Perjuangan Panjang Bertemu Maira

My mother groaned, my father wept, into the dangerous world I leapt.” 
-William Blake-


Pengalaman 4 kali melahirkan normal dan sekali keguguran, membuat mentalku siap ketika memutuskan untuk hamil dan melewati (lagi) sakitnya proses kelahiran. Paling tidak, aku sudah familiar dengan rasa sakit yang akan kuhadapi dan berbagai keluhan selama hamil, melahirkan dan menyusui nanti. Tapi setiap anak memang memiliki kisahnya masing-masing, bahkan sebelum mereka dilahirkan ke dunia.

Masa kehamilanku kali ini cukup berat. Setelah melewati masa mual dan muntah yang tidak menyenangkan selama kurang lebih 3 bulan, kemudian berhasil melewati serangan virus tokso dan rubella, di bulan kelima kehamilan, aku mengalami pendarahan, sehingga harus bedrest selama kurang lebih 1 bulan. Selagi masa bedrest itu, aku menderita sakit batuk selama 3 bulan, lalu mengalami panas tinggi hingga 40 derajat selama 1 minggu. Akibatnya tubuhku digempur banyak obat-obatan dan makanan supaya daya tahan tubuhku tidak terus menurun. Barulah di bulan terakhir kehamilan, kondisi kesehatanku berangsur pulih dan bisa beraktivitas dengan normal.

Setiap pemeriksaan rutin kehamilan, tidak ada masalah dengan bayi di dalam perut. Posisinya bagus, ketuban bagus, perkembangannya pun normal, sehingga dokter, aku dan suami, semuanya optimis, kali ini pun persalinan bisa dilakukan secara normal. Apalagi katanya, kelahiran anak kelima biasanya jauh lebih cepat dan mudah.

Memasuki usia kehamilan 9 bulan, kami sekeluarga sudah tidak sabar menunggu kelahiran si jabang bayi. Tapi, tunggu punya tunggu, si jabang bayi tak juga kunjung datang. HPL semakin dekat, dan dari pemeriksaan USG, air ketuban pun sudah mulai berkurang. Memasuki minggu ke 38, aku merasakan kontraksi yang cukup stabil, interval 30 menit, selama berhari-hari. Aku memperbanyak aktivitas jalan, nungging, atau apapun yang bisa mempercepat proses kelahiran.

Senin pagi, 22 April 2013, akhirnya aku masuk ruang bersalin, setelah interval kontraksi menjadi 5 menit sekali. Hasil CTG menunjukkan kontraksi bagus dan jalan lahir sudah pembukaan satu. Setelah itu semuanya berjalan begitu lambat. Sampai malam datang, pembukaan tidak bertambah, tetap satu. Dokter sudah melarangku pulang ke rumah. Akhirnya mau gak mau aku dan suami menunggu dan menginap di rumah sakit, di ruang perawatan. Dokter sudah menjadwalkan induksi infus Selasa pagi. Jadi, malamnya aku diminta tidur dan beristirahat, menyiapkan mental untuk menghadapi sakit setelah diinduksi. Kelahiran anakpertama dan kedua, aku juga diinduksi, jadi aku tau, induksi itu artinya sakitnya sakit banget.

Induksi dilakukan pagi-pagi sekali, dan benar saja, dalam waktu 1 jam saja efeknya mulai terasa. Sakit! Menjelang siang, rasa sakit semakin bertambah, tapi pembukaan jalan lahir masih tetap sama, satu cm. Padahal aku tetap bangun, jalan-jalan, buang air sendiri ke kamar mandi. Lepas tengah hari, dosis induksi ditambah, karena aku sudah kelelahan. Harapannya proses persalinan semakin cepat dan bayi segera lahir. Tapi yang bertambah hanya rasa sakitnya saja. Pembukaan jalan lahir tetap tidak bertambah.

Makin lama rasa sakitnya semakin tidak masuk akal. Aku berusaha tetap fokus dan konsentrasi supaya bisa melewati setiap rasa sakit. Tapi tidak berapa lama, aku mulai disergap rasa panik. Ada sesuatu yang berbeda, tapi aku tidak tau apanya yang salah. Rasa sakit terus menerus datang, gak pakai interval-intervalan. Aku berulangkali mengatakan kepada suamiku, ini gak seperti biasanya, biasanya gak kaya gini. Para perawat bergantian menenangkan dan menghiburku. Mereka bilang, tiap kelahiran beda-beda prosesnya, ibu sabar, ya, dan kalimat penghiburan lainnya.

