Investasi Diplomatik Laos Menuju 2020

Jadi anak bawang itu memang gak enak. Sering dipandang rendah dan dianggap gak tau apa-apa. Seseorang yang sudah terlanjur dicap "anak bawang" butuh komitmen dan kepercayaan diri yang kuat kalau mau bangkit dan menjadi pemimpin. Atau paling tidak, menjadi seseorang yang disegani, tidak dipandang sebelah mata.

Kalau yang menjadi "anak bawang" itu hanya orang perseorang, dan dampaknya bisa jadi tidak baik untuk masa depannya, bagaimana jadinya kalau si "anak bawang" adalah sebuah negara dalam sebuah komunitas? Seperti Laos di dalam komunitas negara ASEAN.

sumber gambar
Republik Demokratik Rakyat Laos adalah negara di Asia Tenggara yang letaknya terkurung diantara Myanmar, RRC, Vietnam, Kamboja, dan Thailand. Dari sudut pandang geografik politik, Laos dianggap tidak menguntungkan dari segi pertahanan dan keamanan karena tidak memiliki wilayah laut atau pantai (kawasan land-lock).

Meskipun letak Laos ada di satu kawasan dengan negara-negara ASEAN yang lain, Laos baru resmi bergabung di ASEAN pada tanggal 23 Juli 1997. Selama bertahun-tahun Laos mengalami ketidakstabilan  akibat kisruh politik di Vietnam. Laos harus menghadapi perang Indochina Kedua, yang memicu perang saudara dan kudeta. 

Pada tahun 1975, kelompok komunis Laos, didukung komunis Uni Soviet dan Vietnam, melakukan kudeta terhadap pemerintahan raja yang berkuasa. Negara bentukan komunis inilah yang berdiri sampai sekarang. Laos kemudian mempererat hubungannya dengan Vietnam. Tahun 1986, Laos mulai mulai mengalami kestabilan ekonomi melalui New Economic Mechanism. 

Sebagai negara ASEAN paling muda, Laos sudah menunjukkan komitmen yang kuat, diantaranya melalui ratifikasi Piagam ASEAN pada tanggal 20 Februari 2008. Peran Laos sendiri di ASEAN, bisa dikatakan belum banyak berkontribusi, tenggelam di bawah bayang-bayang negara ASEAN lainnya yang semakin maju. Dengan adanya Komunitas ASEAN, diharapkan Laos menjalin kemitraan yang baik dengan  negara ASEAN lainnya. Lalu investasi diplomatik apa yang harus dilakukan Laos dengan kemitraan yang terjalin dengan dunia internasional, khususnya negara-negara ASEAN?

Pertanian dan Pertambangan


Laos memiliki lembah sungai yang subur sehingga banyak menghasilkan tanaman pertanian seperti padi, tembakau, dan kopi. Negara-negara ASEAN memiliki ketergantungan tinggi terhadap kebutuhan padi. Indonesia, misalnya. Kebutuhan beras Indonesia tertinggi di Asia. Tahun 2011, Indonesia mengimpor beras sebanyak 2,75 juta ton dengan nilai US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 13,5 triliun. Laos bisa memanfaatkan peluang ini, dengan menjadi mitra Indonesia sebagai penyedia pangan, khususnya beras.

Sosial, Budaya, dan Pariwisata

Penduduk Laos terdiri dari banyak suku bangsa dan keanekaragaman budaya. Di sana juga banyak bangunan bersejarah seperti candi.Selama ini pemerintah Laos sudah melakukan upaya untuk terus meningkatkan wisata budayanya. Selain itu, Laos juga sebenarnya memiliki potensi alam yang bagus, sayangnya belum dikembangkan secara optimal. Untuk meningkatkan potensi pariwisatanya dan memudahkan wisatawan asing datang ke negaranya, Laos harus mempertimbangan dengan sungguh-sungguh usulan dari menlu Indonesia, Marty Natalegawa, untuk membuka rute penerbangan Jakarta - Viantine. usulan itu dikemukakan Menlu RI saat melakukan Pertemuan Komisi Bersama dengan Menlu Laos Thongloun Sisoulith, di Laos, Juli 2013 yang lalu. Rencana membangun rel kereta api yang menghubungkan Vientiane dengan Thailand (Jembatan Persahabatan Thailand - Laos) juga harus segera direalisasikan. Pembangunan infrastruktur akan memudahkan akses wisatawan ke lokasi-lokasi wisata. Laos bisa saja bekerjasama dengan negara tertentu dengan menawarkan paket kerjasama di bidang pariwisata, misalnya promosi tiket murah, paket wisata murah, dan lain-lain. 

Museum Nasional di Luang Prabang, Laos
sumber gambar
Sejak tahun 1993, pemerintah Laos mencanangkan 21% dari wilayah negara sebagai Area Konservasi Keanekaragaman Hayati Nasional (National Biodiversity Conservation Area atau NBCA). Area ini mungkin akan dikembangkan menjadi sebuah taman nasional yang akan menjadi taman nasional terbaik dan terluas di Asia Tenggara. Taman nasional ini juga berpotensi menjadi tempat wisata yang dikunjungi wisatawan mancanegara.

Industri dan Perdagangan

Laos memiliki kawasan hutan yang luas dan lebat. Hasil hutan seperti kayu mentah, kayu olahan, dan hasil kerajinan, menjadi bahan baku industri utama. Perdagangan juga ditunjang dari hasil pertanian, yaitu padi, kopi, dan tembakau. Saat ini kondisi pasar domestik Laos masih dibanjiri produk impor dari Thailand, RRT dan Vietnam. Laos harus bisa memanfaatkan potensi industri dan perdagangannya dengan mampu meningkatkan ekspor ke negara-negara ASEAN yang lain. Kesempatan untuk membuka jalan penghubung dengan negara ASEAN di dekatnya, adalah peluang untuk menjadikan jalan-jalan penghubung itu sebagai lalu lintas perdagangan antar negara.

Pertahanan dan Keamanan

Laos sebagai kawasan land-lock, sebenarnya memiliki keuntungan untuk menjadi "polisi" jalur lintas trans national crimes terutama untuk penyelundupan narkoba dan perdagangan manusia. Peran aktif Laos dalam kerjasama keamanan perbatasan dan regional, bisa meningkatkan kredibilitas Laos di mata negara-negara ASEAN yang lain.

Kesimpulannya, potensi yang dimiliki oleh Laos harus digunakan seoptimal mungkin untuk menjalin kemitraaan dengan negara ASEAN yang lain, sebagai bentuk investasi diplomatik. Investasi itu untuk menunjukkan bahwa si "anak bawang" Laos, memiliki peranan penting di ASEAN, dan kehadirannya sangat dibutuhkan untuk mempercepat terwujudnya Komunitas ASEAN. Dan yang penting juga adalah mencapai target lepas dari status LDC (Least Develoved Country) pada tahun 2020 nanti.

No comments:

Post a Comment

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)