Friends With Benefits: Kolaborasi Bisnis Kopi Indonesia dan Vietnam

sumber gambar
Sekitar abad ke-9 Masehi, seorang penggembala kambing asal Abbessynia (Ethiopia) menemukan pohon, yang kemudian dikenal dengan nama pohon kopi. Dari dataran tinggi Ethiopia, kopi menyebar sampai ke Mesir dan Yaman. Pada abad ke-15 penyebaran kopi meluas sampai ke Turki, Persia, dan Afrika Utara. Menurut sejarah, orang Belanda adalah yang pertama kali mengimpor kopi dalam jumlah besar, hingga akhirnya kopi ditanam di tanah Jawa, Indonesia.

Letak Indonesia yang dekat dengan garis khatulistiwa, membuat sebagian besar kondisi tanah Indonesia sangat cocok untuk ditanami kopi. Ekspor kopi pertama kali - dari Indonesia - dilakukan oleh VOC pada tahun 1711, dalam waktu 10 tahun meningkat sampai 60 ton/tahun. Pada masa itu Indonesia adalah perkebunan kopi pertama diluar Arab dan Ethiopia. Perdagangan kopi dimonopoli VOC dari tahun 1725 sampai tahun 1780. VOC kemudian mulai menanam kopi diluar pulau Jawa. Kopi mulai ditanam di Sulawesi pada tahun 1750, di dataran tinggi Sumatra Utara dekat Danau Toba ditanam sekitar tahun 1888 dan di Gayo, Aceh pada tahun 1924. Sampai sekarang Indonesia merupakan negara produsen kopi terbesar ketiga dunia.

Pada tahun 2012, produksi kopi Indonesia sebesar 748 ribu ton, atau sekitar 6,6% dari produksi kopi dunia setelah Brasil dan Vietnam. Pengiriman biji kopi dari Indonesia, terutama kopi robusta, menurun hingga level terendah dalam dua tahun terakhir. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan domestik, Indonesia masih harus mengimpor kopi dari Brasil dan Vietnam. Tahun ini saja jumlah impor kopi Indonesia naik 300% dibanding tahun lalu. Padahal, Vietnam, yang tergabung dalam Komunitas ASEAN bersama Indonesia, awalnya dulu belajar kopi dari Indonesia. Vietnam belajar tentang kopi ke Indonesia pada tahun 1980-an di Jember, Jawa Timur. Mereka datang untuk mengenal karakteristik kopi Indonesia.

Luas lahan perkebunan kopi Indonesia mencapai 1,3 juta hektar, sedangkan Vietnam hanya mengandalkan kondisi tanah di perairan Sungai Mekong. Tapi produksi kopi Indonesia hanya 700-800 kilogram/hektar, sementara produksi kopi Vietnam bisa mencapai 3 ton/hektar. Mengapa produksi kopi Vietnam bisa mengalahkan produksi kopi Indonesia?

Meskipun Indonesia unggul dari segi alami (kondisi tanah yang bagus dan luasnya lahan perkebunan), banyak kelemahan yang dimiliki kopi Indonesia dibanding Vietnam, diantaranya:
  • Lemahnya infrastruktur. Lahan luas yang dimiliki Indonesia kurang diimbangi dengan infrastruktur yang memadai. Hal ini membuat investor berpikir dua kali sebelum mengucurkan modal untuk menanam kopi di Indonesia.
  • Kurangnya penyuluhan dari para pemegang kepentingan untuk para petani kopi Indonesia. Penyuluhan kopi untuk masyarakat Indonesia masih lemah dibandingkan Vietnam. DI Vietnam, jumlah penyuluh dan pengajar sangat banya, dan tersebar di seluruh wilayah.
  • Belum ada subsidi pupuk untuk petani kopi di Indonesia. Akibatnya banyak petani yang kesulitan menghasilkan kopi yang berkualitas, karena mahalnya harga pupuk.
Menuju Komunitas ASEAN 2015, dimana Indonesia dan Vietnam menjadi anggotanya, sudah seharusnya dimulai kerjasama serius antar kedua negara, agar dapat bersinergi menjadi produsen kopi terbesar di dunia. Indonesia dan Vietnam sudah memiliki sumber daya yang saling melengkapi. Indonesia dengan potensi alam dan lahan yang luas untuk perkebunan kopi. Sementara Vietnam memiliki teknologi produksi kopi yang lebih unggul. Saat ini kebutuhan kopi terus meningkat. Tahun 2020 nanti, diperkirakan dunia akan mengalami krisis kopi akibat semakin sempitnya lahan. Peluang ini harus dimanfaatkan oleh negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia dan Vietnam. Dengan menggabungkan kekuatan dua negara, dan dimulainya Komunitas ASEAN tahun 2015, Indonesia dan Vietnam pasti mampu merebut pangsa pasar kopi dunia mengalahkan Brazil.

Friends with benefits. Begitulah seharusnya Indonesia, Vietnam, dan negara-negara ASEAN yang lain. Berteman, dan saling memberikan manfaat.

6 comments:

  1. iya ya mak, semacam TTM, teman tapi manyun...hahahahaa...:D

    ReplyDelete
  2. Lagi dan lagi. Negara yang belajar dari Indonesia lebih unggul di banding indonesia. Entah siapa yang harus disalahkan dg kondisi seperti ini.

    Semoga indonesia bisa kembali unggul dg kekayaan alamnya ^^

    ReplyDelete
  3. @winda krisnadefa:

    hahaha jangan manyun, ntar gak dapet duid wkwkwkwk

    ReplyDelete
  4. @E. Novia Wahyudi:

    butuh kemauan kuat sih untuk berubah.. pola pikir masyarakatnya terutama. kalo engga, yg tadinya salah, jadi malah mnjadi sistem yg berlaku..

    ReplyDelete
  5. suka taglinenya friends with benefits, semoga jadi partner jangan jadi musuh dalam selimut

    ReplyDelete
  6. @Ety:

    setuju, mak. jadi partner yang saling menguntungkan :)

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)