Seperti biasanya prosedur rumah sakit, dokter kandungan baru datang pas last minute. Tapi konsultasi dan pengarahan terus-menerus dilakukan melalui telepon. Salah satu perawat datang dan mengatakan kalau dosis induksi akan ditambah lagi. Suamiku setuju, tapi aku menolak. Sebuah kesadaran menyergapku. Aku tidak mungkin sanggup menahan sakit ini sampai tahap akhir persalinan. Yang kurasa dan pikirkan pada saat itu adalah, rasa sakit yang tidak wajar ini harus berakhir. Aku gak sanggup lagi. Aku menangis. Semuanya harus berakhir. Aku gak akan kuat kalau harus meneruskan.

Di antara erangan kesakitan, bujukan gaduh para perawat, dan suara cemas suamiku, aku menatapnya dan memohon agar menyudahi saja rasa sakit dengan sebuah keputusan, operasi caesar. Tapi permohonanku tidak begitu saja dikabulkan. Para perawat bergantian membujukku supaya tetap tenang dan sabar. Mereka mengatakan itu adalah proses yang harus kulalui. 

Rasanya ingin marah, tapi tak berdaya. Kenapa tidak ada yang bisa mengerti kalau rasa sakit yang kurasakan ini tidak seperti biasa? Aku hanya berharap suamiku mempercayai dan mendukungku. And he did it. Melalui telepon, suamiku mengatakan kepada dokter, dengan pengalamanku melahirkan normal 4 kali, kalau sekarang aku sampai meminta caesar karena sangat kesakitan, pasti ada sesuatu.

Akhirnya, karena aku berkeras untuk tidak melanjutkan diinduksi dan memilih menjalani operasi caesar, persiapan untuk operasi mulai dilakukan. Aku diberi obat penawar sakit, tapi sakitnya sama sekali tidak berkurang bahkan semakin bertambah. Saat kesakitan begitu, aku tetap memilih bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi setiap kali kurasakan dorongan untuk buang air kecil. Meskipun di tengah jalan harus berhenti sambil menangis dan memeluk suamiku karena merasa sakit. Berkali-kali ke kamar mandi sambil kesakitan, dan mungkin juga karena panik, kali kesekian suamiku mengantarku ke kamar mandi, dia tiba-tiba berjongkok dan menangis. Katanya, aku membuatnya takut. Suamiku memintaku untuk tetap kuat demi dia dan anak-anak. Aku tak kuasa menjawab apapun karena sakit yang mendera. Betapa aku ingin meyakinkan dia, sungguh aku tak berputus asa sedikit pun. Tapi kondisiku saat itu memang membuat siapa pun yang melihatku jadi panik dan berpikiran buruk.

Untuk menenangkan aku, dokter anestesi, yang juga seorang hypno therapist dikirim ke kamarku. Sayangnya, dalam keadaan sakit pun, aku tak mudah dipengaruhi. Seperti yang ibuku bilang, anak-anak bapakku terlahir keras kepala seperti bapaknya. Rasanya bujukan dan ucapan-ucapan pak dokter malah mengganggu upayaku untuk fokus melewati semua rasa sakit itu.

Perempuan manapun yang mengalami persalinan normal pasti tau, kalau disetiap rasa sakit, ada jeda untuk  beristirahat dan mengambil nafas. Mendekati tahap akhir persalinan, jeda itu tetap ada meskipun semakin singkat. Sakit yang aku alami pada saat itu tidak seperti itu. Tidak ada jeda sedikitpun, sakitnya terus menerus dan semakin bertambah kuat.

Operasi dijadwalkan Selasa, 23 April 2013, jam 4 sore. Menunggu 30 menit saja rasanya lama sekali. Suamiku berulangkali mengingatkan supaya aku kuat dan tidak menyerah. "Aku menunggu, Moses juga nunggu di rumah. Anak-anak semua menunggu. Mama yang kuat, ya." Aku tak sanggup berkata-kata dan menjanjikan apapun. Hanya menangis dan berusaha sekuatnya untuk melewati setiap sakit yang kurasakan.

