DAN, BAPA PUN PULANG DALAM DAMAI (Tentang Bapa bagian 1)

Minggu, 19 Desember 2010 pk. 05.00 WIB.

Aku bersiap-siap pulang ke Jakarta. Sudah 4 hari kami, aku dan suami dan anak-anak, juga saudara-saudara ku yang lain menginap di sini, di rumah tempat kami semua dilahirkan. Selasa pagi, 14 Desember 2010, Ibu menelpon kami semua, meminta kami datang. Beritanya singkat saja, "Pulanglah, Nak. Saat terakhir Bapa sepertinya sudah tiba." Maka datanglah kami semua..

Sejak kemarin, kami berinisiatif memberikan infus untuk Bapa yang sedang koma. Ini adalah upaya "medis" terakhir dari kami. Dokter pun sudah menyerah sejak berminggu sebelumnya. Dan aku, yang selama ini selalu tidak tega menemani sakitnya Bapa, justru di hari-hari terakhir harus memaksakan diri mendampingi Bapa dan juga Ibu. Adik dan Kakak-kakakku tidak berdaya didera rasa tidak tega melihat Ibu yang berupaya tegar.

Jam 3 pagi tadi aku bangun, mengecek infus-an nya Bapa. Ku halau galau dihati, mendapati cairan infus yang berkurang sangat sedikit. Lalu kuhampiri Ibu, pamit, "Bu, Sary pulang dulu ya, mau lihat binatang dan ambil raport anak-anak. Nanti balik lagi kesini."

"Semalaman Bapa menangis terus, Teh. Banyak sekali air matanya." Kulihat kegalauan juga hadir di wajah lelah Ibu. Aku diam dan berlalu ke kamar Bapa. Aku panggil namanya. "Bapa..." Dari dekat kulihat mata yang tertutup rapat itu memerah kelopaknya dan air mata keluar dari sudutnya. Aku tercekat, tak mampu bicara. Kupeluk dan ku cium berulangkali wajah tuanya. Suami dan anak-anakku masuk, satu persatu pamit dan mencium Kakek mereka. Kakak dan adikku ikut berpamitan. Semua punya urusan yang harus diselesaikan, sebelum kembali ke rumah masa kecil kami.

***

Minggu siang, 19 Desember 2010, pk. 12.25 WIB.

Akhirnya selesai semua pekerjaanku. Sampai di rumah pukul 8 pagi, aku dan suamiku langsung menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing. Aku lihat suamiku juga kelelahan, dia sudah tertidur sejak setengah jam yang lalu. Rencananya pergi mencari pesanan untuk seorang pelanggan toko, di batalkannya.

Baru saja punggungku menyentuh kasur, handphoneku berdering. Nomor Ibu....

***

Minggu sore, 19 Desember 2010, pk. 17.00 WIB.

Di Ciawi, sedang menunggu jalur menuju Puncak di buka kembali. Berturut-turut antrian mobil ke belakang, tanpa ada janji, mobil Kakak-kakakku dan adikku.

***

Minggu malam, 19 Desember 2010, pk. 21.30 WIB.

Turun dari mobil, memasuki ruang tamu rumah masa kecilku, di sanalah.. di sudut itu, terbaring dalam pakaian terakhirnya. Sudah rapi, sudah bersih, sudah suci... Teringat ciuman terakhir subuh tadi untuk Bapa ku..

***

Senin pagi, 20 Desember 2010, pk. 08.00 WIB.

Hujan gerimis sebentar, menyambut doa kami di mesjid tadi. Dalam diam kami semua mengantar Bapa ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Bapa..
Selamat jalan..
Berakhir sudah semua sakit dan deritamu..
Dan kau pun pulang dalam damai..

We..
I will always love you..



*merangkai kisah di Jejakubikel, 01 November menulis, Circle of life, 008 Kematian*


No comments:

Post a Comment

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)