Panen Kecil

rumah masa kecil

Salah satu kenangan masa kecil yang masih kuingat dengan baik adalah halaman rumah kami yang penuh dengan beraneka jenis tanaman dan pohon buah-buahan. Tanah seluas 800 meter itu adalah surga makanan bagi aku dan saudara-saudaraku. Aku dan salah seorang kakakku sering mencuri tebu di halaman belakang. Loh koq mencuri? Iya, soalnya khusus untuk tebu, kami dilarang mengambil sendiri :D


Pepaya, mangga, jeruk, jambu air, jambu batu, aneka pohon pisang, delima, sirsak, alpukat, durian, nangka, tebu, tanaman umbi-umbian seperti singkong, ubi, jagung, semuanya tumbuh dengan subur di halaman rumah. Itu belum termasuk macam-macam tanaman bumbu dapur, cabai, tomat dan bunga-bungaan.Bapak dan ibu memang senang menanam apa saja. Bahkan sampai usia mereka lanjut pun ibu dan almarhum bapa (sebelum meninggal) kesibukannya hanya seputar urusan tanaman dan panen.

Kebanyakan bibit pohon buah Bapa bawa dari kampung halamannya di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Semasa Bapa masih sehat dan kuat bepergian jauh, Bapa pasti membawa oleh-oleh sekarung buah-buahan.

Aku tidak serajin dan setelaten ibuku untuk urusan bercocok tanam. Mau tau kenapa? Karena aku takut cacing.. Ketakutan itu membuatku malas berurusan dengan tanah.

Suamiku rupanya lain lagi. Meskipun dia pun tidak setelaten kedua orangtuaku, dia mempunyai minat yang sama besarnya dalam hal bercocok tanam. Impiannya adalah pensiun dini dan menggarap tanah serta bercocok tanam di pedesaan. Hihihi.. cita-cita yang agak kuno untuk mahluk kota yang terbiasa hidup modern, ya? Tapi aku suka membayangkan seandainya memang seperti itu hidup kami kelak :)

Setahun terakhir ini, suamiku mulai rajin menanam bibit buah-buahan di halaman. Beberapa tahun yang lalu, kami berdua sudah sempat mulai memanfaatkan halaman rumah untuk ditanami bermacam-macam tanaman. Tapi gara-gara mendapat serangan hama belalang, semua jadi gagal total dan kemudian kami mulai memelihara berbagai jenis hewan peliharaan sehingga perhatian kami teralihkan. Nah, sekarang pet kami tinggal 5 ekor anjing, 3 diantaranya sudah tua jadi tidak terlalu merepotkan. Don lebih sering tinggal di kandangnya dan Junior juga anjing manis yang sibuk dengan urusannya sendiri, keinginan untuk memanfaatkan lahan kosong di rumah muncul kembali. Pengalaman suami selama 2 tahun terakhir ini pergi ke pelosok-pelosok tanah air untuk mencari sumber air bersih juga membuka kesadaran kami tentang pentingnya pohon untuk menyimpan air dalam tanah, sehingga kekeringan seperti yang pernah kami alami di musim kemarau yang lalu tidak akan terjadi lagi.

Awalnya adalah ibuku, yang menanam biji mangga di sudut halaman. Setahun kemudian, ketika ibu sedang berkunjung ke rumah, beliau mendapati kalau biji mangga yang dulu ditanamnya sudah tumbuh menjadi pohon kecil. Suamiku senang sekali dan langsung mulai menanam bibit-bibit yang lain. "Tidak perlu beli bibit, manfaatkan saja sisa dari yang kita makan," katanya. Jadi sejak itulah, apapun kami tanam. Kacang hijau (sudah pernah panen), tomat (sudah panen), mentimun (sudah panen). Saat ini kami sedang macam-macam mangga, pepaya, lengkeng, semangka. Bahkan kalau tidak salah biji melon pun termasuk salah satu buah yang ditanam, namun aku belum melihat penampakan hasilnya :D

buah pepaya hasil kebun sendiri
Kemarin, suamiku mendatangiku sambil membawa sebuah pepaya kecil yang sudah berwarna kuning. "Panen pepaya!" serunya. "Masih banyak di pohonnya, semoga bisa matang pohon semua dan gak keduluan burung," katanya lagi.

Ah, memang masih panen kecil-kecilan. Tapi rasanya masih sama menyenangkan ketika masih kecil dulu keluargaku panen buah-buahan dan makan buah hasil panen di halaman sendiri.


masih banyak di pohonnya, gak perlu beli lagi :D

pohon kacang hijau

panen mentimun 2 tahun lalu

10 comments

  1. Menyenangkan sekali Mbak.
    Bisa makan dari hasil kebun sendiri. Pasti rasanya akan sangat berbeda daripada beli. Selamat pagi Mbak :)

    ReplyDelete
  2. pagi prit.. Senangnya tuh awet.. :)

    ReplyDelete
  3. rumah masa kecilnya emang keliatan asri ya ...

    Saya gak suka berkebun, kalau hasilnya sih gak nolak, heheh. Kalau sekarang ini halaman penuh tanaman, itu karena Bapak saya. Udah menanam pohon markisa ? Kalau kebetulan ke Bandung lagi, ntar dikasih deh buahnya yg udah bisa dijadiin bibit .. :)

    ReplyDelete
  4. ada rasa kepuasan tersendiri ya mbak kalau panen

    ReplyDelete
  5. seneng ya klo bisa panen dari hasil kebun sndiri..
    sementara aku baru bisa panen cabe nih..hhehehe..
    kelengkeng, sirsak, srikaya, durian, dan nangka msh harus menunggu lama.. :D

    ReplyDelete
  6. @dey: markisa? mauuuu :))

    @lidya: banget! :D

    @tita: kesabaran biasanya berbuah manis hihihi..

    ReplyDelete
  7. mau byk atau sdkt kl hasil panen sendiri emang sesuatu ya :D

    ReplyDelete
  8. Wah ... asik bener nih ...
    Menurut kabar ...
    Berkebun itu bisa menghilangkan stress lho ...

    Salam saya Bu Sary

    ReplyDelete
  9. @nh18: asal ga ketemu cacing aja, om hihihi..

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)