Sepanjang proses itu, aku menolak jauh dari suamiku. Tapi ternyata dia tidak diperkenankan ikut mendampingiku operasi. Entah karena kondisiku saat itu atau memang prosedur rumah sakitnya seperti itu. Kalau aku menyerah saat itu, mungkin aku sudah pingsan. Tapi aku berusaha tetap sadar dan konsentrasi untuk tidak mengedan. Karena menjelang operasi, selain sakit yang terus-terusan, aku juga mulai merasakan tekanan kuat di belakang dan rasa ingin mengedan.

Memasuki ruang operasi, aku masih bisa mendengar lantunan ayat suci Alquran yang dipasang dengan suara cukup keras. Ya, di rumah sakit ini, suasana Islaminya memang sangat kental. Kesan ramah, hangat, bersahabat dan damai sangat terasa di rumah sakit ini.

Saat itu, entah bagaimana, tiba-tiba saja aku teringat cerita sahabat mayaku Greiche Anwar (Gege). Gege yang sudah pernah dua kali melahirkan caesar, pernah menulis di blognya kalau suntik anestesi di tulang belakang itu sakitnya gak ketulungan. Aduh, tiba-tiba aku merasa takut. Sesakit-sakitnya kontraksi yang tengah kurasakan, aku sudah tau rasanya. Tapi ditusuk tulang belakang? Sambil kesakitan, aku bertanya kepada perawat apakah aku boleh dibius total saat operasi? Tentu saja jawabannya tidak, katanya kalau dibius total, masa recovery-nya akan semakin lama. Ya Tuhan, kali itu aku benaran panik.

Aku belum pernah mengalami sakit apalagi tindakan medis serius seperti operasi. Sakit paling berat yang pernah kualami dan membuatku harus rawat inap di rumah sakit adalah typus. Itupun kejadiannya sudah lama sekali. Jadi menghadapi operasi dalam keadaan sadar, kesakitan dan tanpa suami di sisiku, rasanya tidak bisa lagi kujelaskan dengan kata-kata. Tapi satu hal, aku tidak merasa takut. Bahkan, ketika anestesi sudah mulai dilakukan, rasa panik yang sebelumnya sempat kurasakan, hilang. Aku gak bisa bilang, ditusuk tulang belakang itu gak sakit, tapi rasa sakitnya masih kalah jauh dengan sakit karena kontraksi yang masih terus kurasakan. Sekuat tenaga dan sekuat hati aku berusaha mengikuti, menikmati, menahan atau entah apalah namanya, rasa sakit dan perasaan ingin mengedan yang semakin kuat.

Entah kenapa pula, obat bius yang disuntikkan melalui tulang belakang itu tidak juga kunjung bisa masuk. Entah berapa kali aku ditusuk, tapi setelah semuanya usai suamiku memeriksa, katanya ada 13 lubang kecil bekas tusukan jarum di sana.

Setelahnya, semua berjalan cepat. Bayiku lahir, dan aku hanya mendengar para dokter dan tim medis berucap Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar. Kemudian dokter Teti, dokter kandunganku mengatakan kalau bayiku bule. Aku lemas, lelah, mengantuk, dan tak berdaya hanya mendengar tangisan bayiku yang dibawa entah kemana. Kemudian, suster membawanya ke dadaku dan membiarkannya menyusu. Sebelumnya, seperti kelahiran Bimasakti dan Moses, aku sudah berencana IMD, tapi kali ini IMD-nya gak sempurna. Tak apalah, yang penting bayiku lahir selamat.

Selesai operasi, di ruang pemulihan, suamiku diizinkan menemaniku. Dia datang dengan mata merah, meminta maaf karena sempat meragukan instingku sebagai seorang ibu. Katanya, aku memang tidak mungkin melahirkan normal. Meskipun kepala bayi di bawah, tapi wajahnya mendongak sehingga tidak bisa masuk ke jalan lahir. Saat itu aku masih belum sanggup mencerna semuanya. Aku hanya mampu bersyukur, bisa melewati semuanya dan memilih operasi caesar. Memang biaya persalinan dan perawatanku membengkak dua kali lipat, memang aku mengalami sakit yang berlipat-lipat, sakit karena kontraksi dan sakit setelah operasi, tapi pilihan di saat terakhir telah menyelamatkan nyawaku dan bayiku.

