Memaknai Galau Di Media Sosial

Galau menurut ArtiKata.Com adalah kata sifat (adjective) dengan definisi sebagai berikut: 
1. ber·ga·lau [a] sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran);
ke·ga·lau·an [n] sifat (keadaan hal) galau
Sinonim atau padanan katanya adalah berat otak, bimbang, bingung, cemas, gelisah, hilang akal, kacau, karut, keruh, khawatir, kusut,nanar, pakau, resah, ribut, risau, semak hati, senewen, sesat pusat, terombang-ambing, was-was.

Wow.., padanan katanya mengarah keperasaan negatif semua ya? :)

--oo00oo--

Siapa sih yang gak pernah galau? Aku yakin setiap orang pernah mengalami galau, karena itu normal dan sangat wajar sekali. Yang membedakannya mungkin tingkat kegalauannya, apakah galau ringan, galau medium atau galau akut. Dan yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapi kegalauan tadi. Karena cara kita mensikapinya, disadari atau tidak akan mempengaruhi lingkungan terdekat.

Tempat sampah yang paling mudah digunakan untuk menumpahkan kegalauan di masa sekarang mungkin media sosial seperti Facebook atau Twitter. Ya kan? Kan? kan? Kan? :D Ngaku deh, siapa yang sering menggalau di kedua media sosial tadi. Aku juga pernah sih, tapi jujur saja, sekarang sudah berkurang banyak karena aku berusaha dan berniat sungguh-sungguh untuk menjadikan mesia sosial sebagai tempat pengembangan diri yang positif, alih-alih tempat sampah negative feeling.

"Katanya menulis itu menyembuhkan, jadi boleh dong menggalau suka-suka di media sosial. Kan setelah itu perasaan jadi lega dan plong karena unek-unek yang gak bisa disampaikan secara lisan bisa dikeluarkan lewat tulisan?"

Bener! Bener banget malah! Tuliskan saja semua itu sampai perasaan menjadi lega, kemudian simpan dalam folder pribadi, atau kalau mau diposting di blog, simpan dulu dalam draft. Ketika hati sudah tenang, pikiran sudah jernih dan punya waktu luang, ini kesempatan yang bagus untuk membaca lagi tulisan itu. Selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Hati yang tenang dan pikiran jernih pasti mampu melihat hikmah itu. Dan sisi positif yang berhasil kita ambil dari kejadian buruklah yang baik untuk dibagikan atau diceritakan kepada orang lain. Tentunya bukan dengan maksud menyombongkan diri.

Tulisan ada untuk dibaca, entah oleh penulisnya sendiri ataupun orang lain. Tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa menginspirasi pembacanya, membuat si pembaca jadi tergugah untuk melakukan sesuatu yang baik, membuat si pembaca untuk berpikir dan berkata yang baik dan bukan sebaliknya. Kita sebagai pemilik tulisan punya kuasa sepenuhnya untuk menentukan, tulisan seperti apa yang akan dihasilkan. Kalau aku, sedang belajar terus untuk secara sadar menghasilkan tulisan yang pertama.

"Jadi, gak boleh galau dong?"

Boleh! Tapi ada batasnya dong. Masa mau update status isinya mengeluh terus, marah-marah terus, mencemooh terus? Sebagai penulis mungkin kita gak merasa capek menuliskan itu, sayangnya media sosial terbuka untuk publik. Siapapun yang ada dalam lingkaran pertemanan di jejaring media sosial kita bisa membaca tulisan-tulisan kita. Sekali dua kali baca, gak masalah. Lama-lama, bosan dan jadi kesal. Tanpa disadari kita sudah menularkan aura negatif kepada orang lain melalui tulisan kita. Ini galau yang gak sehat.

"Galau yang sehat kaya gimana?"

Galau yang sehat adalah galau yang diungkapkan secara proposional, tidak berlebihan dan pada akhirnya setelah dikomunikasikan menghasilkan sesuatu pembelajaran yang positif baik untuk penulis maupun pembaca.

"Lalu apa hubungannya tulisan ini dengan Indonesia Bangkit?"

