AKU DAN JEJAKUBIKEL

Seperti pena yang memilih kertas untuk berbagi tinta.
Seperti kata yang membutuhkan rangkai aksara untuk memiliki makna.
Seperti kalimat yang mencari rangkaian kata sehingga makna tak sekedar saja.
Seperti paragraf dengan kalimat yang tepat untuk sebuah cerita.
Pun sebuah cerita membutuhkan kubikel untuk kenangan yang sempurna.

-------------------------------------------

Seorang melankolik romantis yang selalu menuangkan segala rasa dalam aksara.
Ya, itulah aku..
Teman di masa lalu mengenali aku sebagai pencinta Bunga Kecil dalam puisi-puisiku.
Kalau kau membaca catatan pembuka, kau akan tahu Bunga kecil bisa saja aku, kamu dia atau mereka.
Sebagai caraku mengenali cinta.

Bunga Kecil tak pernah malu.
Ketika banyak mata menelanjangi setiap rangkaian aksaranya.
Siapapun boleh memberikan arti berbeda.
Aku dan Bunga kecil hanya tertawa.
Indah, bagus, buruk, jelek bukan ukuranku.
Hatiku lega, rasa telah menjadi kata.
Hilang beban di dada, itu sudah cukup bagiku.

Tapi hidup tak selamanya indah, ternyata.
Seperti cerita yang tak selalu berakhir bahagia.
Duka dan amarah membuat aku dan Bunga Kecil seperti asing yang tersesat.
Cinta tak lagi sederhana.
Rasa tak menemukan bentuknya.
Menjadi karang yang bikin sesak nafas dan panas mata.

Dua tahun tersesat dalam labirin resah,
Awal 2010 aku dan Bunga kecil kembali menemukan jiwa.
Saat yang sama sebuah nama muncul di linimasa.

Jejakubikel.
Kukenal dari seorang Andiana.
Aku sering ke sana, sekedar membaca.
Sekali dua pernah komentar sepertinya.
Aku lupa…
Ingatan memang bukan teman terbaikku.
Tapi hey..
Nama kurcaciku pernah dipinjam An An dalam tulisannya.
Istana Sang Rajawali, 3 Desember 2010.
02 Desember Dongeng, 033 Rumah, A Cerita Anak, Cerita-cerita.
Benar kan, An?

Hari baru, tema baru.
Diam-diam mengintip macam kisah di sana.
Tak setiap hari memang,
Sesempatnya saja.

Bunga kecil tak lagi ingin sembunyi.
Belahan cinta mulai kubagi tentang setiap gairah dalam aksara.
“Ayo menulis,” katanya.
“Bunga Kecil tak berarti apa-apa bila kau simpan sendiri.”

Ah, aku malu.
Sudah terlalu lama labirin resah mengurung aku dan Bunga kecil.
“Biarkan aku bercumbu sendiri dulu,”kataku.

Tapi Bunga Kecil rupanya memang tak ingin lagi sembunyi.
Setiap kutahan dia dalam ruang rahasia, kepalaku sakit, dadaku berat.
Aku butuh fiksi.
Yang bisa membebaskan keliaran yang berkelana dalam pikiranku.
Tapi aku tak berani..
Aku newbie, tak ada keahlian dan pengalaman.

Jejakubikel.
Aku ingat sekali lagi.
Disebutkan akan kau temui surga kecil untuk aksaramu.
“Masuklah ke sana dan bebaskan dirimu.”
Belahan cinta yang sangat pengertian, bukan?

5 Juni 2011.
Jejakubikel memberi kunci rahasianya untukku.

Dan 6 Juni 2011
Fiksi pertamaku.

Masih sebentar memang..
Setidaknya untuk merasakan jatuh cinta .
Tapi aku merasakan nyaman..

Pun sebuah cerita membutuhkan kubikel untuk kenangan yang sempurna

Sepertinya aku telah menemukan tempatnya.

*teruntuk Daniel, Rendra dan Mumu, terimakasih telah mengijinkan aku memasuki kubikelmu*


No comments:

Post a Comment

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)