Lebih Sehat Dengan Beras Merah Dan Beras Coklat

Bener gak sih, katanya kalau makan gak pakai nasi sama artinya belum makan? Jadi, meskipun sudah sarapan 2 lembar roti tawar, semangkuk mie goreng, sepiring kentang keju panggang, karena gak ada tambahan sepiring nasi goreng, tetap saja judulnya belum sarapan. Hehehe!

Kira-kira 4 bulan yang lalu, aku dan suami mulai berusaha mengurangi konsumsi nasi putih. Kami hanya makan nasi satu kali sehari. Selama beberapa minggu, kami berhasil mempertahankan pola makan tersebut. Berat badanku yang sempat naik berlebihan saat hamil, akhirnya bisa dikontrol dan kembali normal. Suamiku juga merasakan perubahan pada tubuh dan lambungnya.

Tetapi mengubah kebiasaan, apalagi kebiasaan yang sudah mendarah daging itu tidak gampang. Sejak pertama kali mengenal makanan, seperti umumnya orang Indonesia, nasi menjadi makanan pokok yang wajib ada dalam menu makan sehari-hari. Belum lagi kondisi saat hamil yang up and down, membuat kami kadang-kadang tidak sempat menyiapkan atau membeli makanan pokok pengganti nasi. Sedangkan beras selalu tersedia di dapur, tinggal cuss dimasak. Jadinya, upaya untuk diet nasi-nya pun bolong-bolong. Kadang makan nasi hanya 1 kali sehari, kadang 3 kali sehari :D

Terlanjur sudah merasakan "enaknya" gak makan nasi, tapi melakukan dietnya bolong-bolong, aku mencari alternatif lain. Setelah mencari informasi dan membulatkan tekad #halah, akhirnya saat tiba waktu belanja dan restock kebutuhan dapur, kami membeli beras merah dan beras coklat (brown rice) sebagai pengganti beras yang biasa dibeli. Tujuannya sebenarnya menganti konsumsi beras putih dengan beras merah. Cuma karena belum pernah tau dan merasakan beras coklat, ikut diboronglah sekantong beras berwarna coklat ini.

Lalu, apa bedanya sih ketiga jenis beras ini selain perbedaan warnanya?

Beras, menurut Wikipedia, adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut 'palea' (bagian yang ditutupi) dan 'lemma' (bagian yang menutupi). Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras.

Perbedaan gen menyebabkan warna beras menjadi berbeda, karena gen ini mengatur warna aleuron, warna endospermia, dan komposisi pati pada endospermia. Aleuron adalah lapis terluar yang sering ikut terbuang saat proses pemisahan kulit. Endospermia adalah tempat penyimpanan pati dan protein beras.

Beras merah adalah beras yang belum mengalami proses pengelupasan kulit sepenuhnya, sehingga menyisakan bekatul, endospermia, dan embrio. Aleuronnya mengandung gen antosianin, yaitu sumber warna merah atau ungu. Dibandingkan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah, tapi energi yang dihasilkan oleh beras merah justru lebih tinggi dari beras putih (hasil analisis Nio, 1992). Beras merah kaya akan protein, vitamin B, niasin, vitamin B6 dan K, kalsium, zat besi, fosfor, dan kalium. 

Beras coklat hanya dihilangkan sekamnya tapi tidak digiling sampai putih bersih. Beras coklat dan beras putih memiliki kandungan kalori, karbohidrat, protein dan lemak yang sama. Tapi karena beras coklat masih memiliki sisa bekatul, kandungan seratnya lebih tinggi dari beras putih.  Karena kaya serat itulah beras cokelat sangat baik untuk mencegah sembelit, memperlancar pencernaan, serta membuat kenyang lebih lama.

Nah, kalau beras putih, sesuai namanya, warnanya putih agak transparan. Beras putih paling banyak tersedia di pasaran dan dikonsumsi banyak orang. 

Penasaran dengan beras coklat, aku memilih memasak beras coklat lebih dulu daripada beras merah. Soalnya kalau beras merah sudah pernah makan beberapa kali. Ternyata rasa nasi dari beras coklat, sama saja dengan nasi putih. Bedanya kita membutuhkan jumlah air yang lebih banyak saat memasaknya.


Karena rasa tidak jauh berbeda dengan nasi putih, anak-anak pun tidak protes atau mengeluh. Tadinya aku sempat khawatir mereka akan protes dan jadi susah makan karena ada perbedaan (warna). Paling tidak, sekarang tidak perlu bingung mengatur diet nasi lagi kalau tidak sempat menyiapkan penggantinya.

