#Dear Daughter: A Great Daughter's Hard To Find

Dari kelima anakku, Asyah dan Ashira, dua anak tertuaku-lah yang paling banyak menemani aku menjalani masa-masa tersulit dalam hidupku. Aku tidak tau apakah mereka mengerti atau tidak. Tapi sampai hari ini, mereka berdua tetap disisiku, menemaniku. Aku tidak tau seperti apa hidupku seandainya tidak memiliki mereka.

Tulisan ini kupersembahkan untuk mereka, untuk cinta tanpa syarat, kesetiaan tanpa tanya, yang telah mereka berika untukku.

Tulisan ini juga aku buat untuk sahabat-sahabatku tercinta, para Makmin Kumpulan Emak Blogger, dalam proyek #DearDaughter yang digagas oleh Mbak Indah Juli, dalam upaya memaknai cinta antara kami dan anak-anak perempuan kami.


_______________________________________________________________

In My Daughter's Eyes
Martina McBride


In my daughter's eyes,
I am a hero,
I am strong and wise,
And I know no fear,
But the truth is plain to see,
She was sent to rescue me,
I see who I want to be,
In my daughter's eyes

*******

Di sudut kamar berdinding putih, aku terduduk. Letih. Hampa. Sendiri

"Ma..., kenapa?" 

Aku mengangkat wajahku. Menghapus sedih yang membayang di sana. Dan tersenyum...

"Sini, sayang, peluk mama..."

Aku memeluk erat mereka berdua. Kurcaci kecilku, entah apa esok aku bisa terus mendekapmu.

"Kaka akan ikut kemana pun Mama pergi."
"Ade juga."

Dan airmataku jatuh. Tak tertahan lagi.

(Jakarta, 5 tahun yang lalu)

*******

Ah, kalau ingat masa-masa sedih itu, Mama nyaris tak percaya. 
Ternyata kita di sini. 
Sekarang. 
Bersama-sama.

Kakak Asyah sayang,

12 tahun yang lalu, sepanjang hari, selama 9 bulan, Mama harus berbaring di tempat tidur. Mama gak tau apa yang membuat Mama kuat waktu itu. Merasakan sakit sepanjang hari, sampai akhirnya kita bertemu dan Mama bisa memelukmu.

Sejak hari itu, Kakak jadi teman Mama. Kita berdua tak terpisahkan. Selalu bersama. Tidur, makan, mandi, semua-semuanya, tak pernah sekalipun kamu jauh dari Mama.

Waktu kamu lahir, Mama sama sekali tidak mengerti tentang bayi. Tidak ada yang mengajari Mama bagaimana merawat bayi baru lahir. Memandikan, memakaikan baju, merawat tali pusat, menyusui, semua Mama pelajari sendiri. Mama masih ingat waktu pertama kali harus memandikan dan mengganti kasa tali pusatmu, Mama menangis. Mama tidak tau caranya. Kamu menangis di dalam bak mandi. Dan Mama ikut menangis dengan perasaan bersalah. Takut kalau Mama menyakitimu. Kemudian Mama ingat, pernah membaca artikel cara merawat bayi baru lahir. Kamu jadi seperti kelinci percobaan Mama. Mama merawat tali pusatmu dengan hanya mengandalkan gambar-gambar di artikel itu. Mama tidak tau, itu benar atau salah. Yang Mama tau, ketika kamu berhenti menangis, Mama bahagia.

Ade Ashira sayang,

Mama rasa kamu jauh lebih beruntung daripada kakakmu. Saat kamu hadir dalam hidup Mama 10 tahun yang lalu, Mama sudah mengerti cara merawat bayi. Mama sudah tau apa yang harus Mama lakukan dan apa yang tidak boleh Mama lakukan. Kesalahan Mama kepadamu waktu itu adalah Mama terlalu cepat memutuskan kamu untuk berhenti menyusu kepada Mama, sebelum umurmu 2 tahun. Tidak, bukan Mama gak sayang kamu. Tapi Mama merasa iba dan bersalah pada kakakmu waktu itu. Rasanya setiap kali Mama menyusui kamu, dan menatap wajah kakakmu, Mama merasa sudah tidak adil.

