ISTRI DIREKTUR

Ada yang berubah dari sikap Alice belakangan ini. Jadi lebih menyebalkan tepatnya.

“Ya ampun, gak tahu ya kalau aku sedang sibuk? Dari tadi ponsel ini bunyi terus.” Sambil menggerutu Alice mengeluarkan Blackberry barunya dari dalam tas. Kemudian dengan gaya angkuh, mungkin juga pamer, dia menunjukkan isi pesan yang baru diterimanya.

“Coba dengar,” katanya. “Bu Irawan, terimakasih ya untuk pemberian baju-bajunya kemarin, masih bagus-bagus semua. Oya, bu maaf saya mau bertanya, Ibu pakai sabun cuci dan pelembut pakaian merek apa ya? Soalnya wanginya saya suka, lembut.”

“Apa-apaan ini,” kata Alice berang. “Berani-beraninya ada yang kirim pesan seperti ini sama ibu direktur? Gak tahu apa ya, kalau suamiku itu sudah diangkat jadi direktur? Masa bertanya soal sabun cuci kepada ibu direktur?”

Ya Tuhan, aku sudah muak. Padahal dulu Alice selalu senang kalau ada istri rekan kerja Irawan yang minta saran soal urusan rumah tangga. Alice memang ibu rumah tangga ideal, jago masak, ibu hebat, istri yang luar biasa. Tapi itu dulu. Sebelum Irawan pindah kerja ke Jakarta dan diangkat menjadi direktur keuangan.

Beberapa hari yang lalu, aku menerima pesan singkat dari Alice. Isinya tentang dia yang berencana melakukan operasi plastik untuk mempercantik penampilannya. Lengkap dengan bagian-bagian mana saja yang ingin dia permak, dokter, biaya dan lain sebagainya, yang tidak lagi merupakan pesan singkat untukku. “Sekalian, Mel, mumpung mas Irawan sedang dirawat di rumah sakit, aku bisa ikutan numpang biayanya,” katanya.

Tidak hanya itu, perbincangan kami tidak lagi menyenangkan. Kalau dulu yang menjadi inti pembicaraan kami tentang anak-anak, sekarang semua tentang Alice, Alice dan Alice. Alice yang takut tua, Alice yang belajar tarian telanjang demi menyenangkan Irawan di kamar, Alice yang ingin operasi keperawanan. “Perempuan Jakarta kejam, Mel,” jawab Alice ketika aku bertanya alasan dia melakukan semua itu. “Satu-satunya cara supaya mas Irawan tidak selingkuh adalah aku mempercantik diriku dan memuaskan dia di tempat tidur. Aku takut jadi tua dan ditinggalkan,” katanya lagi. Aku diam. Alice yang sekarang bukan lagi Alice sahabatku yang aku kenal sejak bangku kuliah dulu.

***

Surat kabar dan televisi sedang heboh dengan pemberitaan tentang pemecatan seorang direktur keuangan sebuah perusahaan BUMN berinisial I. Tuduhannya korupsi. Dan istrinya diduga ikut terlibat, memanipulasi pembayaran cek rumah sakit suaminya untuk kepentingan pribadi.

*merangkai kisah di Jejakubikel, 09 Jobless July, A Profesi, 242 Direktur*

No comments:

Post a Comment

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)