“Semua orang di Linggau ini tahu
siapa Syamsu. Anak kesayangan saudagar Marasip dan Nurhani. Anak yang sangat
diharap-harapkan setelah ketiga anak mereka sebelumnya meninggal dunia.
Syamsu tumbuh dalam limpahan
kasih sayang dan kemewahan harta dari kedua orangtuanya. Mereka bekerja keras
demi sekolah Syamsu. Kebanyakan orangtua di kampung Linggau ini tidak
memikirkan sekolah untuk anak-anak mereka. Tapi Marasip dan Nurhani berbeda.
Mereka ingin kelak Syamsu menjadi orang pintar dan bisa meneruskan usaha
perniagaan dan perkebunan karet keluarga.”
***
Penggalan kisah di atas bukan
fiksi, tapi nyata. Tokoh Syamsu di atas adalah almarhum bapakku yang lahir di
Lubuk Linggau, Sumatera Selatan pada tahun 1938. Memasuki usia dewasa, bapak
memutuskan merantau ke pulau Jawa mengikuti ajakan seorang pimpinan tentara asal
Bandung. Alasan bapak sederhana saja, beliau ingin sekolah.
Setelah sekian puluh tahun bapak menjadi perantauan di tanah Jawa, memiliki 6 orang anak yang 5 diantaranya pun lahir di tanah Jawa (termasuk aku), kemudian meninggal dan salah satu permintaan terakhirnya adalah dimakamkan di tanah kelahiran istrinya (ibuku) di Cipanas, Puncak, Jawa Barat, apakah aku masih boleh menyebut diriku sebagai bagian dari Wong Kito?
***
Bapak sering bercerita tentang
masa kecilnya di Lubuk Linggau, tentang kebun karet keluarganya yang luas, suasana
alamnya dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat di sana. Waktu aku masih kecil, halaman rumahku yang luas dipenuhi
aneka pohon buah-buahan yang hampir semua bibitnya berasal dari kebun kakek dan
nenekku di Linggau. Bapak biasanya pulang ke Linggau setahun dua kali dan aku selalu senang menunggu beliau pulang. Oleh-olehnya selalu luar biasa, bermacam-macam buah-buahan dan makanan khas Palembang.
Sekian lama menjadi orang rantau, tidak membuat lidah bapak cocok dengan menu masakan Sunda atau Jawa. Alih-alih beradaptasi, beliau malahan mengundang nenek datang ke rumahnya di tanah Jawa untuk mengajari ibuku memasak menu masakan yang biasa bapak jumpai di tanah kelahirannya. Jadi kalau dulu teman-temanku belum tahu apa itu pempek, malbi, tempoyak, pindang patin, lempo atau kerupuk kemplang, aku sudah tahu rasanya dan sering menjumpainya terhidang di meja makan.
Menurut cerita ibu, kedatangan nenek untuk mengajari ibu memasak makanan-makanan kesukaan bapak, membuat aku yang waktu itu masih berumur 4 tahunan menjadi fasih berbicara bahasa Palembang. Loh, apa hubungannya? Iya, soalnya nenek tidak lancar berbicara bahasa Indonesia, beliau membalas komunikasi kami dengan bahasa daerahnya, jadi aku yang masih kecil bisa menyerap informasi itu dengan cepat.
Ada percakapan menarik yang masih aku ingat jelas dan membekas dalam kenangan. Suatu hari rumah kami kedatangan tamu, keponakan bapak dari Sumatera Selatan. Seperti juga nenek, hampir semua saudara bapak yang pernah datang ke rumah kami tidak lancar berbahasa Indonesia. Keponakan bapak ini memanggil bapakku tuwo lanang, sementara ibuku tuwo betino. Mendengar ibuku dipanggil dengan embel-embel betino, aku kontan marah. "Koq, kakak memanggil ibu tuwo betino, memangnya ibuku ayam?" Tentu saja protesku itu malahan disambut tawa semua orang :D
Seumur hidupku, aku baru sekali menginjakkan kakiku di Sumatera Selatan. Itupun bukan di Lubuk Linggau, tanah kelahiran bapakku, tapi di kota Palembangnya dalam rangka pernikahan salah satu kakak laki-lakiku. Pernikahan yang diselenggarakan dalam upacara adat asli Palembang itu membuat aku mengenal lebih dekat budaya leluhurku. Aku terpesona melihat keindahan kain dan busana pengantin yang didominasi warna merah, rangkaian upacara adat yang kental dengan budaya Melayu, musik dan tari-tariannya. Lalu ada perjamuan besar lengkap dengan ritual adatnya.
