Bukik Bertanya: Bunga Kecil Yang Bahagia

Kadang-kadang menilai diri sendiri itu jauh lebih sulit daripada menilai orang lain. Untuk alasan tertentu, kita bisa dengan mudah memberikan penilaian buruk untuk orang yang tidak kita sukai, tapi sulit melihat keburukan diri sendiri walaupun nyata-nyata menyadarinya :)

Mudah-mudahan setelah selesai menulis ini, aku akan semakin menghargai diriku sendiri sehingga bisa memberikan penghargaan yang lebih tulus kepada setiap orang yang hadir hidupku. Setiap dari kita adalah bukti maha kuasanya Sang Pencipta.


Namaku adalah doa kedua orangtuaku.


Lahir bulan Maret di hari ketujuh, aku adalah anak kelima dari enam bersaudara. Orangtuaku memberiku nama Sary Melati Indriani. Suatu kali ketika kelas 2 SMP, aku mendapat PR Bahasa Indonesia untuk mencari tahu arti nama kami masing-masing.

"Namamu itu ada artinya, paling tidak untukku," kata almarhum Bapa kala itu. "Namamu Indriani, aku menambahkan Melati supaya kamu kelak menjadi seperti bunga Melati yang harum, dan bagian terpenting dari bunga adalah sarinya. Itulah doaku untukmu, Nak."

Lalu mengapa Sary diakhiri 'y' bukannya 'i'? "Ya supaya kamu berbeda dengan sari yang lain," kata Bapa lagi.

Sejak kecil semua orang yang mengenalku memanggilku Sary. Aku pun selalu memperkenalkan diri dengan nama Sary. Adikku memanggilku teteh. Hanya satu orang yang aku ingat betul pernah memanggilku Melati. Beliau salah seorang pegawai di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Departemen Pendidikan Nasional) kabupaten Cianjur yang mendampingi aku selama mengikuti sebuah lomba antar pelajar SMP di kabupaten Cianjur. Sayang aku tidak ingat nama bapak yang baik hati itu.

Tapi ada beberapa orang yang sering menyebut atau memanggilku Rhie. Entah mengapa aku suka sekali disebut dengan nama itu. Sepertinya lebih akrab di telinga dan terasa hangat di hati. Dari keluargaku sendiri hanya ada satu kakakku yang memanggilku Rhie. 




Bapa dan Ibuku. Pahlawanku.

Kalau ada orang yang baru bisa mengerti tentang cinta yang utuh setelah ditinggal pergi orang yang mencintainya, salah satunya itu aku. Kepergian Bapa akhir tahun 2010 membuatku tersadar bahwa nothing last forever di dunia ini. Walaupun beliau akan selalu tinggal di hatiku, tapi tetap saja, ketika aku pulang ke rumah masa kecilku, tidak ada sosok Bapa di sana. 

Bapaku orang yang sangat keras dan kaku. Otoriter. Semua yang berlaku hanya aturannya dan kami semua anak-anak dan istrinya harus patuh. Selama Bapa masih hidup, hubunganku dengan beliau bisa dibilang datar. Kami jarang bercakap-cakap. Aku bahkan tidak bisa mengingat apakah Bapa pernah bercanda saat aku masih kecil, apakah Bapa pernah memelukku, apakah Bapa pernah bertanya tentang teman atau pacarku? 

Suatu malam di penghujung tahun 2010, Ibu meneleponku. Katanya Bapa mau bicara denganku. Lalu beliau dengan suara yang sudah sulit dimengerti, memintaku pulang, karena Bapa kangen aku. Aku menangis waktu itu. Membiarkan seluruh airmataku jatuh. Membiarkan seluruh emosi dalam dadaku luruh. Bapa belum pernah seperti itu. Bapa belum pernah memintaku pulang hanya untuk satu alasan sederhana. Rindu.

Sejak itulah kami mulai sering bicara. Ketika tubuh Bapa mulai berbau tidak sedap karena sakitnya, aku memilih duduk di dekatnya sambil mendengarkan keluhannya tentang sakitnya, semangatnya tentang rencana-rencananya untukku yang belum bisa beliau wujudkan. Aku sering menangis diam-diam sampai dadaku sakit karena tidak ingin membuat Bapa dan Ibu menjadi lebih sedih. Perjuangan Ibu mendampingi saat-saat terakhir Bapa luar biasa berat. Aku harus kuat supaya Ibu kuat.

Kedekatanku dengan Bapa dan Ibu selama 3 bulan terakhir sebelum Bapa meninggal merupakan salah satu momen yang paling menggetarkan hati dan jiwaku. Aku seperti terlahir kembali dengan cinta yang utuh, untuk Bapa dan Ibuku. Ini menjadi inspirasiku menulis sebuah flash fiction berjudul Bisakah Kau Hadir Di Sana untuk proyek menulis #11projects11days -nya NulisBuku.Com bulan Nopember 2011 yang lalu.


Mimpi-mimpi yang mewujud nyata.

