SUARA-SUARA PENCABUT NYAWA


From a song by Robbie Williams, Feels.

Come on hold my hand,
I wanna contact the living.
Not sure I understand,
This role I’ve been given.

I sit and talk to god
And he just laughs at my plans,
My head speaks a language, I don’t understand.

(chorus)
I just wanna feel real love,
Feel the home that I live in.
’cause I got too much life,
Running through my veins, going to waste.

I don’t wanna die,
But I ain’t keen on living either.
Before I fall in love,
I’m preparing to leave her.
I scare myself to death,
That’s why I keep on running.
Before I’ve arrived, I can see myself coming.

(chorus)
I just wanna feel real love,
Feel the home that I live in.
’cause I got too much life,
Running through my veins, going to waste.

And I need to feel, real love
And a life ever after.
I cannot get enough.

(instrumental)

(chorus)
I just wanna feel real love,
Feel the home that I live in,
I got too much love,
Running through my veins, going to waste.

I just wanna feel real love,
In a life ever after
There’s a hole in my soul,
You can see it in my face, it’s a real big place.

(instrumental)

Come and hold my hand,
I wanna contact the living,
Not sure I understand,
This role I’ve been given

Not sure I understand.
Not sure I understand.
Not sure I understand.
Not sure I understand.


Satu teriakan panjang membelah kesunyian malam.
Satu nyawa hilang dalam satu kilatan.

Lelaki bersama lima bayangan.
Berjalan pulang dengan kapak di tangan.
Lega tersenyum lebar.
Tugasnya malam ini telah kelar.

***

Lelaki tergugu di sudut-sudut kegelisahan.
Menutup pendengaran dari suara yang tak kunjung hilang.
Lima suara, lima bayangan, satu laki-laki.
Bergulat menentukan siapa yang berkuasa kali ini.

“Ini yang terakhir.” Suara satu menggoda dengan janji.
“Ayolah segera pergi.” Suara lima ikut bernyanyi.
“Setelah ini kami pergi.” Suara tiga merayu ngeri.
“Cepat! Waktumu tak lama lagi.” Suara dua dan suara empat memberi harga mati.
Lelaki kalah lagi.

Purnama belum datang.
Lelaki mengendap sunyi bersama gamang.
“Itu dia. Itu dia. Pembayaranmu malam ini.”
Lima suara kegirangan mendesak tiada henti.

Satu lagi teriakan panjang di hening kelam.
Satu lagi nyawa hilang dalam satu tebasan.
Lelaki berkapak pulang bersama lima bayangan.
Hati riang janji terakhir sudah khatam.

***

“Biarkan aku hidup normal.”
Mata lelaki nanar menyapu kosongnya ruang.
Kepala-kepala tanpa kulit dan mata balas menatap kejam.

“Hahaha pembayaranmu belum usai.”
Lima suara tergelak bernafsu kemenangan.

“Sudah sewindu sejak nyawa ketigabelas. ”
Lelaki meratap meminta belas.
“Hutangku harusnya sudah lunas.”

Dari penjuru kekosongan pikiran.
Lima suara merebut sarang kekuasaan.
Kata mereka dia yang jiwanya sengsara.
Tak kan bebas selama mereka ada.

Lelaki sudah payah.
Diri hilang dalam bayang semu yang mewujud nyata.
Dayanya hanya segapaian si kapak darah.
“Bayaran tuntas dengan aku si pemilik setia.”

***

Ramai terdengar kasak-kusuk di penjuru kota.
Kali ini kepala ada beserta senjata. 

*merangkai kisah di Jejakubikel, tema 10 AUGUST AGONY, C Psycho, 292 Schizophrenia*

No comments:

Post a Comment

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)