Konservasi Sumber Air, Dimulai Dari Rumah Sendiri


suamiku di sungai Tuwelwey,
salah satu sumber air di
Kota Tolitoli, Sulawesi Tengah
*foto: dok. pribadi*
Pengalaman suami selama 2 tahun terakhir ini pergi ke pelosok-pelosok Indonesia untuk mencari dan mengunjungi sumber-sumber air bersih ternyata pelan-pelan juga membuka kesadaranku tentang pentingnya menjaga sumber air dan menggunakan air dengan bijak. Kekeringan yang kami alami di musim kemarau yang lalu membuat kami berpikir bagaimana caranya supaya kami tidak mengalami kekeringan lagi di musim kemarau selanjutnya.

Akhir musim kemarau yang lalu memang menyisakan kenangan yang kurang menyenangkan untuk kami sekeluarga. Selama hampir 2 minggu pompa air di rumah tidak bisa menyedot air dari sumur karena kering. Akibatnya separuh aktivitas keluarga sehari-hari bisa dikatakan lumpuh. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari mau tidak mau aku harus membeli air galon isi ulang. Kebetulan kamar mandi di rumah dilengkapi dengan bathtub ukuran besar yang bisa digunakan untuk menampung air. Isi 1 galon air minum isi ulang kurang lebih 19 L, bathtub di rumah bisa menampung sampai 400 L air, jadi setiap hari aku memesan air sebanyak 20 galon. Harga 1 galon air isi ulang 3000 rupiah dikalikan 20, berarti setiap hari aku harus mengeluarkan uang 60 ribu rupiah. Dua puluh galon air itu hanya cukup untuk mandi, masak,cuci piring dan bersih-bersih rumah. Kebersihan penting karena kami memiliki hewan peliharaan. Pakaian kotor terpaksa kuserahkan pada jasa laundry yang artinya itu adalah pengeluaran tambahan lagi.

Menurut suamiku, salah satu penyebab kekeringan di rumah kami adalah karena tanah di rumah ini minim pepohonan sehingga tidak bisa menyimpan air saat musim penghujan. Air hujan yang turun hanya menggenang di halaman dan mengakibatkan banjir. Upaya kami setahun terakhir untuk menanami halaman rumah dengan pohon buah-buahan untuk membantu penyerapan air pada tanah, ternyata belum bisa memberikan hasil yang diharapkan. Padahal air tanah menjadi satu-satunya sumber air di rumah karena air PAM belum menjangkau daerah tempat tinggal kami.

halaman rumah kami yang minim pepohonan besar
dan lubang resapan air :(
*foto: dok.pribadi*
Sebenarnya ada cara sederhana yang bisa dilakukan oleh kalangan rumah tangga untuk mengatasi kelangkaan air dan banjir di rumah masing-masing, seperti yang pernah kami alami, yaitu dengan membuat lubang biopori dan sumur resapan.  

Biopori

Lubang resapan biopori menurut Wikipedia adalah metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi banjir  dengan cara meningkatkan daya serap air pada tanah. Metode yang dikenalkan oleh Ir. Kamir R. Brata, M.Sc, peneliti di Institut Pertanian Bogor ini terbilang cukup mudah dan sederhana. Kita cukup membuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik. Informasi lebih lengkap tentang Biopori, Teknologi Tepat Guna Ramah Lingkungan bisa dibaca di situs Biopori.Com. Cara membuat lubang resapan biopori sederhana juga bisa dibaca di situs Sumurresapan.blogspot.com. Di bawah ini adalah foto proses pembuatan lubang resapan biopori yang aku ambil dari situs tersebut.

Sumber Foto: Sumur Resapan
Karena proses pembuatan yang mudah dan biaya yang tidak terlalu besar, aku dan suami juga sedang merencanakan untuk membuat lubang resapan biopori di halaman samping rumah selain tentunya terus menanam dan menambah jumlah pohon di rumah ini.

Sumur Resapan

Tidak jauh berbeda dengan lubang resapan biopori, sumur resapan juga bisa dibuat sendiri di pekarangan rumah. Tapi sumur resapan biasanya membutuhkan wilayah atau tempat yang lebih luas daripada lubang resapan biopori. Kalau lubang resapan biopori hanya berdiameter 10-15 cm, diameter sumur resapan bisa mencapai 1 meter. 

