Rumahku Istanaku

Hari gini gak punya email? "Bullsh*t," kata temanku.

Kalau seseorang yang mengaku gak punya email itu semacam mamang dan bibiku di kampung, pasti aku percaya. Tapi kalau yang mengatakan gak punya email itu seseorang yang 'ngakunya' kerja di sebuah rumah produksi ternama? Ya, itu tadi responnya temanku.

Hari ini ibuku, yang kebetulan sedang menginap di rumah, menerima telepon dari uwa (kakak ibu) yang dimintai tolong menjaga rumah di Puncak. Katanya di rumah sedang kedatangan tamu, yang mengaku ingin menyewa rumah ibu untuk keperluan syuting FTV. Namanya juga ibu yang gak mau pusing, telepon itu langsung disambungkan ke aku yang lagi enak-enaknya tiduran *mumpung lagi masa pemulihan, bisa enak-enak tiduran*

Singkat kata, si masbro yang mengaku bekerja di sebuah rumah produksi ternama ini bilang tertarik dengan rumah ibu dan berniat menyewa untuk keperluan syuting selama sehari. Dasarnya aku juga, yang sama aja kayak ibuku, gak mau pusing dan ribet, langsung berniat mengiyakan tanpa banyak bla bla bla. Tapi suamiku yang kenal banget dengan gelagatku, langsung colak-colek mengingatkan tentang surat perjanjian dan surat kontrak sewa rumah. "Ah, sewa sehari aja pake ribet sih?" tanyaku dalam hati.

Lalu aku minta kepada si masbro itu untuk mengirimkan surat penawaran melalui email. Dengan enteng dia menjawab, "Wah, saya gak punya email, bu." Laaaah...?? Gak jadi deh aku bersikap 'gak mau ribet dan gak mau pusing'. Untuk memudahkan komunikasi, kami bertukar pin BB *naaah, punya BB tapi gak punya email?*

Suamiku mengingatkan, "Kalau ada yang rusak di rumah bagaimana? Sewanya bagaimana? Koq kamu kayak mau ngasih gratis aja..? Itu kan properti pribadi. Crew film itu banyak loh!" 

Untungnya aku memiliki banyak teman yang bekerja di media, advertising dan hiburan. Langsung aku BBM salah seorang teman yang pernah menjadi produser di sebuah rumah produksi. "Guuusss, sewa rumah perhari untuk syuting FTV itu berapa ya?" Berawal dari obrolan ringan itu, aku malah jadi tau kalau sebenarnya kita gak boleh sembarangan meminjamkan rumah, apalagi rumah tinggal pribadi, untuk keperluan syuting semacam itu. Terus terang meskipun temanku memberikan harga yang cukup besar, aku tidak terlalu tertarik, mengingat rumah kami di Puncak itu rumah tinggal dan setiap sudutnya memiliki kenangan yang tak ternilai. Gak bisa membayangkan, sementara aku dan ibu tidak ada di sana, sekumpulan orang bebas memasuki rumah kami dan beraktifitas di sana.

"Syaratnya apa aja yang harus aku kasih ke dia kalau mau sewain rumah?" tanyaku kepada temanku melalui BBM. Jawabannya bikin merinding.
Surat perjanjian... Kalo ada yg rusak harus ganti, kamu bolehin pindah2in furniture nggak?
Ada kamar yg nggak boleh dipake nggak? Inventaris barang berharga di dalam rumahnya.
Kalo ada yang hilang harus ganti, nggak boleh pake listrik rumah harus bawa genset.
Lewat jam 11 malam dianggap dua hari
Harus bayar dimuka minimal 50 persen
Boleh ngecat dinding nggak?
Boleh pindahin tanaman nggak?
Bawa binatang nggak?
Berapa crew?
Harus menanggung ijin keramaian
Ijin RT/RW
Harus detil
Nggak boleh bawa narkoba
Nggak boleh bawa miras
Nggak boleh melakukan syuting asusila
Tidak dibolehkan memasak
Liat surat perjanjiannya baik-baik
Surat berharga dan perhiasan diamankan dulu
Hm, aku lantas berpikir, kalau ternyata syaratnya serumit itu -tentunya untuk alasan keamanan dan resiko yang mungkin terjadi- gak salah kan, kalau aku minta surat resmi dari kantornya? Kan katanya yang mau sewa rumah produksi blablabla itu. Terkenal loh.. Masa gak ada email?

Kemudian si masbro ini mengirimkan foto tulisan tangannya di atas selembar kertas folio, surat pernyataan untuk meminjam rumah yang ditanda tangani dia dan uwa-ku. Gak kebaca! Mau di-zoom sampai berapa kali pun gak kelihatan. Sebelumnya, aku memang hanya meminta seperti itu, tapi kemudian kuralat. Aku maunya dikirimi email resmi, pakai email dan nomor telepon kantor, disertai keterangan lengkap untuk keperluan apa menyewa rumah ibu. 

