DUA PERMINTAAN (Tentang Bapa bagian 2)

“Hallo?”
“Nak, Bapa mau bicara. Bersuara yang keras ya, supaya Bapa bisa dengar,” kata Ibu di ujung telepon.

“Hallo, Bapa?”
Air mataku mengalir sementara Bapa terbata-bata dengan suara nyaris tak dapat kumengerti, memintaku untuk pulang. “Bapa kangen, Nak,” katanya sambil terisak.

***

Lantunan lagu Mencintaimu di radio mobil menemani perjalanan kami ke puncak siang itu. Baru seminggu yang lalu aku dari sana. Ini karena permintaan Bapa tadi malam. Biasanya kami menjadwalkan menengok Bapa dan Ibu setiap dua minggu sekali.

Mencintaimu..
Seumur hidupku..

Tiba-tiba aku sangat merindukannya. Lelaki tua yang darahnya mengalir di tubuhku. Bapaku. Dua tahun terakhir ini penyakit Bapa semakin parah. Bolak-balik masuk rumah sakit tidak ada hasil. Tiga bulan yang lalu, Bapa minta dibawa ke Jakarta. “Aku mau sembuh, bawa aku ke rumah sakit besar di Jakarta,” katanya. Kami anak-anaknya mengabulkan permintaannya. Apa yang tidak sih buat Bapa?

Bukannya membaik, kondisi Bapa malah memburuk. Dirawat di ruang intensif jantung, Bapa malah makin melemah. Stres! Tidak bisa berpisah jauh dari Ibu. Stres! Tinggal di Jakarta.

“Kenapa menangis?” tanya suamiku dengan lembut. “Aku ingat Bapa,” ucapku pelan. “Iya, ini kan kita mau kesana, sabar ya.” Entahlah. Bapa belum pernah meminta apapun dariku, apalagi sampai menangis. Sampai malam tadi.

***

“Kenapa sore sekali baru sampai, Nak?” Ibu menyambutku. Wajahnya lelah. Sangat.
“Hari Sabtu kan, Bu. Macet,” jawabku.
“Ayo cepat ganti baju, kita makan bersama. Bapa belum makan dari pagi. Sejak subuh sudah menanyakan kamu terus. Mau makan bersama kalian katanya,” kata Ibu lagi.
“Iya, Bu.”
Aku menangis lagi.


Kuamati sosok tua yang ringkih itu. Mengangkat badannya pun sudah tak sanggup. Ibu dan suamiku harus membopongnya dari kamar ke ruang tamu. “Aku mau makan lesehan,” katanya. Sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. Kami, anak-anaknya, harus selalu makan di meja makan. Mataku sudah panas. Tapi kutahan. Aku tidak ingin menangis saat Bapa mengabaikan rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya.

Dalam diam kutemani Bapa makan. Semangatnya masih tinggi, melayani aku, suamiku dan cucu-cucunya. Semua yang terhidang adalah makanan kesukaanku, suamiku dan anak-anak. Kata Ibu itu juga atas permintaan Bapa. Mataku panas lagi.

***

Jam tiga pagi.

Kudengar suara Ibu memanggil-manggil aku dari kamarnya. “Duduk dekat Bapa, nak. Ginjalnya sedang kumat. Bapa minta ditemani kamu.” Aaah tidak…! Inilah yang tidak kuinginkan. Melihat orang-orang tercintaku mengalami kesakitan. Bapa memelukku erat setiap rasa sakit datang menyerang. Lima belas menit yang sangat panjang, demi permintaan Bapa yang kedua dan terakhir, sebelum dia berpulang dua minggu kemudian.

*merangkai kisah di Jejakubikel, 01 November menulis, Circle of life, 007 Usia Senja*

No comments

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)