Sumur resapan bermanfaat untuk menampung air hujan dalam jumlah banyak. Air hujan yang jatuh ke genteng bisa disalurkan ke sumur resapan melalui talang air atau dengan cara membuat parit-parit kecil yang bisa mengalirkan air hujan ke sumur resapan. Selengkapnya tentang sumur resapan bisa dibaca di situs Sumur Resapan.

Lubang resapan biopori dan sumur resapan adalah teknologi sederhana yang bisa diterapkan oleh kalangan rumah tangga untuk mempertahankan dan menambah kuantitas air di wilayahnya masing-masing. Bayangkan kalau setiap keluarga di Indonesia memiliki kesadaran untuk membuat lubang resapan biopori dan sumur resapan di rumahnya masing-masing, kelangkaan air bersih dimasa mendatang mungkin bisa diatasi. 

Air merupakan sumber daya alam yang bisa diperbaharui. Namun pada kenyataannya, seiring dengan pertumbuhan populasi manusia di dunia, persediaan air bersih terus berkurang. Sebagian besar air yang terdapat di bumi adalah air asin (97 persen). Sisanya adalah air tawar yang 2/3-nya berbentuk es, air tanah dan hanya sedikit yang berada di atas permukaan tanah (sungai, danau, air bendungan) dan udara. 

Air Tanah

Air tanah menurut Wikipedia adalah air tawar yang terletak di ruang pori-pori antara tanah dan batuan dalam. Saat mengunjungi mata air Eremerasa di Bantaeng, Sulawesi Selatan, suamiku melihat langsung air tanah yang sangat jernih keluar dari balik batu-batuan besar yang ada di atas tanah.

Suamiku (baju merah) di mata air Eremerasa, Sulawesi Selatan
*foto: dok. pribadi*
Mata air Eremerasa, Bantaeng, Sulawesi Selatan
*foto: dok. pribadi*
Air tanah yang jernih seperti di mata air Eremerasa itu rasanya tidak mungkin kita jumpai di kawasan pemukiman padat seperti Jakarta dan sekitarnya. Kabar yang belakangan sering kita dengar justru berita kelangkaan air, sumur kering, pasokan air bersih berkurang bahkan berhenti sama sekali. Semua itu akibat eksploitasi air tanah secara berlebihan tanpa diimbangi upaya pelestarian sumber air tanah, perbaikan kualitas lingkungan dan kesadaran masyarakat. 

Sumber foto: WartaKotaLive.Com, 13 September 2012

Air Permukaan

Selain air tanah, sumber air bersih lainnya adalah air permukaan seperti sungai, danau air tawar, air yang dibendung (bendungan). Seperti halnya air tanah, kualitas dan kuantitas air permukaan pun sangat tergantung pengelolaan yang dilakukan oleh manusia. Bagaimana kondisi sungai, khususnya di Jakarta dan daerah lain di pulau Jawa, sekarang? Berdasarkan penelitian Green Peace pada tahun 2011, mayoritas dari 32 sungai pemasok air, statusnya sudah cemar dan cemar berat. 

Tidak jauh berbeda dengan kondisi sungai di pulau Jawa, sungai-sungai di pulau lain di Indonesia pun mengalami masalah yang sama, misalnya sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Sungai Mahakam memiliki peranan penting sebagai sumber air untuk masyarakat sekitarnya. Sayangnya saat ini sungai Mahakam dipenuhi sampah, sehingga mengurangi  peranan penting tersebut bahkan ikan spesies asli sungai Mahakam yaitu Pesut Mahakam terancam punah. 

Sampah di pinggir sungai Mahakam, Kalimantan Timur
*foto: dok. pribadi*

Sungai Mahakam dipenuhi sampah
Sumber foto: Tribun Kaltim
Kondisi lingkungan yang rusak dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga sumber air menjadi faktor utama penyebab kelangkaan air bersih terutama di musim kemarau. Dari cerita suamiku aku bahkan jadi tahu bahwa hutan-hutan di daerah pelosok yang menjadi tempat sumber  mata air untuk daerah di sekitarnya pun sudah mulai di  eksploitasi oleh tangan-tangan manusia. Penebangan pohon-pohon besar dan pembukaan hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan dan pertambangan menjadi salah satu penyebab berkurangnya sumber mata air.

