Akhirnya Pulang...

@aadhyat: @saryahd nunggu pesawat lama amat ya? 2mg yg keras. penat! akhirnya pulang

Mention dari seorang lelaki yang sangat aku harapkan kehadirannya selama 2 minggu terakhir ini, terbaca di layar ponselku. Sudut mataku menghangat, dadaku tiba-tiba sesak. 

***

2 minggu sebelumnya.

"Aku berat sekali pergi kali ini. Dua minggu terlalu lama meninggalkanmu dan anak-anak," katanya sambil memelukku.

Aku diam. Walaupun dada ini sesak, aku berusaha tidak memperlihatkan kegundahanku dan berkata semua akan baik-baik saja. "Anak-anak kan sudah besar," kataku. "Mereka pasti bisa kuandalkan." 

Iya, sebenarnya aku pun gundah. Beberapa hari yang lalu kami menyadari kalau Tuhan memberi kami sebuah hadiah indah yang harus kami jaga selama 9 bulan dan selamanya. Dan ini terus terang, tidak mudah. Aku harus menjaga betul-betul kesehatanku karena ini yang kesekian kali kualami. 

***

Rasanya aku belum pernah begitu sering menangis ketika ditinggalkan suamiku dinas keluar kota. Kali ini, entahlah.. Rasanya berat sekali sendirian tanpa dia. Beberapa kali aku menyerah kalah pada perasaanku dan memanggilnya melalui telepon sambil terisak. Mungkin ini bawaan janin. Aku mengibur diriku sendiri dan berusaha tetap gagah perkasa, tapi tak berapa lama aku kalah lagi.

Kemarau yang panjang telah mengakibatkan sumur air di rumah kami tidak lagi mengeluarkan air. Mau tidak mau, aku harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyediakan air di rumah ini. Duapuluh galon air minum isi ulang setiap hari untuk semua kebutuhan akan air di rumah ini. Pekerjaan apapun rasanya menjadi lebih melelahkan, karena aku harus bolak-balik membawa baskom air dari tempat penampungannya.

Anak-anak menjadi malaikat penolongku. Mereka menjadi lebih rajin membantu dan terus menerus menyuruhku beristirahat. "Mama istirahat aja, biar kakak dan ade yang beresin rumah." Tuhan sungguh baik mengijinkan aku memiliki anak-anak yang penuh cinta seperti mereka.

Setiap hari biasanya berlalu begitu saja. Tapi kali ini hari demi hari terasa lama. Waktu seperti merayap, seolah enggan beranjak meninggalkan detik di belakangnya. Satu minggu berhasil kulewati dan menyadari masih ada 7 hari lagi yang harus kulalui sebelum suamiku kembali.

Malam itu, seperti biasa aku menemani anak-anak mengerjakan peer mereka. Sambil mengobrol dan bersenda gurau ditemani nyanyian si kecil. Tiba-tiba jagoan kecil yang belakangan ini menyatakan dirinya ingin dipangil abang itu, memuntahkan banyak cairan dari mulutnya. Belum selesai keterkejutan kami, dia muntah lagi, lagi dan lagi sampai malam berganti pagi.

Hari mulai terang. Kutatap wajah jagoan kecilku yang pucat pasi. Lingkaran hitam muncul disekeliling matanya, tatapan matanya sayu dan kosong. Dia tidak lagi menangis, mungkin sudah terlalu lemas untuk menangis. Airmataku jatuh satu-satu. Bagaimana ini? Menggendongnya saja kini sudah mulai tak sanggup kulakukan, apalagi tiba-tiba sakit seperti ini. Tanpa berpikir panjang, ditemani seorang saudara, aku membawanya ke rumah sakit. Meninggalkan Mercy, anjing keluarga kami yang juga sedang berjuang melahirkan anaknya, meninggalkan anak-anakku yang lain di rumah. Untunglah keputusanku tepat, darahnya ternyata sudah mulai mengental akibat dehidrasi. Dan aku harus menemaninya bermalam di rumah sakit.

Gundah. Bagaimana anak-anakku yang lain? Bagaimana Mercy? Tapi tak ada satupun alasan yang bisa membuatku meninggalkan Moses sendirian di rumah sakit. Dia membutuhkan aku. Kakak-kakaknya meyakinkan aku kalau mereka tetap baik-baik saja di rumah. Hanya saja Mercy yang sendirian berjuang. Aku hanya sanggup berharap dia pun akan baik-baik saja.

Malam kedua di rumah sakit. Sebuah pesan singkat kuterima di ponselku. "Ma, peernya susah, Ade gak bisa ngerjain." Dadaku sesak lagi, mataku memanas. Ah anakku, maafkan mama, nak! 

"Peer apa? Lewat sms aja ya.." Aku membalasnya.

