SURAT DARI PAPA

Air mataku belum lagi kering ketika bi Imah menghampiriku dan menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat.

“Ini dari almarhum papa untuk non Windy.”

“Simpan di dalam laciku saja, bi!”

Aku tak ingin diganggu saat ini.
Kepalaku sakit. Tanah di pekuburan papa masih merah, tapi mas Anto dan Billy sudah ribut soal warisan. Padahal sejak papa sakit mereka tidak sekalipun datang menjenguk.

***

“Aku sudah ambil keputusan. Aku tidak akan mengambil bagian dari warisan papa untuk kita,” kataku ketika mas Anto dan Billy mengajakku bicara tentang warisan almarhum mama dan papa.
Honor menulis akan cukup untukku.

***

Kubuka amplop coklat pemberian bi Imah. Sebuah pena dan secarik kertas. Tulisan papa.
Teruslah menulis anakku. Wujudkan mimpimu.

*merangkai kisah di Jejakubikel, 02 Desember Dongeng, B 111 Kata Desember, 047 Secarik Kertas dan Sebuah Pena*

No comments

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)