Sumber mata air di puncak gunung pun semakin terancam keberadaannya karena banyak gunung dan pegunungan yang digunduli, dieksploitasi untuk kepentingan manusia, kemudian ditinggalkan begitu saja.

bekas tambang yang ditinggalkan
Sumber foto: Ekspedisi Humaniora
Eksploitasi hutan Kalimantan
Sumber foto: MediaIndonesia.Com
Kalau lingkungan sudah sedemikian rusak dan krisis air bersih sudah semakin jelas di depan mata, tampaknya kita sudah tidak bisa lagi duduk diam hanya menunggu aksi dan intruksi dari pemerintah. Masing-masing dari kita harus membangun kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan dan menjaga sumber air. Cara yang paling sederhana, ya seperti yang sudah aku tulis di atas tadi, setiap rumah tangga berinisiatif untuk menanam pohon, membuat lubang resapan biopori dan sumur resapan. Untuk rumah yang tidak memiliki halaman, pembuatan lubang resapan biopori atau sumur resapan bisa dikoordinasikan dengan warga lain di sekitar rumah, jadi pengerjaan dan manfaatnya bisa dirasakan bersama-sama.

Upaya pemerintah bersama pemerintah daerah untuk membangun instalasi pengolahan air  melalui perusahaan-perusahaan daerah semoga juga bisa membantu memenuhi kebutuhan air bersih di daerah-daerah Indonesia. Pengelolaan sumber daya air yang dilakukan secara terpadu dan melibatkan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat ini tujuannya manfaatnya bisa dirasakan semua pihak secara berkelanjutan . Langkah kecil apabila dilakukan bersama-sama akan menghasilkan dampak yang besar kan?

proses pengolahan air dari air sungai yang kotor menjadi bersih
*foto: dok.pribadi* 

Air Minum Bersih dan Sehat

Tubuh manusia terdiri dari 55%-80% air, tergantung ukuran tubuhnya. Kebutuhan air pada tubuh manusia diperoleh dari air minum yang bersih dan sehat. Air minum yang digunakan untuk konsumsi manusia harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
  • Tidak berasa
  • Tidak berbau
  • Tidak berwarna
  • Tidak mengandung mikroorganisme yang berbahaya, dan
  • Tidak mengandung logam berat.

Dengan kondisi lingkungan yang jelek, sumber air yang tercemar, masih yakinkah kita dengan kualitas air minum yang masuk ke tubuh kita setiap hari? Di daerah tempat tinggalku saja, yang secara kasat mata air tanahnya bersih, ternyata tidak layak konsumsi karena tingkat keasaman (pH) air berada di bawah ambang batas normal. Akhirnya untuk kebutuhan air minum dan memasak, kami harus membeli air isi ulang yang harganya mencapai 13 ribu per galon, sedangkan kebutuhan air untuk minum dan masak dirumahku 1 galon untuk 2-3 hari. 

Mengharapkan Indonesia seperti Jepang yang telah berhasil menjernihkan limbah rumah tangga dan industri sebelum dibuang ke saluran-saluran pembuangan dan sungai-sungai sehingga bisa mengurangi kerusakan lingkungan tampaknya masih jauh dari angan. Jepang saja baru berhasil mengelola air limbahnya dan membuat lingkungan Jepang menjadi bersih setelah 50 tahun. 

Lalu adakah cara hemat yang aman untuk mendapatkan air minum yang bersih dan sehat di rumah kita sendiri?

Pureit, Teknologi Pemurnian Air Murah dan Aman

Unilever, salah satu podusen consumer goods besar di dunia mengenalkan teknologi pemurnian air  (water purifier) Pureit sebagai upaya untuk mendapat air minum bersih dan sehat. Pureit bekerja dengan teknologi canggih 4-tahap pemurnian air “Teknologi Germkill” untuk menghasilkan air yang benar-benar aman terlindungi sepenuhnya dari bakteri dan virus.

Pureit memurnikan air dengan praktis dan terjangkau. Hasilnya adalah air yang terlindungi sepenuhnya dari kuman. Berikut keuntungan yang bisa didapat dengan menggunakan Pureit: 
  • Menghilangkan bakteri, virus dan parasit 
  • Tidak perlu memasak air
  • Tanpa galon (lebih praktis, lebih hemat) 
  • Air yang jernih dengan rasa alami
  • Tanpa gas 
  • Tanpa listrik
  • Harga terjangkau 
  • Mudah dipakai
Kalau anda tertarik menggunakan Pureit untuk mendapatkan air minum yang bersih dan sehat di rumah anda, silakan berkunjung dan mencari informasi lengkapnya di situs Pureitwater.Com.

