*repost: Bisakah Kau Hadir Di Sana?


*Inspired From Luther Vandross's song, Dance With My Father Again

***

"Nak, Bapa mau bicara."

Aku masih bisa mengingat dengan jelas momen itu. Ketika Ibu menelponku dan mengatakan Bapa ingin berbicara denganku. Lalu aku dengan susah payah berusaha mencerna setiap ucapan Bapa yang sudah tidak jelas, "Pulang ya, Nak. Bapa kangen." 

Itu setahun yang lalu. Aku menangis waktu itu. Membiarkan seluruh airmataku jatuh. Membiarkan seluruh emosi dalam dadaku luruh. Bapa belum pernah seperti itu. Bapa belum pernah memintaku pulang hanya untuk satu alasan sederhana. Rindu. 

Usiaku masih belia ketika aku meninggalkan rumah untuk melanjutkan sekolahku. Dan aku tidak pernah lagi pulang untuk menetap. Aku membiarkan kakiku terus melangkah menjauhi rumah masa kecilku dan dua orang yang mencintaiku. Aku akan pulang ketika lelah sudah sangat membutuhkan tempat penghilang penat. Dan itupun tidak pernah lama. 

Aku dan Bapa jarang bicara. Tapi entah bagaimana aku bisa merasakan cinta Bapa yang sangat kuat untukku. Sejak kecil Bapa yang mengurusi semua keperluanku. Dialah yang selalu menyampul semua buku-buku sekolahku, menamainya dengan tulisan tangannya yang bagus, meraut pensil-pensilku, membersihkan sepatuku, mengambil raportku, mengantar aku kemanapun aku pergi. Saat aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke kota lain, Bapa juga yang mengantarku. Mencarikan tempat tinggal yang layak untukku, membelikan semua keperluanku di tempat tinggal baru dan kemudian meninggalkan aku tanpa sepatah kata. Hanya memelukku. 

Aku tidak pernah rindu Bapa. Setiap aku pulang, yang kucari hanya Ibu. Aku akan menghabiskan waktu kunjunganku yang singkat dengan berbagi banyak cerita dengan Ibu. Aku tidak menanyakan kabar Bapa, aku tidak bercerita apapun kepadanya. Aku memilih pergi ketika Bapa muncul di dekatku. Dan Bapa juga biasanya diam, tidak menggangguku. Bertahun-tahun kemudian baru aku tahu, setiap malam Bapa akan meminta Ibu untuk menceritakan ulang semua yang aku katakan kepada Ibu. Kalau ada yang ingin disampaikannya, Bapa akan mengatakannya melalui Ibu dan melarang Ibu untuk memberitahuku bahwa itu berasal dari Bapa. Ketika sudah saatnya aku pergi lagi, semua permintaanku yang kusampaikan ke Ibu sudah disiapkan oleh Bapa. Dan kami berpisah dalam diam. Selalu begitu.

Aku mencintai Bapa. Aku tahu dengan pasti Bapa pun sangat mencintai aku. Lalu mengapa hanya kesunyian yang hadir di antara kami berdua? Aku tidak pernah tahu dan tidak pernah ingin mencari tahu jawabannya. 

Bertahun-tahun kemudian, hubungan kami masih sama. Tapi aku mulai sering pulang. Mungkin waktu telah menambahkan kadar cintaku untuk kedua orangtuaku. Mungkin juga karena Bapa mulai sakit-sakitan. Dan setiap tahun kondisi kesehatannya semakin menurun. Sering, setiap kali Ibu menelpon memintaku pulang karena kondisi Bapa yang kritis, aku malah tidak ingin pulang. Aku tidak ingin melihat penderitaan orang yang sangat kucintai. Seandainya bisa, aku ingin pergi jauh. Biarlah hanya kabar yang kudengar. Andai kesedihan yang menjadi akhir, biarlah angin yang menyampaikan dan membiarkannya berlalu. Aku tidak ingin menjadi saksinya. 

Tapi aku pulang, setiap kali Ibu memintaku pulang. Menemui Bapa yang tak berdaya di atas tempat tidurnya. Memeluknya, menciumnya. Tanpa bicara. Kemudian meninggalkannya. Sampai setahun kemarin. Ketika Bapa menelponku. Memintaku pulang karena merindukanku. Dan aku pulang. Dengan mata panas dan dada sesak sepanjang perjalananku untuk menemuinya. Itu permintaan Bapa yang pertama untukku. Seumur hidupku. 

Sejak itulah kami mulai sering bicara. Ketika tubuh Bapa mulai berbau tidak sedap karena sakitnya, aku memilih duduk di dekatnya sambil mendengarkan keluhannya tentang sakitnya, semangatnya tentang rencana hari esoknya untukku dan menertawai Ibu yang sudah mulai pikun dan keriput. 