Life isn't happening to you, life is responding to you.
(Quote by Rhonda Bryne)

Mereka yang mengenalku dengan baik mengatakan aku adalah seorang perempuan yang kuat, tangguh dan mempunyai kesabaran yang luar biasa. Seorang yang tidak mudah menyerah dengan keadaan dan percaya betul dengan kekuatan pikiran dan perasaan positif.

Ketika aku memutuskan untuk sekolah SMA di kota yang berbeda dengan kedua orangtuaku adalah awal aku belajar mengenali diriku sendiri. Aku ingat betul ketika hari pertama aku pindah dan menempati rumah kostku yang pertama, Bapa yang mengantarku. Kami naik angkutan umum, berangkat dari rumah pagi-pagi. Jangan tanya repotnya, naik kendaraan umum dengan membawa barang-barang kebutuhanku nanti di tempat tinggal yang baru. Sesampainya di tempat kostku, Bapa langsung pergi meninggalkan aku sendiri. Tidak ada kata-kata atau salam perpisahan yang mesra. Hanya, "Hati-hati, Nak. Bapa pulang, ya." Begitu saja. Tidak ada pelukan. Aku hanya mencium tangan Bapa dan beliau mencium keningku, kemudian berbalik dan pergi. Aku sempat melihat matanya memerah dan berkaca-kaca. Aku juga sedih dan takut. Aku belum pernah jauh dari kedua orangtuaku. Walaupun setiap hari harus merasakan ketegangan di dalam rumah karena sifat otoriternya Bapa, aku tidak bisa mengingkari, rumahku adalah tempat teraman untukku.

Tidak mudah menjalani hidup sendirian di kota asing dan orang-orang baru. Tidak ada yang menemani aku menyiapkan segala kebutuhanku sebagai siswa SMA baru. Apalagi aku termasuk orang yang pemalu dan sungkan untuk berbicara dengan orang lain. Selama 4 bulan pertama, aku tidak berani pulang ke rumah. Hanya Bapa saja sekali-sekali meneleponku. Masa-masa awal ini aku sering menangis sendiri, kesepian jauh dari Bapa dan Ibu. Harus menyelesaikan semua masalahku dan mengerjakan semuanya sendirian. Rasanya ingin pergi dan keluar dari situasi saat itu, tapi tidak ada cara selain bertahan dan menjalaninya.

Pengalaman itu membuat aku jadi mandiri dan bebas menjadi diriku sendiri, lepas dari kekakuan dan aturan-aturan Bapa. Anehnya waktu itu aku malahan bisa melihat sisi baik dari sifat Bapa yang otoriter itu. Saat kebebasan ada dalam genggaman tanganku, aku ternyata bisa mengendalikan diriku sendiri :)

Perubahan besar lain dalam hidupku adalah ketika aku menjadi seorang ibu. Aku belajar untuk mencintai dan menjaga ruh yang Tuhan titipkan kepadaku. Kehamilan pertamaku berakhir dengan kehilangan. Kehilangan yang menyakitkan dan harus kuhadapi sendirian. Selama 11 jam aku berjuang sendiri melawan sakit, pingsan dan kemudian bangun sendiri berkali-kali, menyemangati diri sendiri untuk bertahan dan menunggu sebuah akhir yang menyembuhkan. Saat itu yang aku percaya hanyalah kemampuanku untuk bertahan karena aku yakin Tuhan akan menolongku. Sekarang dengan empat orang anak yang tumbuh sehat dan bahagia itulah salah satu hadiah terindah dari Tuhan untukku.


Perpisahan dan kegagalan selalu menyakitkan. Tapi bukan alasan untuk terus tenggelam dalam kesedihan dan penyesalan. Aku percaya Tuhan tidak pernah menutup pintu selama kita tidak berhenti percaya bahwa setiap mimpi memiliki jalan untuk mewujud nyata. Ketika pintu lain terbuka, aku menyikapi sebagai hadiah lain yang Tuhan berikan. Jalan yang lain, kesempatan yang lain untuk mimpi yang sama. Beberapa mimpi membutuhkan perjuangan berat. Tapi percayalah, beberapa diantaranya mewujud begitu saja dengan mudahnya. Sebesar apa kita percaya tentang kuasa Tuhan, sebesar itulah kehidupan menghadirkan efek kejut dalam hidup kita.

Suatu kali kami, aku dan suami dan anak-anakku berdoa dengan bersungguh-sungguh, bahwa kami sangat membutuhkan uang yang sangat banyak. Saat itu kami sedang dalam masa-masa kembali di titik nol. Bukan karena keadaan, tapi karena kami sendiri yang memutuskannya untuk demikian. Aku dan keluargaku begitu percaya uang itu akan kami dapatkan meskipun pada saat itu kami tidak tahu bagaimana caranya. Kami terus saja menjalani hidup kami, menjaga energi kami untuk tetap positif, melakukan hal-hal yang kami sukai dan berbahagia. Lima bulan kemudian uang itu benar-benar datang, diantarkan Tuhan dengan mudah ke rumah kami. Nominalnya tepat seperti yang kami sebutkan dalam doa. Dan uang itu datang melalui sebuah jalan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan-pekerjaan kami.