Setelah selesai dengan urusan perkawinan kakak, aku menghabiskan waktuku dengan berjalan-jalan di kota Palembang, salah satunya adalah mengunjungi pasar yang katanya terbesar di Palembang, aku lupa namanya, untuk membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Jakarta. Aku belum pernah melihat penjual pempek sebegitu banyaknya, rasanya ingin memborong semua dan membawa pulang ke Jakarta :D Belum ada penjual pempek di Jakarta yang bisa mengalahkan enaknya cuko yang dijual di pasar itu :D
***
Sumatera Selatan sekarang pasti jauh berbeda dibanding saat aku berkunjung ke sana 15 tahun yang lalu. Kampung kelahiran bapak saja, yang katanya miskin dan di pedalaman, ternyata sekarang sudah menyandang status kota dan pemerintah kotanya memiliki website resmi sendiri.
Aku hanya mengenal Sumatera Selatan dari bapakku dan pengalaman singkatku ketika berkunjung di sana. Lahir dan besar di tanah Sunda, memiliki ibu berdarah Sunda, membuat aku dihadapkan pada pertanyaan ketika menulis postingan ini, apakah aku masih boleh menyebut diriku sebagai bagian dari Wong Kito? Untuk alasan sederhana saja, dengan mencintai bapakku, aku juga mencintai asal leluhurku ya, aku seorang Wong Kito. Untuk saat ini internet bisa membantuku mengenali dan menggali lebih dalam pesona dari tanah leluhurku. Semoga suatu hari waktu membawaku kembali ke sana.
Aku, Wong Kito?


18 comments:
karena kita beom pernah ketemu langsung namun dekat di hati, aku jadi penasaran caramu berbicara logat palembang mba, sekalian ama nike kayanya, hihihihi.
Saya lahir dan dibesarkan di Sunda dan terkejut ketika ayah bercerita bahwa ibu ayah saya berasal dari palembang.
Sayangnya saya tidak sempat mengenal beliau,bahkan belum pernah berkunjung ke tanah kelahirannya disumatra sana.
Keren mba, salam kenal ya>>>
@yankmira
sekarang sih udah gak bisa, miraaa.. Itu kan waktu masih kecil hehehe..
@senja
salam kenal juga..
semoga suatu hari ada rejeki waktu kita bisa mengunjungi tanah leluhur ya :)
Hai Mama..
pa kabar..
Wong Kito..hhe..
lucu banget kalo ada yang bilang kata- itu,
ade sepupuku disana juga, jadi ikut logat palembang deh ngomongnya..
Sukses ya MAk ngontesnya
Salam kenal mbak, kalau main ke SumSel lagi, mampir ke Bandar Lampung :)
@Mama Olive:
Kabar baik hehehe.. Banyakan eksis di blog sebelah lagi nih ^_^
Makasih yaa..
@Heni:
Bandar Lampung pernah kalo mampir aja sih hehehe.. Mudah-mudahan bisa ketemu suatu hari nanti ya :D
Aku ingat waktu ke palembang, klo gak salah, ngomong pake 'baeh' ya? Kalau orang Pekanbaru seperti aku ngomong pake 'do' hehehe...
Oh ya mbak, aku nambahin link blog di sidebar aku, tapi bloggernya baca postingan mbak di nov 2011, aku jadi bingung kok bisa begitu T_T
BTW, good luck utk kontesnya ya mbak! ^^
Update: udah bisa recent post yang bener, aku masukkan link feed bukan link blog jadinya. Berhasil! ^^
mantap..lanjutkan gan http://www.fadhil15.blogspot.com
Waahh info yang sangat menarik :-)
@ fadhil @taqrim
wah ada wong kito asli mampir di sini.. hehehe makasih ya :)
aku dari Lubuklinggau, Mbak! xixixi Salam kenal ya!
@hadi kurniawan:
aiih.. salam kenal kembali :)))
Blog Walking.. kerenn,,,
http://www.sisfo.tk/
keren...............
asyik neh cara nyampein ceritanya ^_^
smoga impian ane ke Palembang di tahun ini bisa cepat terwujud amin amin amin
great artikel sista..
main juga ke blog ane yak
menginsprasi sekali....
keinginan saya ke Palembang menjadi bertambah....
keren
Apakah anonymous dan mr. bedel ini orang yang sama?
Kalo sama, saya doakan keinginan anda untuk ke Palembang segera terwujud :)
Terimakasih ya sudah berkunjung ke blog aku ^_^
@Sistem Informasi STMIK-MDP 2010
Terimakasih sudah blogwalking jauh-jauh ke mari. Sering-sering ya.. :))
Post a Comment