Aku tidak lagi pulang ketika musim sudah berganti sekian kali. Aku akan pulang meskipun jejak kakiku pun belum hilang dari tanah di halaman rumahku. Aku begitu sering pulang hingga aku tidak ingin lagi pergi meninggalkan rumah dan orangtuaku.

Suatu malam, Ibu membangunkanku. Katanya Bapa memaksa Ibu untuk memanggilku. Sakit Bapa sedang kambuh dan Bapa ingin memelukku. Aku menangis dalam hatiku. Ini permintaan Bapa yang kedua. Aku menahan airmata yang mulai ingin jatuh. Aku tidak ingin menangis sementara aku tahu perjuangan Ibu melawan kesedihan jauh lebih berat dari aku. Jadi aku mengangkat wajahku dan memberikan senyum terbaikku untuk kedua orang tercintaku. Bahwa aku yang pernah ingin pergi dan berpaling dari penderitaan mereka, ada di situ. Aku memberikan Bapa jawaban untuk permintaannya yang kedua. Dua minggu kemudian Bapapun pulang dalam damai.

Setahun berlalu. Waktu yang panjang untukku dan Ibu. Selama itu aku menyimpan airmataku karena Ibu. Ibu yang diam-diam menangis setiap malam di sudut tempat tidurnya. Ibu yang masih setia bercerita tentang aku seakan Bapa masih mendengarkan di sampingnya. Aku kehilangan kata untuk Ibu. Tapi aku tidak akan pergi meninggalkan Ibu seperti dulu aku meninggalkan Bapa dalam diamku. Aku akan selalu mencari kata-kata baru untuk Ibu. Aku akan terus membawa Ibu dalam lembaran-lembaran ceritaku. Sehingga aku tidak perlu lagi pulang untuk sekedar membagi kisahku kepada Ibu. Karena Ibu adalah bagian dari ceritaku. 

Ah, besok hari pernikahanku. Andai keajaiban itu ada, bisakah kau hadir di sana, Bapa? Menuntunku ke altar. Kemudian berdansa pertama denganku. Kemudian dengan Ibu. Untuk terakhir kalinya, sebelum aku membawa Ibu dalam kisahku yang baru.

*catatan kecil: tulisan ini aku buat oktober 2011, aku repost ulang karena sedang merindukannya sekarang..

13 comments:

  1. wah mba aku terharu membacanya sampai menitikkan airmata, smoga bapa di beri tempat disisi tuhan

    ReplyDelete
  2. hai mba Sary:)
    kunjungan balik nih mba :)

    merasa sangat tersentuh membaca postingan ini mba...

    bapak ku juga dulu gak bisa menghadiri pernikahanku ...

    Mudah mudahan BApa diterima di tempat yang terindah disisi Nya ya mbaaaa...

    ReplyDelete
  3. speechless sy bacanya mbak.. Semoga bapak di beri tempat yg terbaik di sisi Nya ya :)

    ReplyDelete
  4. @meutiah rahmah @bibi titi teliti @ke2nai

    terimakasih doanya utk alm. Bapa :'(
    tulisan ini tidak seluruhnya kisah nyata, karena ketika bapak meninggal, saya sdh menikah dan punya 4 anak.. lainnya.., true story :')

    ReplyDelete
  5. kok sama dengan saya ya. saya juga lebih dekat dengan emak daripada dengan bapak.

    Bagus kisahnya.

    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  6. @pak dhe Cholik:

    terimakasih kunjungannya pak dhe..
    alhamdulillah saya bisa mempererat tali kasih dengan alm. Bapa sebelum beliau berpulang :)

    ReplyDelete
  7. haru....idem sy juga kok bisa banyak bicara sm bapak...

    ReplyDelete
  8. nangisssssssssssss gak diem2,,, :(
    mbak, tulisan ini gak dikirimkan ke kumpulan sejuta cinta untuk ayah kah? aku punya bukunya, apa tulisanmu ini ada?

    indah sekali. haru. ingat papi, mumpung masih ada, ayo bahagiakan.. :)

    ReplyDelete
  9. @anggie mama athar:
    makasih dear.. :)

    @rina susanti
    iya :)

    @advertyha:
    aku juga nulisnya sambil nangis :'( sampe sekarang kl denger lagunya masih nangis :'(

    tulisan ini ada di buku Dance with My Father, ada dijual di nulisbuku.com

    ReplyDelete
  10. Hiksss....terharu...
    baru beberapa hari yg lalu saya menuli ttg papa, ketika perasaan saya galau dan beliau menelpon dan kami lalu berbincang ttg byk hal.

    bapa, papa, ayah... sesunguhnya cinta mereka juga luar biasa ya mba :)

    ReplyDelete
  11. @IrmaSenja

    Iya cinta mereka luar biasa dengan caranya :)

    ReplyDelete
  12. mirip mak :( bapakku memang perhatian, tapi lebih sering cerita ke ibu. tapi sekarang bapak mulai mau ngobrol kalau telp, biasanya ibu tok.jadi pengen pulaaaaaaaaang hiks hiks hiks

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)