Selama satu jam berikutnya, aku menemani gadis kecilku melalui tulisan dan penjelasan-penjelasan singkat di layar handphone-nya, mengerjakan peer matematika. Perasaan sedih yang tadi sempat kurasakan berganti dengan keharuan dan semangat baru bagiku. Sekali lagi aku merasakan kebaikan Tuhan yang mengijinkan aku memiliki anak-anak yang mandiri dan lembut hati.

Jagoan kecilku membaik, tapi tidak demikian dengan Mercy. Setelah melahirkan satu ekor anaknya, dia kesulitan melahirkan anak yang berikutnya. Dari jarak jauh suamiku memutuskan untuk membawa Mercy ke dokter hewan dan memantau perkembangannya. Dia harus dioperasi, diceasar, karena anaknya sungsang dan sudah mati di dalam karena terlambat dilahirkan. Rahimnya pun harus diangkat. "Lakukan apapun yang penting Mercy selamat," pesan suamiku kepada dokter hewan yang merawatnya melalui telepon. "Berapapun biayanya yang penting semua keluarga kita selamat," katanya kepadaku  melalui pesan singkat. Ya, kami semua menyayangi dan mencintai Mercy. Apalagi Mercy sangat dekat dengan Moses. Mereka menderita disaat yang bersamaan sungguh meluluh-lantakan perasaan kami.

Kabar baik yang kami terima seusai operasi Mercy ternyata tidak berlanjut menjadi happy ending keesokan harinya. Sehari setelah operasi, kondisi Mercy tiba-tiba kritis dan tidak tertolong lagi. Bagaimana memaknai perasaan kami pada hari itu? Entahlah.. Di hari kami menerima kabar kematian Mercy, di hari itu pula dokter anak yang merawat Moses menyatakan kondisi Moses mulai stabil dan besok hari kemungkinan sudah bisa pulang.

Hari keempat belas. Hari yang kunanti-nanti pun tiba. Suamiku pulang, Moses pun pulang, dan jasad Mercy menunggu kami di rumah untuk dikuburkan. Serta seekor bayi anjing yang kehilangan induknya. Dua minggu yang keras. Penat! Akhirnya pulang...



7 comments:

  1. Mbak Sary, mata saya basah tak tertahan membaca tulisan ini. Saya bisa merasakan perasaan Mbak. Sangat bisa. Ada kebahagiaan, karena Mbak Sary dititipi anak lagi oleh Tuhan. Anak-anak yang luar biasa dan sangat mengerti dengan kondisi ibunya. Sedihnya, si bungsu sakit ditambah lagi Mercy yang tak tertolong :(. Saya pernah merasakan sedihnya kehilangan anjing secara mendadak. Untuk menghilankan kesedihan, biasanya saya menghibur diri (dan menghibur anak) bahwa sang anjing sudah berada di taman hijau yang indah, tempatnya bisa bermain dan berlarian.
    Semoga semuanya akan baik-baik saja ke depan ya, Mbak

    ReplyDelete
  2. Badai telah berlalu mak. Semangattt y. Biarpun mercy uda pergi, ada si junior ny mercy.

    ReplyDelete
  3. suka dan duka seringkali datang menyapa berdampingan yaa
    super mom pasti punya super kids
    smoga snantiasa indah yaa hari2nya
    trus, hamil lagi yaa
    waaa aku baru tauuu kmana ajaa slama ini
    sehat2 yaaa

    ReplyDelete
  4. Ibu yang tangguh... selalu ada kekuatan yg tidak kita sangka dimiliki pada saat menghadapi hal2 seperti itu.
    Mbak Sarry tabah dan sabar sekali...

    ReplyDelete
  5. campur aduk perasaan sy wkt bacanya mbak.. Bahagia membaca kabar kl mak Sary hamil lagi.. Selamat ya maaakkk.. Semoga sehat selalu..

    Sedih juga baca ttg mercy.. Selamat jalan mercy.. Hiks..

    Ngerasain gimana beratnya hrs "ngurusin" galon-galon. Merawat Moses yg lagi sakit pdhl hrs konsentrasi sm anak2 yg lain juga semenatra suami lagi tugas.. Tabah & kuat bgt ya mak..

    Semoga setelah ini kebahagian selalu terus menghampiri ya. Aamiin..

    ReplyDelete
  6. Mba ikutan basah baca postingannya. Sungguh Mba wanita yang kuat.
    ikut ngerasain rempong dan dilemanya mba. Ikut ngerasain seneng dan bingungnya di posisi mba dengan baby inside plus sendirian.

    Semoga setelah ini mba pun semakin kuat.....*pelukkenceng.....

    ReplyDelete
  7. Mbak Sary.... aku ngerasa mbak itu ibu yang hebat, mau nangis bacanya..

    semoga dedek bayinya sehat ya mbak. aku didoain biar segera dapet juga :)

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)