.
Akhirnya, karena aku berkeras untuk tidak melanjutkan diinduksi dan memilih menjalani operasi caesar, persiapan untuk operasi mulai dilakukan. Aku diberi obat penawar sakit, tapi sakitnya sama sekali tidak berkurang bahkan semakin bertambah. Saat kesakitan begitu, aku tetap memilih bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi setiap kali kurasakan dorongan untuk buang air kecil. Meskipun di tengah jalan harus berhenti sambil menangis dan memeluk suamiku karena merasa sakit. Berkali-kali ke kamar mandi sambil kesakitan, dan mungkin juga karena panik, kali kesekian suamiku mengantarku ke kamar mandi, dia tiba-tiba berjongkok dan menangis. Katanya, aku membuatnya takut. Suamiku memintaku untuk tetap kuat demi dia dan anak-anak. Aku tak kuasa menjawab apapun karena sakit yang mendera. Betapa aku ingin meyakinkan dia, sungguh aku tak berputus asa sedikit pun. Tapi kondisiku saat itu memang membuat siapa pun yang melihatku jadi panik dan berpikiran buruk.
Untuk menenangkan aku, dokter anestesi, yang juga seorang hypno therapist dikirim ke kamarku. Sayangnya, dalam keadaan sakit pun, aku tak mudah dipengaruhi. Seperti yang ibuku bilang, anak-anak bapakku terlahir keras kepala seperti bapaknya. Rasanya bujukan dan ucapan-ucapan pak dokter malah mengganggu upayaku untuk fokus melewati semua rasa sakit itu.
Perempuan manapun yang mengalami persalinan normal pasti tau, kalau disetiap rasa sakit, ada jeda untuk beristirahat dan mengambil nafas. Mendekati tahap akhir persalinan, jeda itu tetap ada meskipun semakin singkat. Sakit yang aku alami pada saat itu tidak seperti itu. Tidak ada jeda sedikitpun, sakitnya terus menerus dan semakin bertambah kuat.
Operasi dijadwalkan Selasa, 23 April 2013, jam 4 sore. Menunggu 30 menit saja rasanya lama sekali. Suamiku berulangkali mengingatkan supaya aku kuat dan tidak menyerah. "Aku menunggu, Moses juga nunggu di rumah. Anak-anak semua menunggu. Mama yang kuat, ya." Aku tak sanggup berkata-kata dan menjanjikan apapun. Hanya menangis dan berusaha sekuatnya untuk melewati setiap sakit yang kurasakan.
Sepanjang proses itu, aku menolak jauh dari suamiku. Tapi ternyata dia tidak diperkenankan ikut mendampingiku operasi. Entah karena kondisiku saat itu atau memang prosedur rumah sakitnya seperti itu. Kalau aku menyerah saat itu, mungkin aku sudah pingsan. Tapi aku berusaha tetap sadar dan konsentrasi untuk tidak mengedan. Karena menjelang operasi, selain sakit yang terus-terusan, aku juga mulai merasakan tekanan kuat di belakang dan rasa ingin mengedan.
Memasuki ruang operasi, aku masih bisa mendengar lantunan ayat suci Alquran yang dipasang dengan suara cukup keras. Ya, di rumah sakit ini, suasana Islaminya memang sangat kental. Kesan ramah, hangat, bersahabat dan damai sangat terasa di rumah sakit ini.
Saat itu, entah bagaimana, tiba-tiba saja aku teringat cerita sahabat mayaku Greiche Anwar (Gege). Gege yang sudah pernah dua kali melahirkan caesar, pernah menulis di blognya kalau suntik anestesi di tulang belakang itu sakitnya gak ketulungan. Aduh, tiba-tiba aku merasa takut. Sesakit-sakitnya kontraksi yang tengah kurasakan, aku sudah tau rasanya. Tapi ditusuk tulang belakang? Sambil kesakitan, aku bertanya kepada perawat apakah aku boleh dibius total saat operasi? Tentu saja jawabannya tidak, katanya kalau dibius total, masa recovery-nya akan semakin lama. Ya Tuhan, kali itu aku benaran panik.
Aku belum pernah mengalami sakit apalagi tindakan medis serius seperti operasi. Sakit paling berat yang pernah kualami dan membuatku harus rawat inap di rumah sakit adalah typus. Itupun kejadiannya sudah lama sekali. Jadi menghadapi operasi dalam keadaan sadar, kesakitan dan tanpa suami di sisiku, rasanya tidak bisa lagi kujelaskan dengan kata-kata. Tapi satu hal, aku tidak merasa takut. Bahkan, ketika anestesi sudah mulai dilakukan, rasa panik yang sebelumnya sempat kurasakan, hilang. Aku gak bisa bilang, ditusuk tulang belakang itu gak sakit, tapi rasa sakitnya masih kalah jauh dengan sakit karena kontraksi yang masih terus kurasakan. Sekuat tenaga dan sekuat hati aku berusaha mengikuti, menikmati, menahan atau entah apalah namanya, rasa sakit dan perasaan ingin mengedan yang semakin kuat.
Entah kenapa pula, obat bius yang disuntikkan melalui tulang belakang itu tidak juga kunjung bisa masuk. Entah berapa kali aku ditusuk, tapi setelah semuanya usai suamiku memeriksa, katanya ada 13 lubang kecil bekas tusukan jarum di sana.
Setelahnya, semua berjalan cepat. Bayiku lahir, dan aku hanya mendengar para dokter dan tim medis berucap Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar. Kemudian dokter Teti, dokter kandunganku mengatakan kalau bayiku bule. Aku lemas, lelah, mengantuk, dan tak berdaya hanya mendengar tangisan bayiku yang dibawa entah kemana. Kemudian, suster membawanya ke dadaku dan membiarkannya menyusu. Sebelumnya, seperti kelahiran Bimasakti dan Moses, aku sudah berencana IMD, tapi kali ini IMD-nya gak sempurna. Tak apalah, yang penting bayiku lahir selamat.
Selesai operasi, di ruang pemulihan, suamiku diizinkan menemaniku. Dia datang dengan mata merah, meminta maaf karena sempat meragukan instingku sebagai seorang ibu. Katanya, aku memang tidak mungkin melahirkan normal. Meskipun kepala bayi di bawah, tapi wajahnya mendongak sehingga tidak bisa masuk ke jalan lahir. Saat itu aku masih belum sanggup mencerna semuanya. Aku hanya mampu bersyukur, bisa melewati semuanya dan memilih operasi caesar. Memang biaya persalinan dan perawatanku membengkak dua kali lipat, memang aku mengalami sakit yang berlipat-lipat, sakit karena kontraksi dan sakit setelah operasi, tapi pilihan di saat terakhir telah menyelamatkan nyawaku dan bayiku.
Terima kasih Tuhan untuk pertolonganMu. Terima kasih suamiku untuk keikhlasan dan kesabaranmu mendampingi aku. Terima kasih Ibu untuk doa-doamu. Terima kasih anak-anakku untuk pengertian kalian ditinggalkan aku selama berhari-hari di rumah dan saling menjaga satu sama lain. Terima kasih keluarga, sahabat, untuk perhatian dan doa kalian. Teman-teman blogger dan dunia maya, yang sapaan, doa, dan komentar-komentar kalian yang tidak bisa kubalas satu persatu. Bayi kecil kami, lewat perjuangan dan kisahnya sendiri, kini telah hadir di tengah keluarga kami.