Air bersih, memang sudah saatnya menjadi tanggung jawab kita bersama. Kalau memang kita sulit mengurangi pemakaian air di rumah, lantas kenapa tidak ikut berkontribusi dengan menjaga kualitas dan kuantitas sumber air di lingkungan kita masing-masing?




Sumber foto dan referensi:

Dokumentasi dan referensi pribadi
Pureit Water Purifier Indonesia

20 comments

  1. citarum..

    kontras banget dengan poto pembuka tadi ya ckckckkc

    ReplyDelete
  2. ketika air nantinya hilang, kemanakah kita akan pergi?

    ReplyDelete
  3. Mantap banget mba artikelnya..
    semoga sukses yah :-)

    ReplyDelete
  4. artikel yang cukup menarik..

    di kampung saya sejak 3 tahun ini sudah mulai menggunakan biopori..
    sungguh ironis memang, di sebuah negara yang kaya akan alam, yang seharusnya sumber air melimpah malah kadang sering terjadi banjir dan kekeringan..

    ReplyDelete
  5. artikel yang menarik.. ^_^

    dikampung saya sudah skitar 3 thun ini menggunakan biopori. tdinya banyak tpi skrang dah mulai pada rusak juga..

    ironis memang disebuah negara bahari yang kaya akan alam, yang sharusnya melimbah air malah sering kena banjir dan kekeringan..hmmm

    ReplyDelete
  6. Wah keren banget. Kayaknya bakalan menang nih.

    ReplyDelete
  7. @hana: iya, dan itu bukan cuma sekadar foto.. tapi benar-benar terjadi :(

    @a.i.r: good question..

    @leyla: makasih, mak

    @ahsyai: sayang sekali, kenapa tidak segera diperbaiki bioporinya..?

    @lusi: aamiin, mak.. gak ikut nulis?

    ReplyDelete
  8. selamat ya, artikelnya menang nih :)

    ReplyDelete
  9. WAH BAGUS BLOGNYA MAIN JUGA KE BLOG SAYA YA inforeligi.blogspot.com

    ReplyDelete
  10. selamat ya mbak,sudah jadi pemenang ke 2 lomba Pureit

    ReplyDelete
  11. whiiii...,selamat ya, bisa menang. Ikut senang :)
    Ngeri banget liat sampah di sungai Citarum, bikin merinding..

    ReplyDelete
  12. Selamat ya sudah jadi pemenang........

    ReplyDelete
  13. selamat ya maaaakk udah menang
    keren sekali tulisannya

    ReplyDelete
  14. @anonymous: terimakasih :)

    @robi fauzi: terimakasih ya sudah berkenan mampir :)

    @yoswa mardhikai: alhamdulillah.. terima kasih :)

    @tas cantik: terima kasih ya :)

    @firstwinner: alhamdulillah, terima kasih ya.. semoga sukses juga :)

    @waya komala: iya, mak.. serem yak :( makanya perlu ada langkah2 kecil untuk membiasakan diri dan keluarga menjaga lingkungan. biar kecil, kalo banyak yang melakukan, dampaknya bisa luar biasa. thank you ucapannya ya.. :)

    @Mr Buldani: thank you :)

    @dopichi: sama-sama, selamat juga ya, sudah jadi pemenang pertama. semoga apa yang ditulis bisa menginspirasi dan bermanfaat utk pembaca :)

    @Maya Siswadi - Bunda 3F: makasih ya, mak.. :)

    ReplyDelete
  15. kereenn, menang lagi neh Mbak sary....congratsss..

    ReplyDelete
  16. @Jembersantri: terima kasih :)

    @Ririe Khayan: tengkiu, mak!.. ^_^

    @mohamad rivai: kalo sudah rejekinya, pasti dapat kesempatan juga. jangan berhenti mencoba aja.. :)

    ReplyDelete
  17. @mbak/mas Anonymous:
    karena ini bukan lomba seo/semi seo, gak pake optimasi apa-apa.. penilaian sepenuhnya berdasarkan kriterian yg ditentukan juri CMIIW

    ReplyDelete
  18. kereen mak, selamat ya mak... :)

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)