MEMILIH BAHAGIA

Pertengahan tahun 2008 mungkin merupakan salah satu masa terburuk dalam hidupku. Kehilangan semua impian dan harus mulai lagi dari nol. Pada saat itu semua jalan, bahkan untuk sedikit saja merasa bahagia, sepertinya tertutup. Aku kehilangan kepercayaan, pada Dia, yang aku tahu betul tidak pernah meninggalkan aku, pada keluargaku, bahkan pada diriku sendiri. Aku menutup mata terhadap semua karunia yang Tuhan hadirkan dalam hidupku karena aku membiarkan seluruh pikiran dan perasaanku dibelengggu oleh kesedihan dan keputus-asaan. Sampai suatu hari aku memutuskan untuk membaca sebuah buku hadiah dari suamiku yang dibelinya tanpa rencana di toko buku Gramedia.

Hari itu, suamiku berencana membeli buku-buku perawatan dan pemeliharaan untuk hewan peliharaan. Di sebuah rak buku, dia iseng mengambil sebuah buku karya Ronda Byrne dan membaca sinopsisnya. Katanya tiba-tiba saja dia merasa gemetar dan sangat antusias membacanya. Akhirnya dia membeli buku itu dan tidak sabar untuk memberikannya kepadaku.

“Baca! Kamu harus baca buku ini!”

Aku ingat betul bagaimana dia benar-benar memaksaku untuk membaca buku itu. Aku, yang sedang dirundung segala macam perasaan negatif, tentu saja hanya mengiyakan dengan malas-malasan setiap kali dia bertanya apakah aku sudah membacanya.

Jangankan membaca, pada waktu itu menulispun aku tidak bisa. Padahal biasanya aku bisa melepaskan seluruh ketegangan bahkan kebahagiaanku dengan menulis. Selama bertahun-tahun menulis membuatku bisa menjaga keseimbangan emosiku.

Jadi ketika akhirnya aku memutuskan membaca buku itu, bukan karena aku ingin berubah, tapi semata karena tidak tahan dengan paksaan suami tercintaku. Halaman satu, dua, tiga dan terus.. Buku itu menjebakku. Aku tidak bisa berhenti membaca. Aku terseret dalam kata-kata, kutipan-kutipan dan cerita-cerita sederhana dalam buku The Power.

***

"Life isn't happening to you, life is responding to you."
(The Power, by Ronda Byrne)

Satu celah kecil mulai terbuka di hatiku. Tentang kemungkinan untuk merasa bahagia (lagi). Tentang mimpi-mimpi yang masih bisa kuwujudkan (lagi). Butuh waktu beberapa hari untuk menenangkan semua gejolak perasaanku setelah membaca buku The Power ini, padahal aku belum membaca utuh keseluruhan isi bukunya.

***

"Many people don't know about the power of good feelings, and so their feelings are reactions or responses to what happens to them. They have put their feelings on automatic pilot, instead of deliberately taking charge of them."
(The Power, by Ronda Byrne)

Sekian lama aku merasa putus asa, sedih, marah dan berpikir keadaanlah yang membuatku mengalami perasaan-perasaan negatif itu. Aku tidak pernah berusaha mengendalikan perasaan negatif itu atau bahkan menghilangkannya dan mengubahnya ke level positif. Aku menyalahkan keadaan.

Tapi ternyata perasaan itu bisa kita kendalikan. Bisa kita atur. Bila kita berhasil mengatur perasaan seperti yang kita mau, keadaan-keadaan yang hadir dalam hidup kita selanjutnya akan berada di level yang sama, mempunyai energi yang sama. Cara yang paling sederhana adalah bersyukur. Bersyukur dengan ikhlas dan tulus menghadirkan rasa nyaman, pikiran pun menjadi tenang.

