Perlukah Tindik Telinga?


Ketiga anak perempuanku, sering disangka anak laki-laki ketika masih bayi. Apa sebabnya? Karena daun telinga mereka tidak ditindik.

Ya, ternyata untuk mengenali jenis kelamin seorang bayi, yang pertama kali diperhatikan oleh kebanyakan orang adalah daun telinga si bayi, bukan pakaiannya. Umumnya bayi perempuan, kan, mengenakan pakaian dengan nuansa pink, ungu, dan bayi laki-laki identik dengan warna biru. Bahkan tanpa bertanya terlebih dahulu kepada orangtua si bayi, orang sering langsung menyimpulkan jenis kelamin bayi hanya dengan melihat daun telinganya.

Suatu kali, ketika mengantar Maira ke DSA-nya, aku bertemu dengan seorang ibu. Seperti biasanya, bayi selalu menarik perhatian orang di sekitarnya. Dan umumnya komentar-komentarnya pun seragam, Lucu sekali bayinya, Bu, Lahir di rumah sakit ini, ya?, Berapa bulan umurnya? Dan karena melihat daun telinganya tidak ditindik, komentar atau pertanyaan selanjutnya adalah, Cowok ya, Bu?

Meskipun, seharusnya, aku sudah terbiasa dengan kesimpulan yang salah tentang jenis kelamin bayi perempuanku, tetap saja aku mengerenyit dan heran, kenapa ibu tersebut tidak memperhatikan selimut, baju, dan topi Maira yang berwarna pale pink. Komentar selanjutnya, lebih lucu, Ah, si Ibu, anak cowok koq dipakein warna pink. Pasti kakaknya cewek, ya? Hah? Helooow! Bahkan aku sebagai ibunya tidak diberikan kesempatan untuk menjawab komentar-komentarnya :D

Tapi sebagai ibu dan mahluk sosial yang baik, aku tersenyum dan menjawab, Anak saya perempuan, Bu. Giliran si ibu yang kaget dan berkata, Maaf, Bu, saya pikir laki-laki karena saya lihat telinganya koq gak ditindik. Nah, kan! Untung saja ibu itu tidak lantas menanyakan alasan kenapa bayi perempuanku tidak ditindik daun telinganya. Karena ada loh, banyak malahan, yang terlalu ingin tahu alasanku tidak menindik daun telinga anak-anak perempuanku.

Haruskah? Wajibkan menindik daun telinga bayi atau anak perempuan? Kalau disebutkan untuk membedakan dengan anak atau bayi laki-laki, bukankah sudah ada hal lain yang memang diberikan Tuhan sebagai pembeda? Atau paling tidak, bertanyalah pada orangtua si bayi. 

Hal yang sedikit ribet mungkin dihadapi oleh kedua anak perempuanku yang mulai beranjak remaja. Mereka sering mendapatkan pertanyaan langsung tentang daun telinga mereka yang tidak ditindik, entah dari teman-temannya atau orang lain yang kebetulan memperhatikan. Dulu, mereka juga pernah bertanya kepada kami, kenapa daun telinga mereka tidak ditindik seperti teman-temannya. Setelah mendengar penjelasan kami, mereka bisa mengerti. 

Well, setiap orang memang punya sudut pandang dan pilihan sendiri. Aku tidak akan mendebatnya. Buatku pribadi, alasanku tidak menindik daun telinga anak-anak perempuanku saat mereka masih bayi adalah, aku tidak ingin menyakiti mereka. Aku tidak melarang seandainya nanti mereka ingin mengenakan anting-anting, toh daun telingaku juga ditindik. Tapi, biarlah nanti mereka sendiri yang memutuskan, ketika mereka sudah mengerti. Apalagi menindik daun telinga bukan sesuatu yang diwajibkan oleh ajaran agama, seperti halnya sunat untuk anak laki-laki.

Buatku, sekarang mereka tidak ditindik dan tidak memakai anting-anting, atau kelak mereka memutuskan daun telinganya ditindik dan memakai anting-anting, mereka tetap anak-anak termanis di dunia. Toh, bukan perhiasan yang menjadi ukuran kecantikan seorang perempuan :)

19 comments:

  1. wah, jadi inget pertama kali menindik telinga putri sulungku saat dia masih bayi. aku menangis tersedu-sedu melihat dia menjerit-jerit kesakitan. pemikiran Mak Sari bagus banget, memberi pilihan itu ketika mereka dewasa. kenapa ya enggak kepikiran padaku saat dulu menindik telinga putriku? (mikirnya sih justru kalau masih kecil lebih mudah dilakukan). belum ada kata terlambat ya untuk merubah pemikiran. paling tidak untuk pelajaran bagiku ke putriku untuk bagaimana mereka meperlakukan putri-putri mereka kelak dalam soal menindik telinga..

    ReplyDelete
  2. Aku juga nggak nindik telinga saat masih bayi, semua anakku minta sendiri telinganya ditindik :D itu pun saat mereka sudah besar2, dan karena lihat temannya pada pakai anting.

    Aku bukan tipe ibu yang pakaikan anaknya anting, cincin, gelang ataupun kalung :))


    ReplyDelete
  3. 4 Anak saya perempuan, semuanya gak di tindik waktu bayi, Mak. Padahal banyak yg bilang ditindik waktu bayi gak sakit. Ih, masa sih wong kulihat bayi adikku nangis kenceng waktu di tindik.

    Pas anak pertama dan kedua ABG mereka minta ditindik , aku bawa ke bidan buat ditindik...wkwkwk, terlalu sayang anak, padahal katanya langsung di toko emas bisa. Aku takut infeksi aja sih..