Hal lain yang membawa perubahan besar adalah ketika tulisanku menjadi yang terbaik dalam ajang Entrepreneurship Story Writing  Aku tersadar bahwa ternyata menulis itu bisa menginspirasi. Sejak dulu kebiasaanku menulis hanya sebagai cara untuk jujur kepada diri sendiri. Dengan menulis aku bisa memaknai hidup dengan lebih objektif. Aku juga bisa merasakan betul kehadiran Tuhan dalam hidupku saat membaca kembali tulisan-tulisan lamaku. Hal itu menjadi pengingat untuk terus bersyukur dan bersyukur kepadaNya.


Sebuah penghargaan.

Sebelum menghargai orang lain kita harus mampu menghargai diri kita sendiri. Aku menghargai diriku sebagai seorang yang tidak mudah putus asa dan berkomitmen kuat untuk menjaga pikiran dan perasaanku untuk selalu positif.

Keluarga adalah hadiah terindah dalam hidupku. Memiliki orangtua yang penuh cinta, dan totalitas mereka mewujudkan cinta itu dalam hidupku. Suami dan anak-anakku yang kepada merekalah aku menyerahkan cinta dan pengabdianku sebagai seorang perempuan yang utuh. Adik, kakak dan keluargaku lainnya yang selalu menerimaku sebagaimana adanya diriku.

Aku menghargai setiap orang yang bersentuhan dengan hidupku. Mereka adalah orang-orang luar biasa yang mengajarkan aku untuk memaknai kehidupan dari cara mereka berhubungan denganku.

Penghargaan lain adalah untuk sebuah tempat bernama Indonesia, tanah kelahiranku, tempat tinggal orang-orang yang aku cintai dan mencintaiku.

Aku menghargai kehidupan adalah hadiah yang Tuhan berikan untukku dan aku bebas menentukan dengan cara seperti apa aku akan menjalaninya. Aku memilih untuk menjalaninya dengan bahagia sebagai bentuk rasa syukurku.


Apakah aku?

Aku adalah bunga kecil. Seperti doa Bapa dalam namaku dan kujadikan nama blog ini. Bunga kecil adalah kisahku tentang bagaimana aku memaknai hidup diantara aku dan yang lainnya. Aku adalah bunga kecil yang tidak akan layu dimakan waktu.


18 tahun yang akan datang.

2030 adalah tahun keselarasan dan keseimbangan. Kemajuan teknologi yang ramah lingkungan tidak menyebabkan kerusakan alam tapi membuat kualitas hidup menjadi lebih baik namun tetap selaras dengan alam. Untuk mewujudkan itu, dimulai dari sekarang. Mengenalkan kebiasaan-kebiasaan baik untuk peduli lingkungan kepada anak-anak. Agar kelak nilai-nilai baik itu dapat mereka teruskan untuk keturunan-keturunan selanjutnya.


Judul buku biografiku.

You tell me! Hahahaha...


Menertawai diri sendiri.

Salah satu cara untuk terus dalam kondisi bahagia adalah tertawa. Meskipun itu menertawai diri sendiri. Bahkan kesedihan bisa diubah menjadi tawa. Terlalu banyak dan aku tidak bisa mengingatnya :D


Sekian dan mari kita berbahagia untuk semua pemberian Tuhan, sehingga makin banyak berkah lagi yang tercurah dalam hidup kita :)


*Tulisan ini dibuat untuk Rubrik Kolaborasi Bukik Bertanya sambil mendengarkan merdunya suara Mr. Buble dalam Crazy Little Thing Called Love*

13 comments

  1. wah udah jadi 1/2 buku autobiografi nih.

    ReplyDelete
  2. hehehe... kan cuma menjawab pertanyaan-pertanyaannya mas bukik :D

    ReplyDelete
  3. pengen ikutan, cuma aku masih belom pede aja nih. bismillah mencoba aah

    ReplyDelete
  4. ke2nai's mom: salam kenal juga.. makasih sudah mampir ke blogku :D

    mira: ayo ikutan! :))

    ReplyDelete
  5. wah jadi tau arti nama nya hehehehe...
    btw nice blog mba...;)

    ReplyDelete
  6. ntar dulu...ntar dulu....masuk ke sini serasa gimanaaa gitu, adem, segeerrr..oww yaya...unguuuuu...my fav color.

    Tiap nama pasti ada maknanya ya, juga ada untaian doa di dalamnya :)

    ReplyDelete
  7. Ichien: makasih ya say :)

    vera: tooosss!! aku juga purple lover :))

    ReplyDelete
  8. salam kenal mba sari :)

    namanya memang indah sesuai dgn pemiliknya :)

    ReplyDelete
  9. aiiii top ceritanya, inspiring, menghargai diri sendiri hmmmm aku hrs banyak belajar ni :)

    ReplyDelete
  10. @Senja: Salam kenal juga.. Terimakasih sudah berkunjung :)

    @Lina: wes, aku cuma jawab pertanyaan2nya mas Bukik hehe.. ayo nulis lagi biar ga kaku-kaku :D

    ReplyDelete
  11. salam kenal mbak sari, tulisan yang inspiratif ...

    ReplyDelete
  12. hai Isma.. salam kenal juga. terimakasih untuk apresiasinya :)

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)