Sulitkah? Sulit banget! Apalagi untuk aku yang perasaan dan pikiran negatifnya sudah mulai membatu. Memulainya untuk pertama kali adalah perjuangan berat. Aku harus meniatkannya sejak dari membuka mata. Aku tidak akan turun dari tempat tidur sebelum berhasil menguasai rasa ngantuk dan malas di pagi hari. Aku harus mengalahkannya karena aku tidak ingin ada sedikit saja penyesalan karena kondisi tubuh dan perasaan tidak nyaman akibat bangun kepagian. Aku bahkan memaksa diriku di pagi hari untuk melihat dan merasakan sungguh-sungguh kebaikan-kebaikan yang Tuhan hadirkan dalam hidupku sampai perasaan dan pikiranku menjadi tenang dan nyaman. Sampai aku bisa melangkahkan kakiku ke kamar mandi dengan bersemangat karena tahu akan lebih banyak lagi kebaikan yang Tuhan berikan hari ini.

Hari pertama butuh waktu satu jam. Hari kedua berkurang lima menit, hari ketiga 30 menit. Sampai akhirnya aku hanya butuh waktu 5 menit setelah membuka mataku di pagi hari untuk menyadari betapa besar kasih Tuhan dalam hidupku dan melompat bangun ke kamar mandi, kemudian memulai kegiatan pertamaku tanpa sedikitpun merasa enggan dan mengantuk.

***

"Let go of the things you don't love about your childhood, and keep the things you love. Let go of the things you don't love about your adolescent and adult years, and keep the good things. Just keep the things you love about your whole life."
(The Power, by Ronda Byrne)

Aku memilih untuk melepas masa lalu yang menyakitkan. Dan memaafkannya. Aku menyisakan satu ruang di hidupku untuk kenangan-kenangan yang baik. Aku belajar menerima bahwa dari semua rasa sakit dan sedih, masih ada kebaikan yang aku dapatkan. Dan itulah yang aku ingat.

Rasanya luar biasa. Hidupku jadi jauh lebih tenang. Kalau sebelumnya ada penyesalan, setelah berhenti menyalahkan masa-masa buruk itu, aku malahan jadi bersyukur pernah mengalaminya. Aku merasakan cinta kepada mereka yang meninggalkan kenangan pahit itu. Aku melupakannya dan mengingat kebaikannya.

***

"Your imagination is more real that then the world you see, because the world you see comes from what you imagine and believe! What you believe and feel to be true is what will be your life."
(The Power, by Ronda Byrne)

Pernahkan kamu begitu menginginkan sesuatu dan bersungguh-sungguh mempercayai bahwa kamu pantas mendapatkan keinginanmu itu kemudian keinginanmu itu mewujud nyata persis seperti yang kamu harapkan?

Aku pernah. Bahkan sering mengalaminya. Salah satu kutipan dalam buku The Power membantuku menyadari bahwa aku harus yakin dengan mimpi dan keinginanku. Ketika aku berbicara kepada Tuhan dan menyebutkannya dalam doaku, aku harus yakin dan percaya bahwa aku pantas mendapatkan keinginanku. Yakin dan percaya itu juga berarti aku menerima dengan ikhlas semua keadaan yang terjadi ketika Tuhan mengabulkan keinginanku.

Apa yang terjadi dalam hidupku hari ini adalah salah satu mimpi yang menjadi kenyataan. Aku sudah memintanya kepada Tuhan dan mengalami sendiri bagaimana Tuhan dan alam semesta bekerja dengan cara yang misterius untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu.

***

Begitulah.. Sebuah buku yang awalnya dibaca karena terpaksa, ternyata menjadi titik awal perubahan dalam hidupku. Aku yang terpuruk bisa bangkit kembali bahkan menjadi jauh lebih baik. Terima kasih Rhonda sudah berbagi kebaikan melalui bukumu. Terimakasih suamiku sudah membeli dan memaksaku membaca. Terima kasih Tuhan dan semesta yang mempercayai mimpi-mimpiku.

Apabila hidup adalah sebuah pilihan, maka aku sudah memilih untuk hidup bahagia. Dengan seluruh kesadaran pikiran dan perasaanku.

"Whatever story you tell, whether good or bad, will be the story of your life. So start telling the story of your amazing life, and the law of attraction must make sure you receive it."
(The Power, by Ronda Byrne)


No comments:

Post a Comment

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)