Untuk Ganda Sahabat Masa Kecilku

Dear Ganda,

Apa kabarmu sekarang? Kamu tinggal di mana? Sudah berkeluarga? Anakmu berapa? Ah, begitu banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan kepadamu, seandainya saja kita bertemu. Ya seandainya.. Karena aku tidak tau keberadaanmu sejak 21 tahun yang lalu.

Kamu pasti geer kalau tau aku masih mengingatmu sampai hari ini. Padahal dulu aku yang selalu menghindari kamu dan menolak semua bentuk kebaikanmu. Kamu tau kenapa kamu masih mengingat kamu dengan baik? Karena aku merasa bersalah. Kamu begitu baik dan aku membalasnya dengan memusuhimu. Dalam daftar mimpi-mimpiku, ada terselip namamu. Kalau suatu hari nanti aku bisa menemuimu untuk minta maaf dan berterimakasih untuk kebaikanmu yang belum sempat aku balas.

Aku ingin mengenang perkenalan pertama kita. Waktu itu kita masih sama-sama anak kecil berseragam putih merah. Bedanya usiaku memang sesuai untuk anak kelas 5 SD, kamu tidak. Berkali-kali tidak naik kelas membuat kamu menjadi anak yang paling tua diantara teman-teman sekelas kita waktu itu. Tentu saja aku tidak memperhatikanmu. Apalagi kamu selalu bersama gerombolan anak-anak yang dikenal nakal itu. Aku sibuk dengan urusan dan teman-temanku sendiri, sementara kamu dan gerombolanmu, yang hampir semua usianya  sebaya denganmu itu, sibuk berbuat onar di sekolah dan menjadi sasaran kemarahan para guru.

Sampai suatu hari aku memergoki kamu sedang sembunyi-sembunyi menatapku melalui kaca kecil di rautan bulat milikmu. Dan waktu mataku tidak sengaja bertabrakan dengan matamu di kaca itu, kamu mengedipkan matamu. Aku melotot marah, kamu malah tersenyum. Lalu pulang sekolah, salah seorang temanmu menghampiriku dan menyerahkan secarik kertas yang terlipat. "Untuk kamu, dari Ganda," begitu katanya.

"I love you." Hanya itu. Tulisan tanganmu yang rapi mengukir kata-kata itu di secarik kertas yang lusuh. Aku tau artinya, tapi buat apa kamu menuliskan i love you untukku. Kamu hanya membuatku semakin tidak menyukaimu.

Sejak saat itu kamu seperti menggila. Bukan kamu sepertinya, tapi teman-teman gerombolanmu itu yang selalu menggangguku. Kamunya sih diam-diam saja, paling hanya tersenyum diam-diam kalau aku melotot marah kepadamu.

Rupanya kamu gak mau menyerah ya, Gan. Aku gak tau apa yang ada dipikiranmu pada waktu itu. Aku cuma anak kecil berumur 10 tahun, sementara kamu anak remaja 15 tahun yang masih terjebak di bangku sekolah dasar. Suatu hari kamu melempar kertas kecil kepadaku, di tengah-tengah pelajaran agama sedang berlangsung. Kamu ingat kan siapa guru agama kita waktu itu? Suster kepala sekolah yang galaknya setengah mati itu. "Mau jadi pacarku, gak?" begitu isi suratmu waktu itu. Aku yang disulut emosi membaca tulisanmu, langsung menulis "GAK! Dan jangan ganggu-ganggu aku lagi!" Lalu kulempar ke arahmu. Sialnya Suster Kepala melihat perbuatanku dan meminta kamu menyerahkan kertas itu kepadanya. Aaaah, mukaku rasanya panas karena malu ketika isi suratku dibaca di depan kelas. Suster Kepala yang tidak mengerti urusan langsung memarahi kamu dan menyuruhmu menghadap ke kantor kepala sekolah jam istirahat nanti.

Tanpa sepengetahuan kamu, aku menghadap Suster Kepala sebelum kamu. Aku hanya merasa itu salahku, kertas itu berisi tulisanku. Dengan terbata-bata aku menceritakan semuanya dan besoknya peristiwa itu sudah menyebar di antara para guru dan murid yang lain. Sejak itulah kamu tidak pernah berani lagi menggangguku.

Sayangnya cerita kita belum berhenti sampai di situ ya, Gan? Masih ingat gimana hebohnya teman-teman sekelas waktu kita naik kelas 6 SD dan ibu wali kelas menjadikan kita teman duduk sebangku. Aku yakin beliau sengaja melakukan itu. 

Aku gak marah lagi kepadamu. Sudah terlalu lama kita sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak peduli satu sama lain sehingga tidak ada alasan lagi untuk membencimu. Tapi hari pertama kita menjadi teman sebangku, rasa marah mulai datang lagi di hatiku. Selama beberapa hari aku mendiamkanmu meskipun kamu berusaha mengajakku mengobrol. Tapi bagaimana bisa terus-terusan begitu kalau ibu guru kita tercinta itu sering sekali menyuruh murid-muridnya untuk berdiskusi dan mengerjakan soal-soal latihan bersama teman sebangkunya.