Kakak Asyah,

Kalau saja kamu ingat waktu itu, Nak, ketika adikmu lahir. Betapa pengertiannya kamu. Betapa sayangnya kamu sama adikmu. Kamu yang belum genap 2 tahun, sudah bisa menolong Mama menjaga adikmu. Dan tidak pernah sekalipun kamu mengecewakan Mama. Anak sekecil kamu, bisa duduk manis di samping adik bayimu, menunggu Mama menyelesaikan pekerjaan Mama. Saat Mama sedang menyusui adikmu, kamu selalu menyandarkan kepalamu di dada Mama yang satu lagi. Diam-diam di situ sambil memeluk Mama. Sering Mama bertanya dalam hati apa yang kamu pikirkan saat itu, apa yang kamu rasakan. Apakah kamu marah sama Mama, karena harus membagi perhatian untuk kalian berdua?

*******

In my daughter's eyes,
Everyone is equal,
Darkness turns to light,
And the world is at peace,
This miracle god gave to me,
Gives me strength when I am weak,
I find reason to believe,
In my daughter's eyes

*******

Hari berganti, tahun berlalu. Kalian berdua semakin besar. Mama tidak perlu lagi menggendong kalian kemana-mana. Tapi kalian selalu ada di sisi kanan dan kiri Mama. 
Kita bertiga menghabiskan waktu bersama-sama. Tertawa, bernyanyi, menangis. Makan, tidur, mandi. Selalu bertiga.
Setiap malam, kalian masing-masing mengambil tempat di ketiak Mama. Lengan kanan dan kiri Mama melingkari leher kalian, dan kita tidur berpelukan.
Kalian selalu minta Mama membacakan buku sebelum tidur.
Tapi kadang-kadang kalian yang bercerita kepada Mama.
Dengan bahasa yang cuma Mama yang bisa mengerti artinya.

Tapi kebahagiaan tidak selamanya berpihak pada kita. Pada kalian.
Terutama ketika Mama dan Papa terjebak dalam ego kami masing-masing. Lupa, kalau kalian tidak mengerti rumitnya kehidupan dunia orang dewasa

Mama tidak tau apakah kalian mengerti atau tidak saat itu. 
Yang Mama tau, kalian tetap tidak beranjak dari sisi Mama. 
Sesaat Mama sempat kehilangan harapan.
Merasa masa depan direnggut paksa dari hadapan Mama
Ketika Mama harus memilih bersama kalian dan ketiadaan.
Atau tanpa kalian dan kehampaan.
Pilihan yang manapun, membuat hidup tidak ada artinya lagi untuk Mama.

*******

And when she wraps her hand around my finger,
How it puts a smile in my heart,
Everything becomes a little clearer,
I realize what life is all about,
It's hanging on when your heart is had enough,
It's giving more when you feel like giving up,
I've seen the light,
It's in my daughter's eyes

*******

"Kaka akan ikut kemana pun Mama pergi."
"Ade juga."

Taukah kalian, Sayang? Saat kalian mengucapkan kalimat itu ditelinga Mama, kalian menyelamatkan hidup Mama. Kalian mengembalikan harapan-harapan Mama. Kalian membuat hidup Mama memiliki arti lagi. Kalian membuat Mama tidak takut lagi.

Kalian tidak sedikit pun mengeluh, ketika kenyataan hidup begitu keras menertawakan kita. Kalian menerima semua yang Mama berikan. Kalian membuat Mama tertawa tepat sesaat sebelum airmata Mama jatuh. Kalian membuat Mama lupa betapa sesaknya dada Mama oleh kepiluan. Kalian sama sekali tidak memberi kesempatan Mama untuk bersedih. 

*******

In my daughter's eyes,

I can see the future,

A reflection of who I am and what will be,

And though she'll grow and someday leave,

Maybe raise a family,
When i'm gone I hope you see,
How happy she made me,
For i'll be there,
In my daughter's eyes

*******

Maira sayangku,

Kamu hadir ketika Mama tengah berbahagia bersama kakak-kakak dan papimu. Sekian tahun kami mengharapkan kehadiran malaikat lagi dalam hidup kami, kamu hadir. Persis seperti yang selalu kakak-kakakmu inginkan untuk adik barunya. Bayi perempuan yang putih dan lucu.

Kamu beruntung, sayang, dicintai sungguh terlalu oleh kakak-kakakmu. Bergantian, bukan, tapi berebutan mereka ingin menjagamu. Doa Mama untukmu, sayangku. Semoga kamu selalu bahagia selamanya. Perjuangan Mama untuk bertemu kamu, tidak ada artinya lagi sekarang. Setelah kehadiranmu, cinta selalu penuh di rumah ini. Juga di hati Mama.

Anak-anak perempuanku, Asyah, Ashira, Maira,
Bersama adik dan kakak kalian, Bima dan Moses,
kalianlah alasan Mama ada.
I love you.

They said, a great daugther's hard to find. But I bless to have you.