Terima kasih Tuhan untuk pertolonganMu. Terima kasih suamiku untuk keikhlasan dan kesabaranmu mendampingi aku. Terima kasih Ibu untuk doa-doamu. Terima kasih anak-anakku untuk pengertian kalian ditinggalkan aku selama berhari-hari di rumah dan saling menjaga satu sama lain. Terima kasih keluarga, sahabat, untuk perhatian dan doa kalian. Teman-teman blogger dan dunia maya, yang sapaan, doa, dan komentar-komentar kalian yang tidak bisa kubalas satu persatu. Bayi kecil kami, lewat perjuangan dan kisahnya sendiri, kini telah hadir di tengah keluarga kami.


80 comments:

  1. Ah Mak, perjuangan melahirkan memang luar biasa. Jadi ingat rasa sakit induksi waktu melahirkan anak pertama, sakiiit banget. Lebih sakit dibanding normal tanpa induksi dan epist. Selamat akhirnya bisa mneuntaskan perjuangan Mak..

    ReplyDelete
  2. jadi inget ngerinya pas nungguin kakak saya melahirkan anak keduanya mak. alhamdulillah normal, tapi bagi saya sudah cukup membuat saya merinding dan tidak betah untuk menunggui, malah mewek sendiri saya :( dan akhirnya ditungguin ibu dan kakak ipar saya (suaminya masih di pulau seberang). waktunya pas lebaran pula, jadi di tempat bidannya sepiiii banget. setiap mendengar kakak saya mengejan, saya merinding dan nangis. setelah dedeknya lahir, saya berani liat dan pegang setelah dibersihkan. dan mau pingsan ketika disuruh masuk ke kamar persalinan buat nemenin kakak saya sebentar pasca kelahiran itu.
    maap ya mak, jadi curcol gini hehehe :)
    perjuangan melahirkan memang tiada taranya bagi seorang ibu :D
    salam buat dedek cantik ya mak :D

    ReplyDelete
  3. Selamat yah mak buat kelahiran putri nya. iya nih, bule banget yah Maira ^^.. Btw, saya lairan naura juga di induksi dan sakitnya masyaalloh pas udah bukaan 6. jadi pengen buat tulisan tentang kelahiran naura.. :)

    ReplyDelete
  4. Emak sary...sampe mules aku bacanya, sehat selalu ya mak n si cantik juga ya, bule banget

    ReplyDelete
  5. Subhanallah, baca kisahmu ini bikin merinding, mak. Emang emak hebat dan kuat. Aku aja sampe ga bisa tenang, tiap hari nanyain terus. Pas dapat kabar udah lahiran, duh berasa pingin meluk. Maapken belum sempat tengok nih mak, Insya Allah minggu ini yaa. Peluukk

    ReplyDelete
  6. speechless nyaaaa baca ini.. T___T aku ngelairin caesar 2x karena lingkar pinggulku kurang 2 cm untuk jalan bayi. Dan dibius tulang belakang itu sakit memang, tapi ga sesakit rasa yang dirimu rasakan kayaknya Mak..

    maaf ga bisa nengokin. peluk cium buat Maira dan emaknya.

    Semoga cepat pulih ya semua luka2 operasinya...

    ReplyDelete
  7. Duh maak..aku jadi mules baca tulisanmu, tau bgt rasanya sakit krn induksi, krn dua kali ngalamin pas anak pertama dan kedua

    Alhamdulillah akhirnya perjuangannya terlewati ya mak, muaacchh buat Dede Maira, semoga sehat selalu :*

    ReplyDelete
  8. Aku bacanya nyerii, jadi inget waktu aku melahirkan normal.. tau banget rasanya diinduksi itu seperti apa..
    Alhamdulillah semua sehat dan baby Maira cantik, semoga cepet sehat ya Mak Sari :*

    ReplyDelete
  9. selamat ya mak sari, cantik sekali maira, peluk cium untuk sikecil maira

    ReplyDelete
  10. Bacanya jd ikutan mules :(

    ReplyDelete
  11. Haduuuh mak, ke lima ya ini, aku gak bisa ngebayangin, bisa gak ya nambah lagi. hiks.... sakiit. mak Sary hebat, pasti Maira juga hebat ya

    ReplyDelete
  12. Perjuangan berat itu berhadiah malaikat mungil bernama Maira... semoga dia menjadi sholihah dan jadi kebanggaan orang tuanya.

