Tulisanmu Harimaumu

Sebenarnya aku tidak ingin menulis tentang ini karena berhubungan dengan orang lain. Tapi mudah-mudahan ada pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini, terutama bagi diriku sendiri.

Beberapa hari yang lalu seorang teman -sebut saja A- menghubungiku. Dia bercerita kalau akhir-akhir ini dia merasa terganggu dengan perilaku seorang teman, sebut saja B -yang kukenal juga dengan baik- di dunia nyata dan di dunia maya. Kami semua ini bisa dibilang cukup aktiflah berkomunikasi di dunia maya, karena memang jarang bertemu.

Aku terkejut ketika mendengar keluhan A karena sebenarnya aku pun merasakan hal yang sama. Tapi karena aku menyadari kalau aku, meskipun cukup dekat dengan B, tidak memiliki hak apapun untuk mengusik eksistensinya di dunia maya, memilih menghindar dengan caraku sendiri tanpa menyakiti perasaan B lebih jauh. Aku, memilih me-mute akun Twitternya dan meng-hide akun Facebook-nya dari akun Facebookku, sehingga aku tidak perlu membaca tulisan dan status-statusnya yang membuatku tidak nyaman. Aku tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada orang lain, termasuk kepada A karena menurutku itu hanya ketidaknyamanan yang aku rasakan secara pribadi. Bisa jadi orang lain menyukai gaya tulisannya B, jadi buat apa aku membesar-besarkan hal tersebut.

Kenapa aku tidak unfollow atau unfriend saja dengan B? Atau sekalian saja menggunakan fitur block? Aku memang tidak bermaksud memutuskan hubungan pertemanan dengan B, karena apa yang B lakukan sepenuhnya pilihan dia sendiri. B pasti sedih dan kecewa kalau tau aku meninggalkan dia, sementara B tidak mengetahui kalau sebenarnya ada banyak orang yang tidak respek, menghakimi dan memakinya karena membaca tulisan-tulisannya dan A bukan satu-satunya orang yang pernah menyatakan merasa tidak nyaman setelah membaca tulisan-tulisan B. Sebagai teman yang baik, aku selalu berusaha mengingatkan B untuk memperhalus gaya bahasanya dan tidak mengumbar masalah pribadinya di ruang publik. Tapi tampaknya dia tidak peduli karena sampai hari ini B masih melakukan hal itu.

Menurut B pencitraan itu tidak penting, tak masalah apa yang orang katakan tentang dia, karena belum tentu yang dia tulis itu benar. Tapi aku mengenal B dengan cukup baik dan cukup lama, apalagi A yang kenal B sebelum aku. Kami berdua tidak mudah dikelabui dengan perkataan B kalau dia hanya sekadar iseng saja. Jadi wajar kalau kami khawatir karena kami bisa memastikan 98 persen dari tulisan-tulisan B itu adalah gambaran dirinya yang sebenarnya.

Pencitraan itu penting asalkan wajar dan tidak berlebihan. Kenapa? Sebagai mahluk sosial kita tidak bisa melepaskan ikatan dengan orang-orang yang disebut keluarga. B sudah memiliki anak. Aku dan A mengharapkan, paling tidak B bisa memberikan citra baik sebagai orangtua demi kehormatan anak-anaknya.  Citra baik itu tidak bisa diperoleh hanya dengan menuliskan status tentang rasa cinta kepada anak, tapi di waktu yang lain begitu sering kami dan juga orang lain melihat betapa B sering mengabaikan anak-anaknya demi hal lainnya. 

B juga sering mendapatkan masalah dalam berhubungan dengan orang lain. Dia sering merasa kecewa dan ditinggalkan secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Mungkinkah mereka itu merasakan seperti apa yang aku dan A rasakan? Entahlah.. 

Terus terang, aku sudah kehilangan cara untuk menasehati B, sampai akhirnya aku memutuskan lebih baik tidak mau tau berita tentangnya. B sudah dewasa, meskipun aku mengkhawatirkan anak-anaknya, tapi aku masih menyimpan sedikit kepercayaan kepada B bahwa sesungguhnya dia orangtua yang baik. Aku juga tidak menyarankan apa-apa kepada A. Ketidaknyamanan yang dirasakan oleh A adalah pengalaman pribadinya selama berhubungan dengan B. Mungkin kami berdua ini sekarang memilih menunggu B di belakang layar saja dan membiarkan dia bertualang mencari apa yang dibutuhkannya. B akan tetap memiliki aku, dan pastinya A, sebagai teman-temannya sampai kapan pun.

