ANAK RANTAU (Tentang Bapa bagian 4)

“Kau ikut saja dengan kami ke Jawa. Menjadi tentara hidupmu akan lebih baik daripada tinggal di dusun kecil ini.” Ajakan Komandan Seto siang tadi masing terus terngiang di telingaku. Aku memang sudah bosan tinggal di sini. Kurang tantangan! Terlalu sepi dan sunyi untuk aku yang merindukan petualangan.

***

“Untuk apa kau menjadi tentara, Sul?” Bapa langsung menolak permintaanku untuk menjadi tentara dan pergi ke Jawa bersama Komandan Seto. “Lebih baik kau sekolah yang tinggi dan urusi perkebunan karet kita. Adik-adikmu masih kecil sementara aku dan Emakmu sebentar lagi mati,” tegas Bapa lagi.

***

Aku anak keempat dari sepuluh bersaudara. Tapi enam saudaraku meninggal dan aku menjadi yang tertua di antara yang masih hidup. Kami tinggal di sebuah kampung kecil di pedalaman Sumatera Selatan. Bapa dan Emak memiliki perkebunan karet yang cukup luas. Dari sanalah mereka membiayai hidup kami sehari-hari. Sebagai anak tertua, Bapa dan Emak menaruh harapan besar untukku. Mereka bekerja keras mengumpulkan uang untuk menyekolahkan aku dan adik-adikku.

Emak bilang aku berbeda. Aku pintar tapi sangat keras kepala. Ya, memang kemauanku keras. Aku tidak akan meyerah sebelum keinginanku tercapai. Dan kampung ini sepertinya tidak bisa lagi menghilangkan keingintahuanku tentang banyak hal.

Beberapa bulan yang lalu, aku berkenalan dengan Komandan Seto, pemimpin pasukan tentara yang sedang bertugas di kampung ini. Komandan Seto bilang dia kagum dengan kecerdasanku dan menurutnya aku memiliki kualitas untuk menjadi seorang tentara. Dia juga banyak bercerita tentang pulau Jawa yang selama ini aku ketahui dari pelajaran di sekolah. Dia bilang semua impianku akan lebih mudah tercapai kalau aku pindah ke sana. Ah, tentu saja aku mau. Aku bosan di sini. Sepanjang yang aku lihat hanyalah ladang dan perkebunan karet. Aku tidak ingin menjadi petani seperti Bapa. Aku tahu aku bisa lebih baik dari itu.

***

“Aku pamit, Pak, Mak. Aku akan baik-baik saja di Jawa. Bapa dan Emak tidak perlu khawatir. Aku bisa menjaga diriku dan aku akan tetap melanjutkan sekolahku seperti keinginan Bapa, “kataku kepada Bapa dan Emak. Aku sudah membulatkan tekad untuk memenuhi ajakan Komandan Seto. Bapa marah sementara Emak hanya bisa menangis.

***

“Kalau aku meninggal nanti, aku ingin dikuburkan di sini. Jangan bawa aku pulang ke Palembang. “
(Pesan terakhir Bapa kepada Ibu yang diucapkannya sebelum koma)
*merangkai kisah di Jejakubikel, 01 November menulis, Circle of Life, 005 Usia Dewasa*

No comments:

Post a Comment

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)