PEREMPUAN BERSAYAP MALAIKAT

From a song by Robbie Williams, Angels.

I sit and wait
does an angel contemplate my fate
and do they know
the places where we go
when we´re grey and old
´cos I´ve been told
that salvation lets their wings unfold
so when I’m lying in my bed
thoughts running through my head
and I feel that love is dead
I’m loving angels instead

and through it all she offers me protection
a lot of love and affection
whether I’m right or wrong
and down the waterfall
wherever it may take me
I know that life wont break me
when I come to call she wont forsake me
I’m loving angels instead

when I’m feeling weak
and my pain walks down a one way street
I look above
and I know ill always be blessed with love
and as the feeling grows
she breathes flesh to my bones
and when love is dead
I’m loving angels instead

and through it all she offers me protection
a lot of love and affection
whether I’m right or wrong
and down the waterfall
wherever it may take me
I know that life wont break me
when I come to call she wont forsake me
I’m loving angels instead

***


“Aku ingin menangis.”

“Menangislah.”

“Jangan bicara.”

“Aku akan diam saja.”

“Jangan bertanya.”

“Aku tak ingin tau.”

***

Dia menari dengan tangannya.
Hingga fajar berhandai gelita.
Demi sesatkan nyeri di setiap nafas dan aliran darah.
Menyulam senyum di antara warna-warni puntalan benang.
Mengidungkan cinta di atas kain bergambar perempuan bersayap malaikat.

***

“Aku ingin menangis lagi,” kataku senja itu.
“Jangan,” katanya.
Dia yang dikenang sebagai pemilik suara indah.
Sekarang tak banyak bicara.
Setiap hela nafas adalah perjuangan akan nyeri yang tak ada akhir.

“Tubuhku hanya mengenal rasa sakit. Menangis pun tetap sakit. Maka aku memilih untuk tersenyum. Agar kalian mengingatku dengan bahagia.”

“Maka jangan menangis lagi. Cukup sekali,” katanya lagi.

Tangannya masih terus menari merinaikan kidung di atas kain bergambar perempuan bersayap malaikat.

Airmataku pupus diam-diam.

***

Pagi masih terlalu indah untuk sebuah perpisahan.

“Aku mau liburan. Malaikatku sudah menungguku.”
“Kalau kau pergi, siapa menjagaku?”

“Sayapku adalah penjagamu.”

“Selamat jalan.”

Dia tersenyum. “Jangan menangis.”

Airmataku pupus diam-diam.

***

Pagi yang dingin, 25 Oktober 2011, 07.48 WIB.
Teruntuk Tanthi di surga, kenangan tentangmu masih lekat di sudut kamarku.
Kain bersulam perempuan bersayap malaikat.

*merangkai kisah di Jejakubikel, tema 10 August Agony, A Medical, 279 Kanker*

2 comments:

  1. daleeemmm banget isinya, mbak, sangat menyentuh...

    ReplyDelete
  2. terimakasih sudah berkunjung dan membaca, vera :)

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)