Optimis Menyongsong Perubahan

Setelah hampir 5 tahun aku tinggal di pinggiran Sawangan, Depok, banyak sekali perubahan di daerah ini. Dulu, akses jalan raya menuju rumah, rusak parah di mana-mana. Mau beli kebutuhan sederhana saja, harus ke supermarket yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Masalahnya, angkutan umum jarang sekali lewat di jalan sini. Biasanya kami harus menunggu 30 menit sampai satu jam, baru ada angkot yang lewat. Selain angkot, memang ada juga ojek. Tapi pangkalan ojeknya juga ada di dekat jalan raya besar, jadi percuma juga. Penjual makanan-makanan enak pun, lupakan saja, deh.

Pada awalnya, tentu sulit sekali aku beradaptasi. Apalagi sebelumnya aku tinggal di kompleks perumahan di Jakarta, yang semuanya serba ada dan serba mudah. Perjuangan berat pindah ke sini. Banyak keinginan yang harus ditekan, termasuk urusan yang penting untuk kaum perempuan, yaitu perawatan diri ke salon. Sekadar mau potong rambut saja, harus berpikir berminggu-minggu dulu, sebelum akhirnya meniatkan pergi ke salon, yang letaknya di propinsi tetangga :D

Urusan salon, aku agak pemilih. Bukan pemilih untuk urusan brand sih, sebenarnya. Tapi lebih ke lokasi, produk, dan siapa yang akan men-treatment diriku. Soal harga, selama masih reasonable dengan kondisi dompet, tidak terlalu jadi masalah. Ada harga, ada barang, kan? :) Setelah survei kesana kemari, ketemulah salon yang cocok, yang di propinsi tetangga itu. Sayangnya, meskipun cocok, butuh perjuangan untuk pergi ke salon itu setiap kali aku butuh perawatan. Bagaimana lagi dong, di dekat rumah sini belum ada salon yang memenuhi kriteria hati.

Tapi itu dulu, 5 tahun yang lalu. Sekarang, sudah banyak pilihan salon yang lokasinya lebih dekat dengan rumahku. Salon-salon itu, ada yang lokal, made in Indonesia, ada juga yang menawarkan treatment dan berpromosi kalau salon mereka memiliki sertifikat internasional. Namanya juga persaingan dagang, kan? Imbas dari mulai beragamnya pilihan salon kecantikan di daerah ini adalah, aku pun pindah salon karena menemukan salon yang lebih nyaman, baik dari segi perawatan maupun harga. Selain itu jaraknya juga lebih dekat daripada salon langganan aku sebelumnya.

Sebenarnya, kriteria salon seperti apa sih yang akan kita pilih untuk melakukan perawatan tubuh? Saat ini banyak sekali penawaran produk-produk kecantikan impor di salon-salon di Indonesia. Kulit mulus seperti bintang film Korea, spa tradisional ala Thai, bahkan hair stylist-nya seorang bule, banyak kita jumpai dalam spanduk dan pamflet promosi salon-salon lokal. Apakah promosi semacam itu bisa menjaring pelanggan yang lebih banyak? Bagaimana kalau misalnya nanti ada salon-salon yang benar-benar profesional dan bersertifikat internasional di daerah tempat tinggal kita? Akankah keberadaan salon internasional  itu menggeser salon lokal? Apakah kita akan beralih ke salon internasional dan meninggalkan salon lokal?

Siang tadi aku mengobrol dengan beberapa teman yang hobi nyalon mengenai pilihan mereka, seandainya di dekat rumah mereka berdiri salon Thailand yang profesional dan bersertifikat internasional, apakah mereka akan pindah dari salon langganan mereka selama ini? Ternyata jawabannya cukup beragam.

IE bilang, dia akan tetap ke salon langganan karena khusus perempuan. Salon profesional dengan sertifikat internasional pasti mahal, jadi bukan pilihan.

EL, temanku yang lain bilang, dia juga akan tetap ke salon langganan karena produk yang dia pakai ada di sana. Tapi seandainya di salon Thailand itu juga ada produk yang dia pakai, dia tidak keberatan mencoba. Yang menjadi patokan untuk EL adalah produk dan perbandingan harga.

KO, temanku yang sangat peduli dengan macam-macam perawatan tubuh, punya jawaban berbeda. Dia bilang, dia akan mencoba ke salon Thailand itu. Karena menurut pengetahuannya, Thailand sangat terkenal dengan spa-nya. Selain itu mereka juga treatment perawatan tradisional ala Thai yang sudah terbukti hasilnya.




Jawaban ketiga teman tadi tentunya tidak bisa dijadikan acuan untuk mengetahui selera perempuan Indonesia untuk salon pilihan mereka. Sekadar gambaran saja, bahwa dengan semakin banyaknya pilihan dan janji-janji pelayanan yang profesional dan bertaraf nternasional, seseorang bisa dengan mudah meninggalkan kebiasaan lamanya.


