Penggemar Cilik

Sebagai pasangan yang memiliki banyak anak, kesempatan untuk berdua-duaan itu langka. Tapi aku dan suami pun sebenarnya lebih merasa nyaman dan senang melakukan aktivitas bersama anak-anak daripada hanya berdua. Rasanya aneh dan ada yang kurang setiap kali kami berdua tanpa anak-anak, yang ada malah akhirnya cepat-cepat ingin bersama mereka lagi.

Undangan makan malam disuatu hari dari kakak ipar yang sedang berulang tahun, menjadi salah satu momen untuk kami berduaan. Ceritanya kami datang terlambat dan sesampainya di restoran tempat acara, semua tamu sudah pulang. Tinggallah kakak ipar sendiri yang setia menunggu kami berdua. Karena beliau pun ada urusan lain yang penting, aku dan suami akhirnya ditinggalkan berdua dan bebas memesan makanan apa saja. Asyik, bisa dinner berdua. VIP room dan gratis lagi, kataku dalam hati. 

Ruangan VIP yang temaram dan terpisah dari meja tamu yang lain membuat suasana menjadi lebih privat untuk aku dan suami. Ah, tapi lagi-lagi kami ingat anak-anak dan membayangkan seandainya anak-anak ikut, pasti lebih seru dan menyenangkan.

Saat asyik menikmati santapan, ketenangan kami terusik dengan masuknya seorang anak laki-laki, mungkin umur 10-12 tahun, yang bernyanyi dengan suara keras sambil memukul-mukul meja pelayan di samping meja makan kami. Anak itu terus mondar-mandir di dekat kami sambil ribut sendiri. Aku mengedarkan pandanganku, mencari tahu yang mana orangtua anak itu, tapi tampaknya tidak ada yang berusaha menegur atau memanggil anak itu ketika membuat keributan.

Aku dan suami sebenarnya tidak terlalu memedulikan ulah anak itu. Kehebohan seperti itu biasa terjadi di rumah. Memiliki anak dengan karakter yang berbeda-beda membuat kami belajar tidak gampang men-judge anak-anak. Orang yang sudah dewasa saja bisa berubah, apalagi anak-anak, kan? Jadi rasanya tidak adil kalau kita gampang sekali memberi label negatif kepada anak, apalagi anak orang lain yang kita tidak kenal. Jadi, aku dan suami santai saja melanjutkan makan malam kami dan mengabaikan anak tadi.

Dor! 

Tiba-tiba terdengar sebuah teriakan yang sangat keras di telingaku, membuatku ikut berteriak karena kaget bukan kepalang. Jantungku langsung berdebar-debar dan telingaku berdenging sakit. Aku memalingkan wajah dan melihat anak kecil tadi dekat sekali di belakangku. Seketika aku naik pitam tapi kutahan kemarahanku, sementara si anak lari menjauh. Suamiku yang juga sama-sama kaget, berusaha menenangkan aku. Bayangkan saja, aku sedang hamil besar, mencari posisi duduk yang nyaman pun susah, tiba-tiba terlonjak dari kursi karena kaget. Aku melampiaskan marahku kepada suami, "Anak siapa sih, itu, koq gak ada yang nyariin? Orangtuanya gak denger kalau dia teriak-teriak?" 

"Aku liat sih anak itu memang berdiri di belakang mama, tapi aku juga gak nyangka dia bakalan teriak sekeras itu," kata suamiku. Hua, aku langsung tambah mangkel. Koq, aku gak dikasih tau kalau ada anak itu di belakangku. Makan malam yang tadinya tenang jadi sedikit tegang karena aku mengomel. 

Anak kecil tadi, tanpa ada rasa bersalah, kembali lagi ke arah kami, masih sambil nyanyi gak jelas dengan suara lantang. Makanku jadi gak tenang, sebentar-sebentar mengawasi anak itu, khawatir dia berbuat ulah tiba-tiba seperti tadi. Suamiku pun jadi ikut-ikutan mengawasi anak tadi. Aku masih heran kenapa tidak ada yang menegur dan mencari anak itu. Dan kenapa dia tidak mengganggu tamu-tamu yang lain? Tapi walaupun kesal, aku tidak berpikir anak itu nakal. Ya, mungkin saja dia memang anak yang periang dan pemberani. Mungkin dia anak pemilik restoran, makanya bebas berkeliaran tanpa takut ada yang memarahi.

Anak itu mulai berjalan ke belakangku lagi. Tapi kali ini aku lebih waspada dan langsung membalikkan badanku. Dia sudah berada dekat sekali di belakangku. Walaupun masih jengkel, aku bertanya dengan manis, "Ade, mamamu mana? Koq, gak makan?" Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah menghampiri aku lebih dekat. Suamiku dengan sigap memegang tangan si anak yang terulur ke arahku sambil bertanya,"Eh, sini, nama kamu siapa?" Si anak tidak kalah cepat melepaskan pegangan tangan suamiku dan tangan satunya lagi yang bebas tiba-tiba saja mencubit pipiku dengan gemas sambil berkata,"Iiih, kayak Leoni!", kemudian dia langsung lari menjauh.

fiverr.com
Sedetik lamanya aku terpaku dan kemudian tertawa terpingkal-pingkal, rasa jengkelku langsung hilang. Suamiku ikut tertawa sambil bilang, "Untung masih kecil, kalau udah gede, aku ajak berantem nyubit pipi istriku." Menurut suamiku, sepertinya dari tadi anak itu memang "mengincar" aku, makanya dia mondar-mandir terus berusaha menarik perhatian. Kami masih terus tertawa terpingkal-pingkal membicarakan kelakuan si penggemar cilik tadi.

Setelah mencubit pipiku, anak itu tidak lagi menghampiri kami. Tapi rupanya dia membuat kegaduhan di lantai dua restoran, bernyanyi dengan suara keras sambil mengentak-entakkan kakinya ke lantai kayu. Entah apa lagi yang dia lakukan di atas, tapi rupanya telah membuat seorang tamu menjadi terganggu dan memanggil manajer restoran. Aku menyaksikan manajer restoran dengan wajah marah membawa anak itu ke meja orangtuanya, yang ternyata berada tepat di depan ruangan VIP tempat kami makan tadi. Aku yakin mereka bisa melihat dan mendengar jelas semua tindakan anaknya tadi.

Apapun alasan orangtuanya membiarkan kelakuan anak itu, dia telah membuat makan malam kami yang tadinya dipikir bakalan romantis berakhir dramatis walaupun tetap manis :D


4 comments:

  1. wuahaahahhahahahahahah :)))))) kemana sih ortunya bahahahahahhh...

    kebayang pasti manyun2 geli gitu si makRT bahahahahahhh...

    Kayak leoni??? Leoni sapa ya? jangan2 Leoni trio kwek kwek itu ya.. wahahahhh ... :))))))

    ReplyDelete
  2. @redcaraa:
    untung anak kecil.. kalo udah gede, kena tampar kaliii.. :D

    ReplyDelete
  3. waduh kok orang tuanya gak risih ya anaknya mengganggu orang lain? tapi nakalnya anak kecil emang selalu lebih lucu sih daripada nakalnya orang dewasa ^^

    ReplyDelete
  4. @leniwiw:
    pastinya sih orangtuanya punya alasan sendiri kenapa membiarkan anaknya :)

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)