Kalau pepatah lama bilang mulutmu harimaumu, untuk B pepatah yang tepat mungkin tulisanmu harimaumu..


B, semoga Tuhan melembutkan hatimu dan melapangkan jalanmu.
Aku tidak pergi hanya sedikit menjauh..
Maafkan aku..


8 comments

  1. Halo mbak Sary... apa kabar...?
    Gimana kehamilannya? Sudah berapa bulan? Semoga sehat semua yaaa...

    ReplyDelete
  2. Aku sering baca status2 di facebook yang sebenarnya nggak patut bila diungkapkan di sebuah jejaring sosial umum seperti itu. Memang benar ya Mbak, dari tulisan tulisan tersebut tercermin kepribadian seseorang. Kadang sebel banget lihat status2 kayak gitu. Memaki-maki seseorang secara langsung dan berharap orang yg dimaki tersebut melihat satus yg ditulis. Ohhh, geram sekali melihat itu Mbak...

    Semoga sehat selalu ya Mbak :)

    ReplyDelete
  3. Wah fotonya kok pensil patah? Aku nggak ngerti siapa yg dimaksud mak, moga2 bukan aku heheheee... Tp kadang aku bertanya pd diri sendiri jk kejadian itu terjadi pd temanku, apakah kalau aku nasehati berarti aku sok benar, apakah kalau aku diamkan berarti aku orang yg tdk pedulian. Meski begitu, biasanya aku langsung tenggelam begitu ybs ngomong kasar meski gak jelas pd siapa. Krn nyaliku kecil, takut sm orang yg kasar meski aku tegas. Kalau ada yg spt itu ya sama, aku tinggalin....

    ReplyDelete
  4. hmmm... aku juga meng-hide beberapa teman dari newsfeed FB, biasanya juga karena ndak nyaman sama tulisan2 mereka.. risih etc dan juga efek negatif begini sih suka ngaruh... saya mendingan konek sama yg positif2 aja deh... tapi klo di twitter, saya ga bisa nge-mute :))) jadi biasanya klo saya ndak nyaman sama akunnya ya udah unfollow saja :)

    Buat saya sih sebenernya kepribadian orang itu MALAH bisa diliat dari tulisannya lho... soalnya klo berkata2 kadang orang bisa ndak jujur.. tapi kalo nulis, rada susah gitu ya klo mo pura2 :D
    IMO sih...

    Sehat selalu ya mbak ;-) rada jarang keliatan nih :)

    ReplyDelete
  5. @niken: hai mbak! kabar baik:) alhamdulillah sudah 5 bulan. makasih doanya.. *hug*

    @prit: sehat juga untukmu, ya :)

    @lusi: emang ngerasa, mak? hahaha. memang kadang2 suka muncul rasa ga enak.., apalagi kl tulisan2nya sdh vulgar dan kasar.. kl dia tak pedulu, lebih baik mundur saja.. :(ca

    @carra: setuju.. pertemanan itu harusnya memiliki energi yg positif dan bermanfaat utk kedua belah pihak..

    ReplyDelete
  6. Ini masalah klasik jejaring sosial ya mbak. Saya justru kasian sama yang suka curhat vulgar dan kasar di sosmed karena mereka mungkin nggak punya tempat curhat di dunia nyata.

    Biasanya kalau kenal baik sih saya bilang aja ke yang bersangkutan. Tapi kalo tiap update selalu begitu saya pilih unfriend atau unfollow sekalian

    ReplyDelete
  7. @alfa: iya kasian.. setiap orang pasti ada saat ingin mengeluh, marah2 atau barangkali punya fantasi vulgar.. tapi kl dia hobi menulis, baiknya privat aja gitu, jangan di public area.. orang ga tau masalah dia pun ga pa pa.. kecuali emang orangnya suka cari perhatian.. , itulah yg terjadi sm B -_-

    ReplyDelete
  8. @Bpunk:jangankan komen apalagi jempol, bacanya aja udah males.. :D
    salam kenal juga, ya :)

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)