Bangga Indonesia

Bapakku adalah seorang perantau di tanah Jawa. Bapak meninggalkan tanah kelahirannya di Sumatera Selatan, sejak usianya masih remaja. Setelah berpuluh-puluh tahun tinggal di Jawa, ternyata berhasil membuat dialek melayu Bapak berubah menjadi dialek orang Sunda :D Mungkin kalau ada orang yang baru kenal Bapak di masa tuanya, orang itu gak bakal tau kalau sebenarnya Bapak asli wong kito. Tapi meskipun dialeknya berubah, selera makanan Bapak tetap tidak berubah. Mana pernah, ada menu masakan jawa terhidang di meja makan. Setiap hari yang ditemui adalah rendang, balado, sop ikan asam padeh, dan makanan-makanan khas sumatera. Jadi udah dari kecil tuh, aku disuapi rendang padang sama bapakku :D

sumber gambar 
Emang enak sih, ya, makan pake rendang, makanya bapakku gak bisa pindah ke lain hati :D Saking enaknya, CNN pun menobatkan rendang sebagai makanan paling enak di dunia. Sekarang ini, rendang memiliki banyak variasi rasa dan nama. Dulu hanya dikenal rendang padang. Sekarang, rendang jawa juga ada. Negara tetangga kita saja, Malaysia, mengklaim kalau rendang adalah salah satu makanan asli negara mereka.

Indonesia, Malaysia, dan negara-negara Asia Tenggara yang lain, sudah sejak dulu disebutkan berasal dari rumpun yang sama. Lihat saja, wajah, bahasa, dan budaya negara-negara ini hampir serupa. Termasuk makanan-makanannya. Jadi wajar saja kalau rendang juga sudah sejak lama ada di negara lain selain Indonesia. Sejak zaman prasejarah, masyarakat dan kebudayaan di Asia Tenggara terus berkembang. Terutama melalui pedagang-pedagang yang singgah dan menetap, lalu kemudian melahirkan keragaman suku bangsa dan budaya. Jadi seharusnya kita tidak perlu berdebat kusir tentang asal muasal rendang. Setiap kebudayaan di dunia, apalagi yang masyarakatnya ada di satu daratan, pasti ada hubungan sejarahnya. Seperti misalnya, ya, rendang tadi. Atau Kuil Angkor Wat di Kamboja, yang menurut penjelasan ahli sejarah, mirip dengan relief Borobudur di Indonesia. Kemiripan ini juga pasti ada hubungan sejarahnya.

Angkor Wat
Menyambut Komunitas ASEAN 2015 nanti, dengan tagline-nya yaitu One Vision, One Identity, One Community, kejadian ribut-ribut klaim rendang, rasanya menjadi tidak relevan lagi. Yang harus jadi perhatian adalah, mampukah kita menghadapi keterbukaan dan kebebasan global dengan rasa bangga sebagai orang Indonesia?

Keterbukaan dan kebebasan yang akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia setelah berlakunya Komunitas ASEAN pada tahun 2015, mungkin saja bisa mengikis pengetahuan dan kecintaan kepada sejarah dan kebudayaan negeri sendiri. Di zaman teknologi seperti sekarang, informasi mudah diakses kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Budaya luar bisa masuk dengan mudah, cepat, dan bebas. Generasi muda yang mengakses informasi ini tanpa pemahaman yang cukup dan pendampingan dari orangtua, bisa saja kebablasan. Mereka merasa jadi bagian dari masyarakat global, tapi tidak memiliki ciri Indonesia.

Kita boleh saja merasa satu rumpun dengan negara-negara tetangga. Kita boleh saja mengenal dan mempelajari budaya asing yang masuk ke Indonesia. Kita boleh saja merasa memiliki identitas yang sama sebagai warga masyarakat ASEAN. Tapi jangan lupa, asal kita yang pertama adalah Indonesia. Kita bisa menang kalau mempunyai jati diri yang kuat. So, are you proud to be Indonesian? Yes, I am!

sumber gambar


11 comments:

  1. Keren sekalu dirimu mak. Dai kecil udah disuapin rendang,hehehe. Bener juga analisisnya Mak. Jika kita terbentuk di daratan yang sama, kemungkinan akan kesamaan yang lain juga ada. Seperti masakan, budaya, dll. Dan hal tersebut, sebenarnya tak patut untuk diperdebatkan. Semoga memang ya Mak.

    ReplyDelete
  2. Keren sekalu dirimu mak. Dari kecil udah disuapin rendang,hehehe. Bener juga analisisnya Mak. Jika kita terbentuk di daratan yang sama, kemungkinan akan kesamaan yang lain juga ada. Seperti masakan, budaya, dll. Dan hal tersebut, sebenarnya tak patut untuk diperdebatkan. Semoga memang ya Mak.

    ReplyDelete
  3. Tulisan yang ringkas dan padat. Angkor Watt lebih mirip Candi Prambanan ya :D

    ReplyDelete
  4. @prit punya cerita:

    hihihi keren banget emang. dari kecil udah doyan rendang :)))

    kita ini sering sekali terlibat dalam perdebatan yg gak perlu, dan melupakan hal lain yg sebenarnya jauh lebih penting.

    ReplyDelete
  5. @leyla hana menulis:

    menurutku juga lebih mirip prambanan, mak. tapi aku gak punya kapasitas utk menjelaskan kenapa dibilang mirip borobudur. wes gak ngerti hihihi..

    ReplyDelete
  6. Singkat, jelas, padat, Mak.

    Setuju sekali dengan tulisannya, untuk apa debat kusir? yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memaknai arti Indonesia itu sendiri dan bangga menjadi orang Indonesia.

    Kok ya komentarku sama dengan Mak Leyla, mirip candi prambanan. hehe

    ReplyDelete
  7. @E. Novia Wahyudi:

    Emang mirip candi prambanan sih kalo liat bentuknya. tapi para ahli sejarah kan liatnya gak cuma bentuk aja :D

    ReplyDelete
  8. rendang emang "nendang" bgt rasanya. Nai aja yg gak suka pedes tp kl sm rendang pasti makannya banyak bgt :D

    ReplyDelete
  9. @Keke naima:

    Makan nasi sama bumbunya aja enak banget loh, Mak :D

    ReplyDelete
  10. aku juga doyan rendang mak heheheee

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)