    Kecup sayang buat Maira.... :-*

    ReplyDelete
  13. bayinya cantik sekali. Aku juga 3 anak diinduksi semua, dan memang sakitnya terus-terusan. Gak salah memang jihad seorang ibu pada saat melahirkan, karena taruhannya nyawa. Tapi entah kenapa ya rasa sakit itu hilang hanya hitungan hari, ehehehe.. trus, pengen nambah anak lagi. Pengalamanku itu, Mak.

    ReplyDelete
  14. @Ety Abdoel:
    iya, mak. sakit banget *_* tapi babynya memang gak bisa lahir normal, jadi sakitnya gak selesai-selesai :(

    ReplyDelete
  15. @nyonyahm:

    hehe gpp curcol, mak. pengalaman tiap orang berbeda :)

    ReplyDelete
  16. @Istiq Ps:

    anak pertama dan keduaku jg diinduksi, tapi karena gak ada masalah, meski sakit tp jadinya cepet lahir :)

    ReplyDelete
  17. @Mira Sahid:

    Padahal pas dirimu bolak-balik nanya itu, aku lagi kesakitan, mak :')

    yang malem-males pas baru selesai banget balik dari ruang pemulihan abis operasi.

    makasih, ya untuk support dan perhatiannya :') *peluk*

    ReplyDelete
  18. @RedCarra:

    sampe kurasa-rasain sakitnya pas dibius itu :D

    makasih, mommy carra *peluk* semoga suatu hari ada rezeki waktu kita bertemu, ya :')

    ReplyDelete
  19. @Aulia Gurdi:

    iya, mak, sakit! aku pun sudah pernah dua kali diinduksi sebelumnya.

    terima kasih, ya :*

    ReplyDelete
  20. @oL1n3 :

    terima kasih, mak *hug*

    ReplyDelete
  21. @Lisa Tjut Ali:

    makasih, mamak! :)

    ReplyDelete
  22. @EGi :

    kan udah lewat, mak.... :)

    ReplyDelete
  23. @Nurul Habeeba:

    iya, kelima, mak :)

    terima kasih, ya :)

    ReplyDelete
  24. @Ellys Utami:

    terima kasih doanya, mamak! :')

    ReplyDelete
  25. @Leyla Hana Menulis:

    iya, mak. tadinya aku pun sudah siap mental karena sudah tau kalau diinduksi bakalan sakit (pengalaman anak ke 1 dan 2). tapi kan abis itu cepet prosesnya dan ilang sakitnya setelah lahir.

    yang ini ternyata memang gak bisa lahir normal, harus caesar, karena baby gak bisa masuk jalan lahir. kalau dipaksain, lehernya bisa patah atau akunya pendarahan karena robek kemana-mana :(

    jd bersyukur udah memutuskan caesar. jadi tau juga melahirkan normal lebih enak (setelahnya) daripada melahirkan caesar :)

    ReplyDelete
  26. Merinding bacanya mak,...sungguh perjuanganmu sangat luar biasa demi melihat si kecil terlahir ke dunia. Subhanallah...
    Dan lihatlah, hadiahnya luar biasa, baby maira cantiiiikk sekali... * titip kiss untuk Baby, karena blm bisa menjenguknya :)

    ReplyDelete
  27. Subhaanallah, membaca postingan ini kedua mata bunda ber-kaca-kaca karena kebayang gimana sakitnya. I'd been there almost on the same condition. Sary benar-benar kuat menahan sakit. Tapi anastesi itu bunda baru dengar lho di suntikkan dari tulang belakang. Hiii...sakitnya. Tapi alhamdulillah segalanya telah berlalu dan si kecil mungil telah membuat mamanya mampu membuat postingan yang demikian bagus. Salut buat Sary. Cium buat Maira yang bule. XoXo.

    ReplyDelete
  28. Alhamdulillah, baby sehat dan mamahnya juga sehat....

