Review Buku: Macaroon Love, Cinta Berjuta Rasa

Judul Buku : Macaroon Love: Cinta Berjuta Rasa

Penulis : Winda Krisnadefa 
Penyunting: Rini Nurul Badariah
Penerbit : Penerbit Qanita PT Mizan Pustaka 
Tanggal Terbit : Maret 2013 
Jumlah Halaman : 264 
Jenis Cover : Soft Cover 
Kategori : Roman, Fiksi Indonesia

Apalah arti sebuah nama, demikian kata William Shakespeare. Buat sebagian orang, nama adalah doa dan harapan. Tapi tidak demikian dengan Magali, seorang gadis berumur 20 tahunan yang menganggap namanya adalah kutukan. Sejak kecil Magali membenci nama pemberian Jodhi, ayahnya, dan setiap hari ulang tahunnya, harapannya hanya satu, andai namaku bukan Magali.

Love and hate relationship antara Magali dengan namanya sendiri inilah yang menjadi bumbu utama dari novel karya Emak Gaoel, Winda Krisnadefa. Magali digambarkan sebagai gadis nyentrik yang memiliki selera yang lain dari kebanyakan orang, terutama urusan makanan. Misalnya saja, dia suka sekali mencocol kentang goreng ke sundae vanilla. Sebagai seorang pecinta makanan dan food writer di sebuah majalah gratisan, makanan, menurutnya, harus berlandaskan selera, bukan kebiasaan atau tradisi, jadi sah-sah saja menjadi seorang yang anti mainstream.

Selera dan perilaku Magali, termasuk namanya, sering menjadi olok-olok teman-teman, bahkan Beau, sepupunya yang ganteng. Nene, ibu ayahnya, dan Jodhi sendiri pun sering geleng-geleng kepala melihat kelakuan Magali. Kemudian kejutan demi kejutan muncul, ketika dia bertemu Ammar, seorang pemilik restoran, yang justru menganggap Magali dan semua keanehannya adalah sebuah pemberontakan yang brilliant. Sikap Ammar itu pula yang pelan-pelan membawa Magali pada sebuah rasa bernama cinta.

Sejak membuka halaman pertama novel ini, aku langsung menuntaskannya dalam sekali baca. Ya, Winda Krisnadefa berhasil membuat pembacanya, paling tidak diriku, ketagihan dan tidak bisa berhenti membaca kisah Magali. Bahasa yang digunakan ringan, tapi tidak norak dan murahan. Alur ceritanya mengalir, dan meskipun akhir cerita secara garis besarnya bisa ditebak, tapi berhasil menuntaskan rasa penasaran sampai selesai. Gak nggantung, kalau kata bahasa gaoel-nya :D Paragraf penutupnya aku suka sekali, bahwa ketika udara berkonspirasi dengan kebahagiaan dalam hati, tak akan ada yang bisa merenggut kebahagiaan itu. Sebab ia akan masuk melalui saluran napas, paru-paru, menuju jantung, lalu menjadi butran-butiran darah. Menyatu dalam tubuh seutuhnya.

Penokohan juga cukup detil dalam setiap rangkaian cerita. Buat aku yang suka mengkhayal sambil baca buku, Emak Gaoel berhasil membuat aku bisa menggambar sketsa utuh Magali, Beau, Ammar, Nene, dan karakter lainnya di dalam pikiranku. 

Bagian dalam fisik novel Macaroon Love ini cukup ramai. Ada gambar cupcake-cupcake lucu di bagian atas setiap lembar halaman novel. Etapi kenapa cupcakes, ya? Kenapa bukan macaroon, supaya sesuai dengan judul novelnya?

Sesuai dengan judulnya, tema cover novel ini adalah macaroon, kue bulat berukuran kecil dengan warna-warni cerah. Sayangnya, kecerahan warna macaroon tidak terdapat di cover novel ini. Warna yang dipilih justru warna-warna soft. Menurutku, warna cover novel yang soft kurang menggambarkan isi novel secara keseluruhan, baik dari karakter tokoh utama, alur cerita, maupun kue macaroon-nya. Atau mungkin warna soft dipilih untuk mewakili perasaan cinta yang diam-diam dipendam Magali? Entahlah. Yang pasti, aku suka dan merekomendasikan novel Macaroon Love, cocok untuk teman minum teh di sore hari :) 

3,5 bintang untuk novel Macaroon Love, Cinta Berjuta Rasa.

13 comments:

  1. @noestyle:

    makasih, mak ^_^
    udah ikutan belum? :)

    ReplyDelete
  2. Sorry mak mau tanya gimana cara ikutan lombanya.. Thx u

    ReplyDelete
  3. Sorry mak mau tanya gimana cara ikutan lombanya.. Thx u

    ReplyDelete
  4. @lopeleonieunique:

    Hai! Info lombanya silakan baca di link ini, ya :)
    http://www.kampungfiksi.com/2013/07/lomba-review-macaroon-love-bersama.html

    ReplyDelete
  5. lucu ya.. novelnya mak tiri direview secara baik2 :)) *senyum anak tiri*

    ReplyDelete
  6. lucu ya.. novelnya mak tiri direview secara baik2 :)) *senyum anak tiri*

    ReplyDelete
  7. Jadi bukan cuma satu rasa ya, ada banyak rasa. Terbukti dibuku ini :D

    ReplyDelete
  8. @Pungky:

    Hahahaha! Emang kalo anak tiri gak bisa baek ya sama mak tiri? :))

    ReplyDelete
  9. @SHUDAI AJLANI (dot) COM:

    hehehe bumbunya banyak, soalnya :D

    ReplyDelete
  10. yup yuppp... kita menangkap hhal yang sama, Mak. Kenapa cupcakes?

    semoga menang yaa :) good job!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa mungkin karena cupcake memiliki berbagai macam model, bentuk dan warna serta berbagai tema sehingga yang dipakai foto-foto cupcake? Hanya penulis yang tahu mengapa bukan macaroon sesuai judul novelnya. Hehehehehehe.... :)

      Delete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)