TILL DEATH DO US PART



* Inspired From a song by Dewa 19, Cemburu

***


Udara siang ini sepertinya tidak mampu mengalahkan panas di dalam kepala dan hatiku. Rasanya sudah hampir meledak. Sudah satu jam sejak SMS pertama dikirim, Intan belum juga membalas.

“Aku ingin bertemu. Tempat biasa. ILU.” 

Apa susahnya membalas pesan, sih? Tidak biasanya Intan begini. Biasanya dia langsung membalas SMS atau menjawab telponku. Kali ini aku memilih untuk tidak menelponnya. Aku takut terbawa emosi, bertengkar di telpon dan akhirnya masalah di antara kami tidak selesai. Aku memilih bertemu langsung dengan Intan.

***

Pertama kali berkenalan dengan Intan, aku sudah tahu bahwa kami mempunyai banyak kecocokan. Kami sama-sama menjadi siswa baru di SMA Angkasa dan ternyata mendapat kelas yang sama. Benar saja, kami langsung dekat dan menjadi sahabat, setidaknya sampai 6 bulan yang lalu, ketika persahabatan kami mengarah ke hal yang lain.

Sejak kecil aku selalu mengalami kesulitan berteman dengan orang lain. Entahlah, sepertinya tidak ada orang yang cocok menjadi temanku. Aku terlalu lembut untuk bergaul dengan laki-laki tapi terlalu kasar untuk berteman dengan perempuan. Intan berbeda. Dia selalu bisa mengerti aku. Dia seperti belahan jiwaku yang lain, selalu bisa mengisi kekosongan yang sering aku rasakan. Intan sering membiarkan aku menangis di pelukannya ketika aku sudah putus asa dengan masalahku tapi dia juga membiarkan aku menjaganya ketika banyak lelaki mencoba menyakitinya.

Pacar? Aku tidak punya pacar. Belum pernah punya pacar. Siapa sih yang tertarik denganku? Gadis tomboi yang tidak pernah rapi, jarang tersenyum, ketus dan galak. Intan? Jangan ditanya. Sejak kelas 1 pun, sudah tak terhitung berapa banyak laki-laki yang antri ingin jadi pacarnya.

“Aku tidak ingin pacaran, Sha,” kata Intan waktu kutanya kenapa dia menolak Bobby, cowok paling ganteng di sekolah kami. Intan tidak pernah mau menjelaskan alasannya. Palingan dia menarik tanganku ke kantin dan mentraktirku mie ayam supaya aku tidak ribut lagi bertanya tentang alasan dia tidak ingin memiliki pacar.

Begitulah, sampai kami menyadari ada rasa lain yang hadir dalam persahabatan kami. Cinta. Tak wajar tapi rasanya begitu normal untuk kami. Hari-hari selanjutnya jadi makin indah. Makanya aku tak mengerti ketika suatu hari Intan memutuskan untuk menerima Bobby sebagai pacarnya.

“Kenapa?” tanyaku sambil menatap wajahnya lekat-lekat. “Bukankah kita sudah berjanji?”

“Bukan begitu, Ta,” kata Intan sambil terisak. “Aku sayang kamu tapi aku juga tidak bisa terus menerus menolak perhatian Bobby. Aku butuh seseorang yang nyata disampingku, Ta, yang bisa memelukku, menjagaku..”

“Aku bisa, Tan.. Bukankah selama ini aku melakukan semua itu untuk kamu? Masih kurang?” desakku.

“Tapi kita tak bisa melakukannya di depan umum, Ta. Aku tetap merasa sendirian karena cinta kita tak mungkin… Aaaah, kamu mengerti kan?”

“Tidak! Aku tidak mengerti!” kataku keras sambil berlari menjauhinya. Mataku panas.

“Gita…!”

Aku tak peduli dan terus berlari.

***

Sejak hari itu sekolah seolah menjadi neraka untukku. Menjadi saksi kemesraan Intan dan Bobby, buatku seperti menelan duri panas. Bobby hanya tahu kalau aku sahabat Intan. Dia tidak segan memeluk bahkan mencium pipi Intan di depanku. Walaupun setiap sore Intan selalu datang ke rumahku dan selalu meyakinkan aku kalau cintanya untukku lebih berarti dari pada hubungannya dengan Bobby, bayangan kemesraan mereka tidak bisa hilang dari pikiranku. Aku cemburu.

Tadi malam adalah pesta perpisahan anak-anak kelas 3 SMA Angkasa. Aku datang bersama Intan dan Bobby. Intan sangat cantik, memakai gaun terusan hijau tosca tanpa lengan. Warna kesukaanku. Tapi lengan Bobby yang merangkul pinggangnya, bukan lenganku.

Hingar bingar pesta tidak mampu membuatku gembira. Mataku tidak bisa lepas menatap tubuh indah Intan yang tak juga lepas dari pelukan Bobby. Mereka terus berdansa, berpelukan dan tertawa. Menjelang tengah malam, Bobby mencium bibir Intan, di depanku dan teman-teman kami. Yah, bukan Bobby namanya kalau tidak menjadi pusat perhatian. Perutku mual.

“Tan, aku pulang duluan, ya.”

Intan tampak salah tingkah. Mungkin dia sedang bahagia dan lupa akan kehadiranku.

“Emm, Bobby belum mau pulang, Ta. Kamu mau pulang naik taksi?”

“Iya, gak apa-apa,” kataku singkat.

“Aku temani, Ta.”

“Gak usah, kamu di sini aja temani Bobby.” Lidahku terasa pahit ketika mengucapkan itu. Dengan gerakan cepat Intan mencium pipiku. “Besok kutelpon,” katanya.

***

Aku menunggu telpon dari Intan sepanjang pagi tadi. Intan tidak kunjung menelponku. Akhirnya aku yang berinisiatif mengirimkan SMS kepadanya, minta bertemu.

Bip..bip..
SMS dari Intan..
“Aku juga mau ketemu kamu. Ada hal penting yang aku mau omongin sama kamu. Tempat biasa, jam 4 sore. Tx.”

Tx? Tidak ada ILU di akhir SMSnya? Perasaanku langsung tidak enak. Pasti ada hubungannya dengan Bobby. Kulihat jam, sudah setengah empat. Dengan tergesa aku memakai celana jeans dan kemeja biru pemberian Intan. Kubuka laci meja belajarku dan mengambil pisau lipat hadiah ulang tahun dari Intan.
Baiklah, kalau memang aku dan Intan harus berpisah, maka hanya kematian yang boleh menjadi batas di antara aku dan dia.


No comments

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)