    Ikutan mules bacanya mbak, secara terakhir aku juga diinduksi, dan lumayaaannn, beda banget sama anak2 sebelumnya :)

    Kebayang paniknya suami ...hehehe...sayang ya, ga kepikir buat motret *pdhl blogger biasanya kemana2 siap kamerah*

    Peluk erat,

    Devi Y

    ReplyDelete
  29. mbak...nangis bacanya :")
    alhamdulillah semua sehat :")
    iya suntik anastesi itu sakit :( apalagi aku yang masih baru dan langsung hamil kembali....
    tapi bismillah aku ingin normal...bismillah

    minta doanya yaa

    welcome maira :*

    ReplyDelete
  30. Mak, aku juga mengalami hal yang sama. Persalinan anak pertama, aku diinduksi 2 hari. Bayi ga bisa keluar karena ga pembukaan juga. Terus, disuntik anestesi epidural, soalnya ga tahan lagi sama sakitnya induksi. Perjalanan seorang ibu memang luar biasa ya, Mak. Aku salut, Mak Sary masih tetap beraktivitas dan mau sibuk ngurus ini itu. I adore you!

    ReplyDelete
  31. Aku jadi menarik kesimpulan dari kisahmu, Mak Sary
    Betapa pun ingin lahiran normal
    Tapi harus tetap mengikuti insting seorang ibu ya
    Karena ibu yg merasakan 'there's something happen with my baby'
    Mau normal atau SC yg terpenting semua selamat dan sehat

    ReplyDelete
  32. Alhamdulillah...akhirnya perjuangan itu berbuah indah. Maira...she is beautiful baby. Penasaran pengen liat dedeknya. Mak Sarry she is strong momy. Ciummm..buat Maira.

    ReplyDelete
  33. Aih menitik air mata saya membacanya. Sayapun pernah mengalami hal yang sama seperti Mak Mira Sahid. Namun saya dulu bukan milih Operasi Caesar, tapi milih di Facum (karena saya pikir lebih murah dan sakitnya enggak seperti pasca Operasi Caesar, ternyata fikiran saya ini salah). Sakit pasca di facum sungguh luar biasa sampai saya menangis tak kuat menahan rasa sakitnya. Saya minta obat penawar rasa sakit ke perawat, eh malah dibilang itu memang proses dan sengaja dibuat seperti itu agar rahim cepat kering, aduh......
    Tapi Mak Mira Sahid ada yang lebih sakit dibanding itu semua yaitu anak saya itu diambil paksa oleh mantan suami saya karena perceraian, saya hampirrrr saja gila beneran satu tahun setelah cerai. Anak saya itu laki2 lahir tahun 1995, dan saya tak pernah ketemu anak saya itu sejak tahun 1999 sampai sekarang (sudah 14 tahun saya tak pernah bertemu dengan anak saya ini).
    Do'a kan saya ya Mak agar bisa ketemu dengan anak saya tersebut di suatu hari nanti, namanya Muhammad Kusumawardhana sekarang tinggal di Surabaya. Saya tinggal di Depok.

    ReplyDelete
  34. selamat yah mba, luar biasa walau udah tau sakit terus dicoba yah :D

    ReplyDelete
  35. Mbak sari, selamat ya ..
    Mbok e dan bayi Maira , insya allah sehat ya .. tinggal perjuangan ASI nih .. hehehehe ...

    ReplyDelete
  36. Mak Sary selamat ya..


    benar-benar perjuangan yang luar biasa...

    baby maira cantik sekali...^^

    ReplyDelete
  37. tuh kan beneran, saya jadi melow mbak Sary :)

    tapi perjuangan mbak benar2 luar biasa. sy melahirkan 2 kali normal saja. tanpa induksi. cuma anak pertama sebentar, anak kedua lamaa nunggunya sampai dia lahir di rumah sakit.

    yg bikin melow, kalau ada cerita lahiran. selalu ingat lagi jaman anak kedua dinyatakan prematur, masa kritisnya, masa dia di tidur di inkubator dan saya di rumah. dan masa2 yg tidak bisa sy lupakan.

    alhamdulillah anak sy yg prematur sehat sampai sekarang.

    dan syukurlaah si cantik Maira juga sehaat. ibunya juga bisa pulih dan sehaat.

    salam sehat slalu ya mbak

    ReplyDelete
  38. subhanallah..
    speechless baca ceritanya..

    selamat atas kelahiran putrinya ya mak :)

    ReplyDelete
  39. Anaknya lici bangt mbaaakm..

