Menghijaukan Halaman Rumah Dengan Pohon Buah-Buahan



Masalah klasik di rumah setiap musim kemarau adalah air sumur yang berkurang, sementara di musim penghujan, penyerapan air oleh tanah tidak maksimal, sehingga halaman tertutup genangan air. Masalah ini pernah kusinggung sedikit dalam tulisan Konservasi Sumber Air, Dimulai Dari Rumah Sendiri, yang berhasil menjadi juara 3 lomba blog kerjasama Pureit dan Blogdetik. 

Setahun belakangan, aku dan suami mulai mengumpulkan biji buah-buahan yang kami makan untuk ditanam di halaman rumah. Sejauh ini, baru pohon pepaya California yang selamat dari ulah para anjing dan akhirnya menghasilkan buah yang banyak selama 6 bulan berturut-turut. Pohon lengkeng, semangka dan mangga harum manis, hanya bertahan beberapa bulan saja sebelum hancur lebur digali Don dan Junior :D

Biji buah-buahan itu dikeringkan dan kemudian ditanam di beberapa tempat di halaman rumah. Tapi, tidak jarang, karena malas, biji-biji itu aku lemparkan saja ke lapangan, menyerahkannya kepada alam untuk tumbuh dan berkembang sendiri. Hehehe!

Alpukat
Beberapa hari yang lalu, suamiku menemukan biji apukat yang sudah mengeluarkan dahan dan dedaunan kecil. Kemudian ada juga pohon sirsak kecil dan phon pepaya yang tumbuh di sembarang tempat. Ketahuan banget malesnya, ya? :))) Akhirnya beliau pergi membeli polybag dan media tanam untuk memindahkan pohon-pohon buah yang masih kecil itu, supaya selamat sampai bisa panen suatu saat nanti. Selain itu ikut ditanam juga bibit markisa pemberian kakakku dan bibit pepaya Hawai, pepaya Bangkok, dan melon yang belum sempat dilempar ke halaman. Hahaha!

Semoga semuanya survive, ya. :)

Pohon sirsaknya tumbuh di sembarang tempat :D 
Sirsak
Mangga Indramayu
Ini pepaya yang mana, ya?
Mangga Gedong Gincu-nya dikandangin :D
Pohon-pohon itu memang membutuhkan waktu lama untuk tumbuh dan menghasilkan buah. Tapi setidaknya kami sudah mulai melakukan sesuatu untuk menghijaukan halaman rumah kami :)

Yuk, menanam pohon di rumah sendiri!

14 comments

  1. Wah senangnya masih punya halaman luas :)

    ReplyDelete
  2. Mak, dibelakang rumahku juga sekarang banyak pohon buah yg tumbuh sendiri mungkin dari biji2 yg terbuang dan akhirnya tumbuh jadi besar, ada pohon jambu biji merah yg terus menerus berbuah, ada pepaya yg sedang berbuah, pohon sirsak, pohon salak, dan rambutan, juga pohon jeruk, Yg rambutan ini sengaja ditanam malah lama sekali tumbuhnya dan kalah sama pohon jambu. Sekarang halaman belakang rumah yg tadinya gersang jadi lebih teduh krn pohon2 itu sudah tumbuh besar

    ReplyDelete
  3. benar banget mak, untuk saat ini halaman rumah saya sudah ada pohon mangga dan belimbing wuluh :), mari menjaga lingkungan :)

    ReplyDelete
  4. @hana sugiharti:

    iya, mak. alhamdulillah :)

    ReplyDelete
  5. @tizara:

    waaa, jadi gak sabar nunggu pepohonan di rumah tumbuh besar dan berbuah ^_^

    ReplyDelete
  6. @meutia rahmah:

    untuk warisan anak cucu ya, mak :)

    ReplyDelete
  7. salah satu kegiatan yag positif ,,, jempoooollll......

    ReplyDelete
  8. di rumah, yang suka bertanam tuh mas iwan. Tapi ya gitu juga tergantung suasana hati :))
    Kalau aku, nyerah deh, penikmat tanaman saja.
    Salut sama dirimu yang rajin. Merawat tanaman dan hewan.

    ReplyDelete
  9. entahlah mak...aku kalo nanem sesuatu selalu berakhir tragis dgn kematian tumbuhan yg aku tanem...sampe akhirnya aku trauma...*lebay*...daripada makin byk tumbuhan yg mati di tanganku yg kejam ini, lebih baik minta tolong sama yg paham...:'(

    ReplyDelete
  10. @willyo senapati alsyah:

    terima kasih :)

    ReplyDelete
  11. @indahjuli:

    suamiku juga lebih telaten, mbak

    ReplyDelete
  12. @winda krisnadefa:

    hahaha! sampe segitunya ya, mak? :D

    ReplyDelete
  13. @Prit Api Kecil:

    Aku juga nanam bumbu2 dapur. Tapi pas ditinggal mudik lebaran kemaren, hancur semua diacak-acak anjing2ku :( Belum mulai nanam2 lagi..

    ReplyDelete
  14. didepan rumah meski lahannya kecil tapi deitanami pohon duren, jambu dan rambutan...

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)