Bebas Visa Bebas Wisata

The Proposal. Pernah nonton filmnya, gak? Film yang dirilis tahun 2009 di Amerika Utara ini, dibintangi oleh Sandra Bullock dan Ryan Reynolds sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang Margaret Tate (Sandra Bullock), seorang kepala editor di perusahaan penerbitan buku. Margaret, imigran dari Kanada, terancam dideportasi dari Amerika karena visanya sudah kedaluwarsa. Takut kehilangan pekerjaannya, Margaret memaksa asistennya, Andrew Paxton (Ryan Reynolds), untuk menikahinya. Mereka berencana melangsungkan pernikahan pura-pura, dan mengakhirinya setelah urusan visa Margaret selesai.

Waduh, cuma karena urusan visa, seseorang bisa sampai repot-repot menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Visa memang sangat penting bagi para perantau di negeri orang maupun para wisatawan, karena visa adalah dokumen yang diterbitkan oleh suatu negara sebagai tanda kita diizinkan masuk ke negara tersebut dalam jangka waktu dan tujuan tertentu. Tapi, karena sifatnya rekomendasi, visa bukanlah jaminan kita bisa masuk ke negara yang dituju.

Lima tahun terakhir ini, dunia pariwisata di seluruh dunia sedang booming. Ditambah dengan maraknya layanan penerbangan dan hotel murah, melakukan perjalanan wisata ke luar negeri jadi bisa dilakukan dengan biaya seminim mungkin. Di sisi lain, untuk meningkatkan jumlah wisatawan, beberapa negara mulai memberikan kemudahan dalam pemberian visa. Kemudahan itu, misalnya kebijakan pemberian visa on arrival di beberapa negara. Visa on arrival (VoA) adalah visa yang diberikan kepada pemegang paspor pada saat kedatangan (di bandara) negara tujuan. Tentu saja negara tujuan itu memang menerapkan kebijakan VoA. Dengan VoA, kita tidak perlu lagi mengurus visa di kedubes negara asal kita. VoA biasanya hanya berlaku untuk kunjungan singkat, seperti liburan.

Di Asia Tenggara, hampir semua negara ASEAN telah membebaskan pengurusan visa bagi wisatawan asal ASEAN yang ingin berkunjung ke negaranya. Artinya, kita hanya perlu paspor untuk masuk ke negara tersebut. Hanya Myanmar saja satu-satunya negara yang masih meminta visa untuk warga ASEAN yang ingin masuk ke negaranya. Sejarah panjang konflik di Myanmar sempat membuat negara ini menutup pintu dari turis.  Tapi saat ini kondisi di sana sudah damai. Pemerintahnya bahkan menggelontorkan uang sampai 4,2 triliun untuk membenahi sektor pariwisata di negara mereka. Dari pengalaman beberapa traveler yang pernah ke Myanmar, pengurusan visa ke Myanmar untuk pemegang paspor Indonesia juga mudah sekali. Selesai dalam waktu 3 hari. Persyaratannya mudah dan biayanya juga murah.

Kemudahan dalam pengurusan visa memang terbukti mampu meningkatkan jumlah wisatawan secara signifikan di negara-negara wisata. Apalagi kalau di negara tujuan menerapkan Bebas Visa, seperti negara-negara ASEAN. Wisatawan tidak perlu lagi repot-repot mengurus visa. Selain itu juga mengurangi biaya yang harus dikeluarkan. Yang harus diingat, negara-negara Bebas Visa ini sebaiknya juga mulai memperbaiki sistem imigrasinya sehingga tidak terjadi ledakan kasus imigran gelap di negara-negara yang lebih maju perekonomiannya. Tapi kita tidak boleh kehilangan optimisme, semoga sistem Bebas Visa antar negara ASEAN ini, membuat tujuan Komunitas ASEAN 2015 bersinergi di segala bidang jadi lebih mudah dan terarah.


2 comments

  1. Waaah.... kapan2 ke Amrik pas visa hampir habis telpon Jon Bonjovi. Njuk ngopo? Xixixiiii.... Semangka maaaak #supportinggroup

    ReplyDelete
  2. @lusi:

    Cemunggut juga, Mamaaak! ^^

    Iku jon bonjovi disebut-sebut, gak takut ketauan umur jeh? :)))

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)