Sebagai blogger, modal utama kita adalah menulis. Kita punya kesempatan untuk menyebarkan kebaikan dan pesan perdamaian melalui tulisan-tulisan di blog dan media sosial. Kita memiliki kebebasan melalui blog dan akun media sosial masing-masing untuk menyarankan, menggalang dan melakukan perbaikan untuk bangsa ini. Cara paling mudah adalah dengan menghargai diri kita sendiri. Menghargai diri sendiri itu bisa dengan menciptakan citra positif tentang diri kita supaya yang kita sampaikan melalui tulisan bisa dipercaya dan diterima dengan baik oleh orang lain.

Pencitraan itu penting asalkan jujur dan tidak berlebihan, tujuannya untuk motivasi dan pengembangan diri. Seseorang yang mampu menghargai dirinya dengan baik, mampu melihat dan mengembangkan potensi positif di dalam dirinya biasanya bisa menghargai orang lain dengan baik juga. Dan ketika semua orang mampu untuk saling menghargai satu sama lain, saat itulah kita sebagai anak bangsa akan mampu bekerja sama demi Indonesia yang lebih baik.


- Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bangkit di BlogCamp -



13 comments

  1. Belum didaftarkan ya jeng ??
    Jika belum silahkan di daftarkan di kolom komentar artikel pengantar kontes http://abdulcholik.com/2012/05/17/kontes-unggulan-indonesia-bangkit/

    salam

    ReplyDelete
  2. Saya telah membaca dengan seksama artikel diatas.
    Akan segera saya daftar
    Terima kasih atas partisipasi sahabat
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  3. @jckabara:
    makasih..:) ayo ikutan, mak :))

    @Shohibul Kontes Indonesia Bangkit
    Terimakasih PakDhe :)

    ReplyDelete
  4. Eh oke banget nih mbak tulisannya.
    Galau di media sosialnya dijadikan galau yang positif @_@
    Semoga menang mbak \:D/

    ReplyDelete
  5. suami saya bilang, kalau sedang galau, jauh2 dari media sosial .. hehe.
    Tapi emang bener sih, daripada nulis sesuatu yang negatif.

    Sukses kontesnya Mbak ..

    ReplyDelete
  6. sepakat dengan commentnya Una diatas mba.... keren nih tulisan dan idenya....

    sukses yaaa... :D

    ReplyDelete
  7. wah..., penting neh untuk mengelola kegalauan, ya agar proporsional gitulah, begitu ya, Mbak.

    ~~semoga ngontesnya sukses ya...

    ReplyDelete
  8. saya kalau menulis yang galau di twiiter or Fb setelah beres trus saya baca lagi setelah itu saya delete deh or ga jadi di post
    hehehehe :D

    ReplyDelete
  9. huuuaaahh udah lama bangeeet ga mampir kesini :D biasa ketemuan di twitter aja :D

    btw, disekolahku dulu ada taman. namanya taman galau. konon dulu pernah ada siswa yang mati disana. bla bla bla ... biasalah orang kita selalu mistis.

    Nah, skrg kata galau malah jd ngetrend ya. Kadang malah suka diasumsikan melenceng dari makna sebenernya.

    goodluck kompetisinya Sar ;)

    ReplyDelete
  10. @Tebak Ini Siapa:
    makasih una, dear.. kayak una dong ya, tulisannya galau positif abiss.. ^_^

    @dey:
    bener, mendingan ngerjain yang lain atau nulis di tempat lain, jangan di media sosial. kalo aku lagi galau biasanya nyikat kamar mandi hehehe..

    ReplyDelete
  11. @alaika abdullah:
    makasih mbakkuuu.. ^_^

    @Akhmad Muhaimin Azzet:
    ya begitu deh, mas bro hehehe.. makasih ya :)

    @Ardiansyah Pango Darwis:
    nah keren tuh :))

    ReplyDelete
  12. @ichaawe:
    wah, dikau masih ngeblog, cha? kirain dah pensiun.. mampir ah..

    ReplyDelete