    Waahh.. gak kebayang yak perjuangan seorang ibu iu gimana.. tapai seberapa sakitpun teep dong yak perempuan itu maunya hamil dan punya anak *eluselusperut* :D

    ReplyDelete
  40. @Irma Senja:

    Makasih, neng geulis :) Alhamdulillah semua udah lewat :')

    ReplyDelete
  41. @yati rachmat:

    Makasih, Mak bunbun. Makasih juga udah menengok kami di rumah sakit, pas lagi lemes-lemesnya :')

    ReplyDelete
  42. @yudhistira31 :

    dari rumah sih udah rencana mau motret-motret, mak. tapi ternyata sikon gak mendukung :)

    ReplyDelete
  43. @suria riza :

    Insya Allah semua berjalan lancar untuk kalian berdua ya, dear :*

    ReplyDelete
  44. @Haya Aliya Zaki:

    I adore you too, Mak. Makasih, ya :')

    ReplyDelete
  45. @:: astri hapsari ::

    Iya, mak, itulah yang aku rasakan. Meski gak tau apa yang salah, aku bersyukur berkeras mengikuti kata hatiku saat itu

    ReplyDelete
  46. @etybudiharjo:

    Kan udah liat fotonya, mak. sama aja koq, cuma lebih lucu, dan bisa dicium-cium :D

    ReplyDelete
  47. @Jay Boana:

    Kalau menyerah, adik bayinya gak lahir, dong hehe

    Makasih, ya :)

    ReplyDelete
  48. @ titin:

    Alhamdulillah, ASi-nya buanyak :D

    ReplyDelete
  49. @Novia Wahyudi:

    Makasih, mamak! :*

    ReplyDelete
  50. @Heni Prasetyorini:

    Ah, Mak... speechless *peluk erat*

    ReplyDelete
  51. @Nathalia Diana Pitaloka:

    Alhamdulillah, makasih, mak :')

    ReplyDelete
  52. @niee:

    anak itu pelengkap kebahagiaan :')

    ReplyDelete
  53. Merinding bacanya...
    Just sharing kali aja masih mau hamil lagi, aku lahiran 2x semha induksi. Jadi gak tau nikmatnya lahir tanpa induksi. Lahiran kedua lebuh lama dr pertama dan hopeless. Tiba2 aku inget ada bius ILA. So aku minta itu Mak. Lumayan, gak sakit sampai lahiran dan bisa lahiran normal.

    ReplyDelete
  54. Tidak saya sangka perjuangan untuk melahirkan Maira demikian berat dan panjang ya Bu ...

    Kemarin itu Bu Sari tidak cerita selengkap ini ...

    (ya iyalah Om ... kalo Om dateng sama Bundanya anak-anak ... naaa itu mungkin baru Bu Sary cerita ...)

    :)

    Sehat-sehat semua ya BU


    Salam saya

    ReplyDelete
  55. mrinding bacanya, langsung keinget perjuangan ibu saat nglahirin anak pertamanya ini, :'(

    semoga kita bisa jadi anak berbakti sama ortu ya mak,

    ReplyDelete
  56. Ya Allah mak..... ikut ngerasain deh spt apa sakitnya, ikut ngebayangin.. subhanallah, alhamdulillah ibu+bayinya sehat semua..

    ReplyDelete
  57. hi mba... hampir nangis bacanya. jadi ingat waktu ngelahirin dulu. persis spt mba, meski induksi sdh 2 botol infus, tp masih blm lahir juga. akhirnya memutuskan cesar, tapi ketika dokter anastesinya datang, memutuskan lahiran normal saja setelah dibujuk ibuku...
    semoga anaknya jadi anaknya menjadi pembawa berkah buat keluarga..

    salam kenal mba..

    ReplyDelete
  58. @Murtiyarini, Arin:

    hamil lagi? hm, ini udah lima, mak hehehe

    but, terima kasih infonya :)

    ReplyDelete
  59. @nh18:

    kalo cerita langsung, nanti aku nangis, om. gak seru nanti kopdarnya :D

    ReplyDelete
  60. @Damae:

    iya, setelah merasakan hamil, melahirkan dan membesarkan anak, jadi makin sayang sama ibu :')

    ReplyDelete
  61. @Mama Zaza:

    alhamdulillah :')
    terima kasih, mak :)

    ReplyDelete
  62. @eda:

    halo, salam kenal juga :)
    terima kasih sudah membaca, ya :)

    ReplyDelete
  63. @Anonymous:

    Mak,semoga selalu diberikan kekuatan oleh Allah dan segera bisa bertemu dengan ananda tercinta. Amin.