Awalnya bagaimana, aku lupa. Yang jelas, sikap kakuku mencair. Tiba-tiba saja kita, tepatnya kamu, sering curhat kepadaku. Bercerita tentang keluarga dan masa lalumu yang suram. Bahkan kamu bilang pernah masuk penjara anak-anak selama 3 hari. Orangtuamu sibuk dengan pekerjaan mereka dan membiarkan kamu sendirian. Ternyata kamu orang yang menyenangkan dan sangat perhatian. Kamu benar-benar terbuka menceritakan tentang dirimu dan aku menjadi pendengar setiamu. 

Kamu juga mulai berubah. Nilai-nilai pelajaranmu meningkat dan kamu bilang ingin menjadi anak yang baik. Kamu bilang sudah menghentikan kebiasaanmu merokok dan menghisap ganja. Aku senang bersamamu waktu itu terutama karena tidak ada lagi anak-anak nakal yang berani menggangguku. Kamu selalu menjaga dan melindungiku. 

Gan, andaikan kamu tau, mataku menghangat saat kutuliskan surat ini dan mengenang waktu-waktu bersamamu. Begitu menyenangkan. Aku sudah mengganggapmu seperti kakakku sendiri. Oya, ingat juga kan waktu kita ditegur guru karena sibuk bercakap-cakap berdua saat pelajaran sedang berlangsung. Saking serunya ceritamu, kita sampai tertawa dan lupa kalau sedang berada di kelas hahaha.

Sayangnya Gan, semua hal menyenangkan itu harus berakhir saat sekolah libur akhir tahun cukup lama dan kamu tidak masuk di hari pertama sekolah lagi. Katanya kamu sakit. Lalu seorang temanmu yang dulu pernah menyampaikan secarik kertas darimu itu datang menghampiriku dan menyerahkan sebuah bungkusan besar untukku. "Ini dari Ganda untuk kamu, ada surat di dalamnya."

Aku marah, Gan. Semakin marah waktu membaca suratmu yang bilang kamu sayang aku. Kenapa perhatian kamu harus berlebihan begitu. Tidak bisakah kamu seperti teman-teman laki-laki yang lain. Dua minggu kemudian kamu masuk sekolah lagi, aku masih marah. Bahkan aku minta ijin kepada guru wali kelas untuk pindah tempat duduk dan beliau mengijinkan. Aku masih terus mendiamkanmu sampai hari terakhir kita di sekolah dasar.

Sebenarnya aku berharap kita baik-baik lagi, Gan. Buktinya aku menyimpan boneka pemberianmu dan menjadi teman tidurku. Tapi aku takut kamu menjadi berlebihan lagi sementara aku ingin kita berteman seperti yang lainnya saja.

Cerita kita masih berlanjut ya, ternyata. Tiga bulan menjadi anak SMP dengan nyaris 90 persen teman-teman dari SD yang sama, aku tidak melihat kamu diantara meeka. Sahabatmu bilang, kamu pindah ke Medan dan menyampaikan salam serta permohonan maafmu untukku. Lalu tiba-tiba suatu hari kamu muncul di sekolah sebagai anak baru dan entah bagaimana, lagi-lagi sekelas denganku.

Aku senang bisa bertemu kamu lagi, Gan. Tapi teman-temanmu yang menyebalkan itu terus-terusan menggangguku sehingga aku malas menyapa dan berbaik-baik denganmu. Tapi kamu begitu sabar dan selalu membelaku sehingga aku memberi kesempatan lagi untuk kamu menjadi temanku. Yang aku ingat adalah wajahmu sejak saat itu tidak lagi murung dan bersedih. Sayang kita gak punya waktu banyak untuk mengobrol seperti waktu masih kelas 6 SD. Aku sibuk dengan teman-teman baruku dan kegiatan  drumband yang menyita waktuku. Belum lagi waktu itu aku harus mewakili sekolah mengikuti sebuah lomba pelajar antar SMP. Aku ingat kamu pindah duduk tepat di belakangku supaya tetap dekat denganku. Tapi tentu saja tidak sama dengan waktu kita menjadi teman sebangku. Kamu juga khusus meminta aku memasukkan namamu dalam setiap kelompok belajar dan kegiatan berkelompok lainnya di kelas, supaya kamu bisa dekat dengan aku. Kamu tidak lagi berlebihan menunjukkan perhatianmu. Mungkin kamu takut aku marah dan menjauhimu lagi ya, Gan?

Suatu hari kamu tiba-tiba menghilang. Aku tidak sempat bertemu kamu karena sibuk sekali dengan persiapan lomba-lomba itu. Sahabatmu bilang, kamu mencari aku untuk berbicara tapi tidak pernah dapat kesempatannya. Dia bilang kamu kembali ke Medan, ada masalah dengan keluargamu dan kamu harus segera kembali ke sana.