Tidak lama masbro menelepon lagi, menanyakan harga sewa rumah. Aku memberikan penawaran yang paling kecil seperti yang disebutkan temanku, dengan pertimbangan rumah ibu hanya rumah sederhana. Tapi sebenarnya aku ingin mengetahui reaksinya saja. 

Melalui BBM, masbro menanyakan apakah keputusanku tidak salah? Katanya dia menemukan rumah mewah sewanya hanya xxx rupiah, gak pake syarat macam-macam dan menginap. Kemudian masbro juga memberi tau sebuah rumah yang harganya sangat murah. Aku hanya menjawab singkat, "Iya silakan pilih yang sesuai budget-nya Mas saja."

Temanku bilang, beberapa oknum sering menyalahgunakan kepercayaan pemilik rumah. Bahkan dia menyarankan aku untuk menolak ketika kuberitau, si masbro ini bilang gak punya email, kemudian memberi alasan lagi kalau hari Sabtu kantornya tutup. "Kalo memang mendesak, line produser itu stand by kok :) Gue dulu waktu jd produser, lo minta email, 5 menit kemudian gue kirim...," kata temanku ini. 

Jadi, hari gini bilang gak punya email? Kelaut aja, bro! Menghargai milik orang lain dengan sepantasnya saat dalam keadaan terdesak itu memang tidak mudah. Dan penghargaan itu tidak melulu dinilai dari besarnya jumlah uang. Kalau harga yang aku ajukan dinilai terlalu tinggi, bandingkanlah dengan nilai rumah itu bagi keluarga kami. Atau mungkin karena rumah kami di kampung, dipikirnya berurusan dengan orang kampung tidak perlu melalui jalur resmi.

Intinya sih, kalau sejak awal si masbro ini tidak bertele-tele ketika dimintai surat/email resmi dari kantornya, aku dan ibu juga tidak terlalu mempersoalkan harga sewa rumahnya. Gratis juga boleh, tapi kami tau kemana harus meminta pertanggung-jawaban ketika ada hak yang dilanggar.


7 comments

  1. emang aneh sih ya kl hari gini "org kota" gak punya e-mail... Kl pun bener sp ada yg kayak gitu.. tp paling gak dia harus memberikan penawaran resmi dr kantornya.. Kan katanya yg bakal sewa kantornya, bukan dia pribadi.. Untung gak buru2 di iyain ya.. Krn emang rada mencurigakan :)

    ReplyDelete
  2. buat pelajaran aja mbak Sary, makin lama modus penipuan semakin banyak ragamnya, tanpa bermaksud su'udzon sama orang, tpi kehati2an perlu diperhatikan, terutama di kota2 besar.

    eh entar dulu saya punya email gak ya... #mikir

    ReplyDelete
  3. Langkah jeng Sary sudah benar.
    Jaman sekarang banyak yany suka menyalah-gunakan kesempatan dan main tipu sana-sini dengan gaya yang manis diawalnya.

    PH gak punya email memang mencurigakan dan kesannya tak profesional deh.BlogCamp Group saja emailnya banyak kok ha ha ha ha.

    Btw : gak berani ikut Jambore On the Blog ya jeng ??

    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  4. Waahh... mau "ngacak-ngacak" rumah orang kok semaunya sendiri gitu. Memang harus tegas mbak. Kalau enggak kita sendiri nanti yang kewalahan...

    ReplyDelete
  5. @ke2nai:

    kemungkinan sih dia gak mau ribet ngurus prosedural resmi... mau yang gampang aja, soalnya sudah kefefet :D


    @insan robbani:

    Alhamdulillah selalu ada orang-orang tercinta yang mengingatkan..

    btw, tak punya email, bisa ngeblog itu hebat loh mas'e.. hihihi..


    @Shohibul Jambore On the Blog 2012:

    sebenarnya sih saya percaya saja dia memang bekerja di PH tersebut dan sedang mencari rumah untuk lokasi syuting. Tapi caranya itu loh, menggampangkan sekali, apalagi kemudian membandingkan dengan vila dan rumah lain yang katanya gak pake syarat macem2. Syaratnya gak susah koq, cuma minta surat resmi dari kantornya aja hehehe..

    btw, bukan gak berani pak dhe, tapi memang baru sempat ngeblog malam tadi, ke blog-nya pak dhe saja belum berkunjung, cuma baca2 di wall efbe lewat henpon. Insya Allah kalo ada yang bikin ser-ser-an saya ikut hehehe.. *sungkem*


    @niken:

    nah itulah.. rumah-rumah saya kan ya?.. hehehe..

    ReplyDelete
  6. Ternyata ribet juga ya kl masalah sewa menyewa rumah.. Ga kebayang jg hrs bikin persyaratan sampai mendetail spt itu... Tp kl dibaca bener juga... *daritdangguk2truss

    ReplyDelete
  7. Wah masa karyawan dari rumah produksi terkenal gitu gak punya email yah. Minimal pakai email kantor yang diperuntukkan jika harus meminjam rumah orang. Masa gak disediakan email kantor untuk keperluan tersbut. Emang agak aneh yah bu.... Hati-hati aja deh, takutnya modus. :(

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)