23 comments

  1. kl sy skrg lagi cobain makan beras merah :D

    ReplyDelete
  2. @myra anastasia:

    aku ngabisin beras coklatnya dulu, mak. abis itu baru ganti beras merah :D

    ReplyDelete
  3. apa pun berasnya maak..
    tetep di sikaat..
    cuma aku kalo makan porsi nasinya dikiit #muatnya paling 5 sendok

    ReplyDelete
  4. @nchie hanie:

    samaaa, aku juga gak bisa makan banyak-banyak, makanya gak gemuk-gemuk :p

    ReplyDelete
  5. kalau saya semenjak punya anak, seringnya masak beras merah+beras putih alias di campur. ^_^

    ReplyDelete
  6. Hmm, blm bisa meninggalkan nasi. Beras merah sering buat variasi. Sebab kalau beras meras teruuus, sanak2 suka bosan. Jadi diselingi deh.

    ReplyDelete
  7. Aku enggak bisa diet Mak, klo makan nasi dikit, bawaannya ngemilnya banyak.

    Klo beras merah ma cokelat belum nyobain *mungkin bisa dicoba untuk suamiku

    Salam
    astin

    ReplyDelete
  8. @Uwien Budi :

    temanku juga banyaknya kayak gitu, mak. dicampur sama nasi putih

    ReplyDelete
  9. @Niken Kusumowardhani:

    so far anak-anak gak protes sih, mbak. jadi full nasi merah. rencananya malah nasi putih yang mau dijadikan selingan kalo bosan :D

    ReplyDelete
  10. @Astin Astanti:

    hihihi, kalo gak ngemil gatel mulut rasanya ya, mak :)))

    rasanya sama aja koq, asal ngolahnya bener.

    ReplyDelete
  11. Sekarang, aku sedang mengubah kebiasaan sarapan keluarga, mak. Yang tadinya nasi goreng komplit dengan lauk pauknya, sekarang aku hanya sediakan salad buah, oatmeal dan roti gandum gitu. Memang masih belum terbiasa, tapi itu harus dilakukan. Dan soal beras coklat, aku baru denger, kayanya mau coba juga deh. TFS ya mak

    ReplyDelete
  12. harganya jaul lebih mahal ya mak? oya kalo makan nasi cm sekali trus makan siang + mkn malam sama apa?

    ReplyDelete
  13. Sepertinya keluargaku sudah harus pindah ke beras merah nih mak, semoga anak2 gak komplain.

    ReplyDelete
  14. Kami sih keturunan tinggi besar. Sediet-dietnya kita gak bakalan langsing krn tulangnya udah gede. Kalau aku sendiri memang ngurangi nasi karena lagi terapi asam lambung. Ini sudah 6 bulan gak kumat. Biasanya minimal 2 bulan sekali numpang tidur di UGD

    ReplyDelete
  15. aku malahan baru tau tentang yang beras coklat ini lho maaak...

    tapi kalo beras merah pas dimasak suka rada lengket gitu gak sih?
    Anak anak kurang suka...

    Atau aku nya aja yang emang gak bisa masaknya kali yah?...hihihi..

    ReplyDelete
  16. @Mira Sahid:

    Iya, mak. Kesehatan itu ibaratnya kita menabung. Gak bisa instant.

    ReplyDelete
  17. @Agustinadian Susanti:

    sama aja harganya sama beras putih koq.

    makan nasi sekali waktu masih nasi putih. sekarang karena udah beras merah, 3 kali makan nasi juga gak masalah. karena lebih cepat kenyang dan kenyangnya juga lebih tahan lama tapi gak bikin perut begah.

    ReplyDelete
  18. @IrmaSenja:

    kalo kataku sih lebih tawar daripada nasi putih. tapi kata suami dan anak-anakku, rasanya sama aja. makanya mereka cuek aja diganti juga :D

    ReplyDelete
  19. @burselfwoman:

    Salah satu alasan kami ganti nasi merah itu karena suamiku mengalami masalah lambung. setelah mengurangi nasi, terasa enaknya. makanya trus ganti sekalian sama nasi merah.

    ReplyDelete
  20. @Bibi Titi Teliti:

    kendalanya emang di cara memasak, mak. butuh air lebih banyak daripada masak beras biasa. kalo kurang, keras dan pera, kalo kebanyakan lengket :D

    ReplyDelete
  21. wahh... sy jadi tambah ilmu disini....

    ReplyDelete
  22. @Willyo Senapati Alsyah:

    alhamdulillah. terima kasih sudah berkunjung :)

    ReplyDelete
  23. Nambahin mbak,ngurangin konsumsi nasi boleh2 aja tapi menghilangkan kebutuhan karbohidrat jgn ya. Udah kejadian ada yg meninggal gara2 salah tafsir ttg diet.

    Berarti sebaiknya klo diet pake beras merah aja ya mbak? Ktnya kn beras coklat sm putih cuma beda seratnya aja. Mksh

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)