JAGOAN CILIK(Tentang Bapa bagian 6)

Semua orang di Linggau ini tahu siapa Syamsu. Anak kesayangan saudagar Marasip dan Nurhani. Anak yang sangat diharap-harapkan setelah ketiga anak mereka sebelumnya meninggal dunia.

Syamsu tumbuh dalam limpahan kasih sayang dan kemewahan harta dari kedua orangtuanya. Mereka bekerja keras demi sekolah Syamsu. Kebanyakan orangtua di kampung Linggau ini tidak memikirkan sekolah untuk anak-anak mereka. Tapi Marasip dan Nurhani berbeda. Mereka ingin kelak Syamsu menjadi orang pintar dan bisa meneruskan usaha perniagaan dan perkebunan karet keluarga.

Di sekolah, Syamsu termasuk anak yang cerdas. Murid paling pintar malah. Guru-guru selalu dibuat kagum dengan kepintarannya. Dia sangat mandiri meski dimanja kedua orangtuanya. Padahal usianya baru sepuluh tahun.

“Mak, aku mau ke kebun, mau ambil durian.”

“Biar Bapa saja, Sul. Kau istirahatlah dulu di rumah. Nanti Emak bilang Bapa ambil durian banyak-banyak untuk kau ya?” bujuk Nurhani kepada anaknya.

“Tak mau, Mak. Aku mau ambil sendiri.”

***

“Anak ibu sangat pintar. Kemauannya juga keras. Sayangnya dia pemarah, Bu. Hampir setiap hari ada teman yang dipukulnya.Kemarin Yunus dilemparnya pakai kulit durian.”

Siang itu Nurhani datang ke sekolah memenuhi undangan guru Fatimah. Kemarin Syamsu berkelahi dengan seorang temannya. Hanya karena hal sepele. Temannya itu lupa membawa buku Syamsu yang dipinjamnya. Syamsu marah karena si teman sudah tiga kali tidak menepati janji. Buat Syamsu, janji adalah hutang.

“Maafkan saya, Cik Gu. Memang Syamsu itu keras sekali adatnya. Nanti saya nasehati dia di rumah.”

***

“Sul, duduk sini, Nak, Emak mau bicara.”

“Kau berkelahi lagi di sekolah? Tak apa bila kau marah, Nak, tapi tahanlah jangan sampai kau sakiti anak orang. Kasihan dia.”

“Ah, badan dia lebih besar dari aku, Mak. Lagipula salahnya sendiri ingkar janji. Aku tak suka dengan orang pembohong,” balas Syamsu dengan keras.

“Emak mengerti. Tapi tidak patut menyakiti orang. Besok, datanglah menghadap gurumu. Minta maaf, juga kepada temanmu.”

“Baik, Mak.”

Hatinya kesal pada guru Fatimah yang sudah mengadu kepada Emak. “Besok kubalas dia,” katanya dalam hati.

Syamsu tahu guru Fatimah sayang sekali kepadanya. Apapun yang dilakukannya besok, pasti dia tidak akan dimarahi. Paling-paling Emak yang dipanggil lagi.

***

“Selamat pagi, Cik Gu. Saya datang mau minta maaf.”

Seperti biasa guru Fatimah akan mengelus rambutnya dan memeluk Syamsu. “Tidak apa-apa. Jangan kau ulangi lagi ya, Nak. Mintalah maaf juga kepada Yunus.”

Tiba-tiba Syamsu mengangkat kain rok guru Fatimah dan memasukkan kepalanya di antara dua lutut gurunya itu. Fatimah yang terkejut tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan jatuh terduduk.

Sambil tersenyum Syamsu berkata, ”Jangan sering-sering memelukku, Cik Gu, aku tak suka.” Lalu dia menghampiri Yunus yang juga ada di situ dan mengulurkan tangannya,” Maafkan aku. Mana bukuku?”

*merangkai kisah di Jejakubikel, 01 November menulis, Circle of Life, 003 Bocah*

No comments:

Post a Comment

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)