___________________________________________________________________

Yang terkasih Mak Lusiana Trisnasari, kami menunggu kisahmu, tentang 2 bidadari cantik yang membuat hari-harimu berwarna :)


26 comments

  1. Duh, mau bilang nyesal atau gimana ya, padahal cuma iseng bikin #DearDaughter, baca cerita-cerita di sini, malah bikin gue nangis berdarah-darah.
    Aaaaah, aku mengharu biru, mataku berkaca-kaca.
    Semoga ini menjadi catatan yang tak akan terlupakan oleh Asyah, Ashira, Maira, juga Bima dan Moses.

    Kecup2 tiga dara :)

    ReplyDelete
  2. Mak, ini beneran mewek bacanya... :') semoga kalian bahagia selalu...they have a great mom and i'm sure they know it. :*

    ReplyDelete
  3. Dari awal baca tulisan mak injul, mak mira trus skr disini, bikin mata berkaca-kaca.

    ReplyDelete
  4. Daku mewek maaaakkk..... :)
    Huhuhu... menyentuh hati

    ReplyDelete
  5. Yak ampuuuunnnn... T___T

    Makpuhhh!!! Tanggung jawab!

    *tissue mana tissue*
    ... dan aku koar2 tadi, mo bikin yang lucu2 *halaaaaaaaaagh*

    ReplyDelete
  6. mba,,aku berkaca-kaca,,tanpa mampu mengurai kata,,hanya air mata,,

    ReplyDelete
  7. hmmm gk bisa berkata apa-apa.. T___T
    Nyess di hati :(

    ReplyDelete
  8. aaaak air mata saya tiba-tiba ngalir begitu membaca cerita ini mak. jadi inget ibu dan berpikir bagaimana kalau saya nanti menjadi seorang ibu :')

    ReplyDelete
  9. berkaca-kaca en warm banget hati bacanya. Thanks for sharing mak. Love this

    ReplyDelete
  10. @ All:

    Gak tau juga mesti bales komennya kayak gimana :D

    Terima kasih teman-teman. Jangan sedih dong :') *pelukin satu-satu*

    ReplyDelete
  11. hiksss.. *nggak bisa coment, meweknya nggak berhenti2 ini ..

    ReplyDelete
  12. Hiksss,... tak terbayangkan kisahmu mak. Dan itu semakin membuatmu menjadi ibu yg terbaik *peluuuukkkkk*

    ReplyDelete
  13. Subhanallaaah... ungkapan cinta yang indah dari seorang mama. *ikut nangis pagi pagi*

    ReplyDelete
  14. cuma pengen peluk dirimu mak Sary :*

    salam sayangku buat semua putri cantikmu mak, jg jagoannya, semoga kalian bahagia selalu :)

    ReplyDelete
  15. nyes mak sary aku bacanya...anak2 memang luar biasa ya...:)

    ReplyDelete
  16. Ah, Mak Sary ...bikin merinding bacanya. semoga kalian selalu bersama dan bahagia.

    ReplyDelete
  17. anak-anak adalah harta yang tiada ternilai sekaligus momen indah yang terukir dalam kehidupan fana ini. Salam manis untuk keluarga dan anak2 cantik n sehat Mak Sari <3 Muaach.

    ReplyDelete
  18. Mak Sari... aku ikut terharu bacanya.
    Anak2 memang selalu mampu memberi kita kekuatan dalam kerapuhan mereka, ya?
    Kedekatan Ibu dan Anak memang sungguh luar biasa indahnya.
    Sun sayang untuk ketiga bidadari cantiknya Mak... :)

    ReplyDelete
  19. Mak, tanggung jawab, lho. Sy jadi nangis bacanya *terharu :)

    ReplyDelete
  20. Huks.. dulu aku juga pingin punya anak perempuan di anak pertama, supaya jika punya adik bisa bantu merawat. tapi dengan memiliki 2 anak lelaki ternyata sama kok, asal kita bisa dekat dengan anak2.. jenis kelamin tak masalah, kita bisa care satu sama lain

    ReplyDelete
  21. tulisan yang menginspirasi mak,
    jadi ambil tisue deh . . .

    ReplyDelete
  22. mewekkkk dah... tutup muka. malu diliatin teman sebelah meja (di ofis )

    ReplyDelete
  23. so touching mbak, buat yang belum jadi ibu.
    yang sudah jadi ibu ga mungkin cuma tersentuh. pasti rasanya ditusuk ditujes disayat-sayat...

    *peluk*

    ReplyDelete
  24. baru sekali ini baca... speechless.... teringat aku yang galak pol ... :^`(((

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)