    ReplyDelete
  64. saya bisa membayangkan mak sari betapa sakitnya operasi caesar dengan spinal anestesi. tapi begitulah yang harus dilalui seorang bunda ya mak. sesakit apapun, semua sirna setelah mendengar tangisan sang buah hati. selamat ya mak

    ReplyDelete
  65. Biasanya say lgs skip kalau ada tulisan ttg proses melahirkan, tp yg ini entah kn sy bisa baca sampai selesai.
    Meski tetap perut ikut mules, dan mata berkaca-kaca membaca sampai selesai.
    Alhamdulillah bayinya bisa lahir denga selamt, dan berdua sehat . :)

    ReplyDelete
  66. Sary, aku baru tau kelahiran Maira caesar, wah merinding aku bacanya...alhamdulillah semua sudah terlalui dengan baik ya.

    ReplyDelete
  67. @lizafathia:

    terima kasih supportnya ya, mak! :)

    ReplyDelete
  68. @linda leenk:

    alhamdulillah. makasih, ya :')

    ReplyDelete
  69. @Fitri Anita:

    Iya, Fit. the one and only :')
    makasih, yaa

    ReplyDelete
  70. baru baca yang ini...thanks to om NhHer :D...been there, done that maak...waktu si obi, aku diinduksi karena aku ngotot ingin melahirkan normal dan Obi sudah hampir 4 kg. Plus juga epidural, si obat pengurang rasa sakit yang disuntik dari punggung/tulang belakang...yah, rasanya memang TOP BGT :D...tapi alhamdulillah semua lancar dan mama Bo et Obi malah sempet ngantuuuk pas disuruh ngedeeen cobaa hehehe...memang bener, setiap anak, pasti proses dan cerita kelahirannya beragam...belum ketemu Maira langsung niiih...titip cium pipinyaaa :D..

    ReplyDelete
  71. Astaghfirullaah...

    be strong for ur baby ya mak, judulnya... serem banget, 13 suntikan???

    ReplyDelete
  72. Maaaak...
    baru baca inih barusan mampir tempatnya Oooom...

    Bener bener perjuanganmu yah maaaak!
    Jadi deg degan sendiri bacanya walopun udah tau bakalan hepi ending :)

    Aku 2 kali normal dan memang setiap kontraksi selalu ada jeda supaya kita bisa instirahat dan ngambil napas...pasti kebayang lah tenaga yang terkuras kalo sakitnya gak pake jeda...

    Insya Allah Maira akan menjadi anak yang soleh dan berbakti kepada orang tua yah maaak :)

    ReplyDelete
  73. Terdampar di sini, dari blog om Nh. Subhanallah .. perjuangannya ya Mak. Mak Sari 3 kali mengalami induksi ... ck ck ck. Saya mengalami, alhamdulillah cuma satu kali mak. Sakitnya memang gak ketulungan. Terasa itu sakit yang tanpa jeda itu tapi alhamdulillah saya bisa melahirkan normal.

    Dek Maira manis sekali ya ... sun sayang buat Maira :)

    ReplyDelete
  74. mak Sary, hebat ! benar2 perjuangan besar seorang ibu :)

    ReplyDelete
  75. Mak sary.. Ternyata insting ibu itu bener ya.. Duh beneran mules jadi bingung mau nambah anak apa nggak,haha. 2tahun yg lalu lahiran induksi 7jam kmudian baru lahir, sakitny waw jangan ditanya,udah mau nyerah pas itu..

    ReplyDelete
  76. Wah, benar-benar perjuangan ya mak..melahirkan Maira :) Tapi setelah melihat anak lahir, semua rasa sakit itu hilang ya mak, semuanya terbayar sudah..

    ReplyDelete
  77. Terharu aku bacanya, mak. Sampe nangis karena inget juga dengan sakitnya melahirkan anak kedua yang dilalui dengan proses induksi. Subhanalloh, insting perempuan memang hebat ^^

    ReplyDelete
  78. Duh emak bacanya sampai sambil nahan nafas

    ReplyDelete
  79. yaa Allaah.. Maira... semoga semua rasa sakit ini bisa ditebus ya mbak

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)