Ganda, kamu pergi begitu saja dan aku merasa sangat kehilangan kamu. Aku menyesal belum pernah membalas kebaikan-kebaikanmu. Kamu selalu tersenyum biarpun aku marah-marah kepadamu. Kamu menjagaku dari gangguan anak-anak nakal di sekolah sehingga tidak ada lagi yang berani macam-macam denganku.

Dear Ganda, itulah sebabnya aku masih mengingat kamu sampai hari ini. Setelah aku bisa memahami perasaan dan perhatianmu waktu itu. Maafkan aku yang masih terlalu kecil untuk mengerti dan membalas semua rasamu. Asalkan kamu tau, kamu telah menempati salah satu sudut istimewa di hatiku, sebagai sahabatku dan kakakku. Boneka pemberianmu itu masih aku simpan dan terawat bertahun-tahun setelah kamu menghadiahkannya untukku. Aku menangis waktu ibuku memberikan boneka itu untuk adik sepupuku yang masih kecil. Padahal waktu itu anakku sudah dua :)

Ah, ternyata suratku sudah panjang sekali. Aku akhiri saja ya. Semoga kamu bahagia di manapun kamu berada ya, Gan. Aku tetap tidak akan melepaskan harapanku untuk bertemu kamu. Semoga waktu menyampaikan surat ini kepadamu.

Salam kasih,
Sahabat kecilmu,

Sary.




16 comments:

  1. suatu hari nanti pasti bakalan ketemu sama Ganda..
    Entah kapan,biar waktu yang berbicara..

    hai mama moses
    salam kenal ya..

    ReplyDelete
  2. hai mama olive, sala kenal juga.. ga bisa liat blogger profilenya nih.. diprotect ya? :)

    ReplyDelete
  3. punya story yg sama mam,,,mmg smpe skrg lom pernah ketemu, tp suatu saat doakan saja kita akan ketemu teman masa lalu itu, sgd bisa dimengerti perasaanmu saat kecil dulu yaaa hihihi

    ReplyDelete
  4. @mimi radial:

    hihihi ini kan karena ikutan proyek menulis temanya cinta masa kecil.. :))

    ReplyDelete
  5. cakeb critanya.

    teman2 masa kecil gw pada dimana skrg ya? *mikir*

    ReplyDelete
  6. waaah...sampai ikut berasa gimana gitu baca cerita cinta masa kecilnya...smg suatu saat bisa ketemu lagi ya..:D

    kunjungan perdana..salam kenal ya, mba..:)

    ReplyDelete
  7. @De:

    wkwkwkwk.. cimon... cinta monyet jeng..

    @Lita Uditomo:

    hai, salam kenal juga :)

    ReplyDelete
  8. ahhh..jd larut mikirin Ganda hehehe..
    maybe someday bisa ketemu yah..mmm kira2 seperti apa yah wajah Ganda ini? kalo dalam bayangannya..badannya besar (bukan tipe kurus) dan rambutnya ikal. hahahaha *di bahas*

    ReplyDelete
  9. koreksi:

    dalam bayanganku maksudnya *soal deskripsi si Ganda* :D

    ReplyDelete
  10. @Ichien:

    Hehehe tebakanmu benar. Selain memang umurnya udah kelewat tuwir untuk anak SD, Ganda memang berbandang besar. He's a handsome boy :D Walaupun sering disebut anak berandalan, penampilannya jauh dari berandalan, rapi banget!! Kalo sekarang kali disebutnya pria metroseksual wuahahahaha.. *tambah dibahas*

    Etapi memang bener kalau dari penampilan dia ga terlihat kayak anak nakal. At least dia ga pernah kurang ajar sama aku hehehe

    ReplyDelete
  11. alamak metrosesual hahahaha...jadi inget ferdy hasan...:D
    rapih, bersih,keker, n syang keluarga...*huahahahahaha*

    btw kl si ganda mgkn bukan berandalan, lebih tepatnya jail kali yahhh...

    kakak tingkatku dulu ada yg namanya ganda (ang'95) kalo dari segi ciri fisik kayaknya bisa masuk, tapi kalo dari segi umur kayaknya bukan deh hahahaha

    ReplyDelete
  12. @Ichien:

    Berandalannya Ganda kaya Ngedrugs, masuk penjara anak, ga naik kelas berkali-kali ternyata karena faktor keluarga dan pergaulan. Dia merasa sendirian.. Kasian ya..

    Di sekolah ngegank sama anak-anak yg sama-sama nakal. Aku baru tau sisi baiknya dia ya setelah berteman dekat. Ternyata orangnya sopan dan baik. pergaulan aja yg bikin dia begitu.

    Ya mudah2an dia sekarang bahagia, sudah berkeluarga, jadi suami dan ayah yg baik untuk istri dan anak-anaknya.. beneran jd pria metroseksual idaman hahahaha..

    ReplyDelete
  13. @wanna be:

    sayangnya bukan, hehehe..
    makasih udah mampir ya ^_^

    ReplyDelete
  14. Apa aku yg kamu maksud Ganda Hutasoit, aku ada di Palembang.

    ReplyDelete
  15. @d0ank:

    Maaf, sayangnya bukan anda :)

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)