Kancing Emas (Tentang Bapa bagian 5)

“Sul, ini baju barumu. Pakailah besok ke sekolah. Emak sendiri yang menjahitnya untukmu,” kata Emak sambil menyerahkan sebuah kemeja putih lengan pendek ke tanganku.

“Bajuku masih bagus, Mak. Dan kenapa pula kancingnya warna kuning begini, Mak? Bisa jadi bahan tertawaan nanti aku di sekolah. Ganti sajalah dengan yang warna putih seperti baju lamaku.” Aku berlalu sambil menggerutu.

Bapa yang sedang duduk di dipan kayu memanggilku, “Sul, kemari sebentar, Nak.” Enggan, aku berjalan menghampiri Bapa dan duduk di sebelahnya. Tangan Bapa mengelus rambutku. “Jangan begitu sama Emakmu, Sul. Kasihan Emak. Kau tahu kan, kau itu anak kesayangannya. Setelah tiga kakakmu meninggal, kau jadi anak yang sangat kami harapkan. Baik-baiklah berkata pada Emakmu.”

Aku diam.

“Aku sudah besar, Pa, tapi Emak masih saja memperlakukan aku seperti anak kecil,” kataku lirih. Contohnya baju ini. Kenapa harus kancing begini yang Emak pilih. Aku kan malu sama teman-temanku. Kalau aku masih kecil tak apa aku pakai baju berkancing model begitu.”

Bapa mengelus rambutku lagi. “Coba kau perhatikan, Sul, kancing itu bukan kancing biasa. Emak memesan khusus kancing itu ke Pak Tuo-mu. Jauh-jauh Emak berjalan ke Hilir tempo hari hanya untuk mengambil kancing-kancing itu.”

Aku diam, lagi.

***

Siang yang terik. Aku menghempaskan tubuhku di dipan kayu Bapa. Hatiku panas, kepala rasanya mau pecah. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, aku jadi bahan ejekan teman-teman di sekolah gara-gara kancing kuning sialan ini. Belum puas rasanya aku memukul si mulut besar Amri. Kalau saja tadi Cik Guru tidak datang, sudah habis dia kupukuli.

“Mak, ganti saja kancing bajuku ini ya? Biarlah kancing biasa saja. Nanti hilang, rugilah Emak,” kataku berusaha membujuk Emak. “Ambilkan kacamata dan alat jahit ku, Sul.”

Dengan cekatan Emak mengganti kancing-kancing bajuku. Raut wajahnya biasa saja, tidak ada tanda-tanda kecewa atau marah. Aku jadi merasa bersalah.

“Nah, selasai!” kata Emak memutus lamunanku. “Kalau kau tak mau Emak rugi, simpan baik-baik kancing ini. Kau tahu itu sangat berharga. Suatu saat kau membutuhkan uang, kau bisa menukarnya. Berjanjilah, Nak.”

“Baik, Mak. Aku berjanji.”

***

Setelah lebih dari 50 tahun, kancing-kancing emas itu berubah menjadi rumah masa kecilku.

Ya, Bapa menepati janjinya kepada Nenek.

*merangkai kisah di Jejakubikel, 01 November menulis, Circle of Life, 004 Remaja*

No comments:

Post a Comment

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)