    ReplyDelete
  4. 4 Anak saya perempuan, semuanya gak di tindik waktu bayi, Mak. Padahal banyak yg bilang ditindik waktu bayi gak sakit. Ih, masa sih wong kulihat bayi adikku nangis kenceng waktu di tindik.

    Pas anak pertama dan kedua ABG mereka minta ditindik , aku bawa ke bidan buat ditindik...wkwkwk, terlalu sayang anak, padahal katanya langsung di toko emas bisa. Aku takut infeksi aja sih..

    ReplyDelete
  5. anak sy gak ditindik, Mak. Lah, sy yg emaknya aja gak ditindik. Masa' anaknya ditindik hihihi. Nanti aja lah kl dia udah bs minta sendiri. Lagian sy sering liat anak kecil yg ditindik kupingnya suka ditarik trus berdarah. Jd sy tambah gak kepengen, deh, nindik kuping

    ReplyDelete
  6. Saya sebel banget gara-gara pas kecil pernah ditindik. Soalnya setelah gede jarang pakai anting. Dan bekas tindikannya itu kan nggak bakal hilang. Sebel bangeeet.

    ReplyDelete
  7. Ponakanku cewe gundul, jadi ditindik sama emaknya buat 'tanda'.. Hiihiii.. Ponakanku sih hebat, ga nangis saat ditindik dan sampai sekarang alhamdulillah ga pernah ada kejadian narik2 telinganya. Tapi kalau buat anakknu nanti, setelah baca tulisan ini kayaknya aku ga bakal nindik anakku pas masih bayi. Sama kayak emak2 lain, biarlah mereka meminta sendiri nanti. Akupun bertindik, tapi sejak berhijab tak pakai anting, jadi lubangnya mampet. Suamiku minta tindik ulang, aku malah galau mikirin sakitnya nanti.. Padahal udah segede gini :D

    ReplyDelete
  8. Setuju banget dg mak Sary utk tdk menindik daun telinga anak perempuan. Tanpa merendahkan ibu2 lain yg menindik anak2 perempuannya, kupikir memang tdk begitu penting melakukan tindik ini. Pemaksaan kehendak kepada anak yg dimulai dari hal terprinsip itu namanya hehehee...

    Setelah si sulung agak besar dia protes, kenapa dia tidak ditindik, teman2nya pada pake anting, cantik2 katanya.
    Oke, kuajak ke rumah sakit utk tindik, begitu liat jarumnya langsung keder sulungku itu. Gak jadi aja deh ibu, ngeriiii... hihihiii... nah itu dia, klo si anak sendiri aja merasa ngeri begitu apalagi ibunya yg harus ngeliat dulu pas bayi merah harus berdarah2 telinganya. :D

    ReplyDelete
  9. Iya saya juga nyesseeeelll setengah mati waktu nindik telinga kedua putri saya. Anak pertama tiba-tiba udah pake anting, ditindik mertua. Anak kedua atas permintaan mertua juga. Tangis bayinya memilukan. Udah gitu gak pas, berdarah dan jadi borok. Buru-buru saya buang. Dan sejak itu saya dan kedua putri saya ngga ada yang antingan. Kami merasa lebih nyaman tanpa anting.

    ReplyDelete
  10. @Rebellina Santy:

    Benar sekali, Mak. Kebanyakan orang berpikir, menindik telinga ketika anak masih bayi jauh lebih mudah. Tapi kalau saya justru berpikir sebaliknya. Kasihan sekali, menyakiti bayi kecil saya. Lebih baik menunggu samapi dia besar dan mengerti rasanya sakit dan konsekuensi dari pilihannya. Dengan begitu dia akan bertanggung jawab :)

    ReplyDelete
  11. @indahjuli:

    Tapi emaknya tipe yang pakai kalung, gelang, dan sebagainya, sebagainya yah? xixixixi *kabur sebelum ditabok*

    ReplyDelete
  12. @Rinny Ermiyanti Yasin :

    Hehehe, anak-anak saya juga mikir-mikir setelah besar ditanya mau ditndik apa engga :D

    ReplyDelete
  13. @myra anastasia:

    Iya, kasian ya, Mak :(

    ReplyDelete
  14. @空キセノ:

    Itu juga salah satu yang jadi pemikiran saya. Khawatirnya setelah dewasa, anak-anak gak suka pakai perhiasan (anting), dan menyalahkan saya karena menindik telinganya

    ReplyDelete
  15. @Nindya Safira Aztrida:

    Lubang tindikanku juga mampet sekarang, Mak xixixi. Entah kenapa, pas SMA tau-tau jadi gak suka lagi pkai anting

    ReplyDelete
  16. Si Nana waktu bayi ditindik di RS, karena sekalian kalau mau...tapi abis itu, dua kali dipasangin anting emas, ilang melulu...akhirnya nggak pernah dikasih anting lagi sampe sekarang, rugi bandaaaar...hahahahaha
    sekarang udah nutup kali lubangnya -_-

    ReplyDelete
  17. aaaiiihh mak Sary, toss banget mak.. aku juga ga nindik telinga putriku, kasian. biar ntar kalo dia udah gede n mau pake anting ya tinggal dtindik aja :) pernah juga waktu putriku masih bayi, bbrp kali ada orang yg nanya anaknya perempuan atau cowo, padahal udah aku pakein rok dengan warna girly, ehh masih juga ditanya *adddeeuh* :p

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)