Saat ini Indonesia dan negara-negara ASEAN sedang bersiap menyongsong ASEAN Community (Komunitas ASEAN) pada tahun 2015 mendatang. Komunitas ASEAN adalah sebuah organisasi internasional di kawasan Asia Tenggara dengan semangat menyatukan seluruh warga Asia Tenggara dalam satu komunitas, yang dilandasi dengan prinsip people to people interaction. Interaksi secara langsung ini mencakup bidang teknologi, perdagangan, dan kerjasama disegala bidang. Salah satu keuntungan dari kebebasan berinteraksi ini, masyarakat ASEAN bisa bebas bekerja di negara ASEAN yang mana saja, termasuk mendirikan usaha/jasa di negara ASEAN pilihan mereka.

Dengan adanya Komunitas ASEAN, bukan tidak mungkin di masa mendatang di Indonesia akan kita jumpai salon atau spa resort yang merupakan cabang spa resort di Phuket, Thailand, yang mendunia itu. Tentunya ini jadi tantangan untuk para pengusaha salon lokal Indonesia. Mereka harus mampu bersaing dengan salon-salon bertaraf internasional. Bagaimana caranya supaya mereka, salon-salon lokal ini, dengan tetap menggunakan produk tradisional Indonesia dan tenaga lokal, bisa tetap eksis dan bersaing dengan salon-salon luar yang -mungkin- sudah lebih maju dan terkenal teknologi produknya, pegawai dengan kompentensi internasional dan profesional layanannya. 

Persaingan global ini, menurutku, tidak perlu dikhawatirkan, karena Indonesia memiliki sumber daya manusia dan alam yang luar biasa. Indonesia punya alam yang sangat indah. Coba saja lihat di Bali, Bintan, atau Lombok. Di sana sudah banyak resort yang menawarkan fasilitas salon dan spa dengan menggunakan produk-produk tradisional Indonesia. Tamu-tamu mancanegara banyak yang menjadi pelanggan dan menjadi tempat tujuan wisata. Atau, jangan jauh-jauh, di Jakarta saja sudah banyak salon dan spa tradisional, tapi berkelas. Sebut saja Taman Sari Royal Heritage Spa. Tempat spa ini sangat terkenal pelayanan spa tradisionalnya.


Pada tahun 2013, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 250 juta jiwa. Itu sumber daya manusia yang banyak sekali, bukan? Bayangkan saja kalau produktivitas dan kualitas SDM manusia yang sangat banyak ini ditingkatkan, Indonesia tidak akan kekurangan tenaga kerja ahli, sehingga tidak perlu lagi menggunakan tenaga ahli dari luar negeri. Padahal semua orang juga tahu, kalau gaji pegawai asing jauh diatas gaji rata-rata pegawai lokal. 

Tenaga ahli dari luar negeri ini juga banyak dipakai jasanya oleh salon-salon lokal Indonesia, misalnya hair stylist. Tapi akibatnya mau potong rambut saja, harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Padahal, pasti banyak juga hair stylist Indonesia yang memiliki kemampuan yang tidak kalah mumpuni dengan hair stylist bule itu. Kurangnya pengalaman, etos kerja yang buruk, bisa jadi kendala hair stylist Indonesia untuk maju.

Aku pernah mengalami kejadian, datang ke sebuah salon, dan ternyata pegawainya, meskipun hasil kerjanya bagus, tapi tidak ramah dan tidak komunikatif. Jadi malas datang lagi kesitu karena merasa tidak nyaman. Bukankah inti dari semua pilihan aktivitas manusia itu adalah kenyamanan? Kita cenderung memilih, melakukan, dan mengusahakan sesuatu yang membuat kita nyaman dan aman. Inilah yang harusnya diingat oleh para pengusaha salon lokal, dan tentunya semua pelaku usaha lain dalam menghadapi persaingan global. Sebuah usaha apalagi yang menawarkan jasa akan dicari kalau mampu memberikan kepuasan kepada pelanggan. 

Supaya menang dalam persaingan, tentu saja ada syaratnya. Masyarakat Indonesia harus bisa mengubah mindset dan etos kerja masing-masing, menjadi pribadi-pribadi yang optimis, mau belajar, kerja-keras, jujur, dan bertanggung jawab, tanpa menanggalkan karakter manusia Indonesia yang ramah, murah senyum, dan suka menolong.

Tapi perubahan mindset dan etos kerja ini jangan hanya dilakukan oleh para pelaku usaha saja. Pemerintah dan segenap perangkatnya juga perlu menjamin perbaikan infrastruktur sebagai penunjang supaya harga barang tidak jadi melonjak. Pengurusan izin usaha dipermudah, tanpa mengabaikan aturan-aturan yang berlaku. Hapus perilaku kolusi, korupsi, dan nepotisme. 

Kalau semua lapisan masyarakat dan pemerintah Indonesia bergerak bersama, melakukan perbaikan disetiap aspek, dan optimis menyambut perubahan, kita bukan saja hanya bisa menikmati banyak kemudahan karena hadirnya Komunitas ASEAN, tapi bisa jadi pemain utama. Termasuk salon-salon lokal Indonesia. Meskipun nanti menjamur salon-salon internasional, menurutku tidak akan tergeser dan kalah bersaing. Lihat saja resort-resort dan spa di Bali itu, selalu ramai didatangi turis asing. Selain itu, masih terlalu banyak juga koq masyarakat Indonesia yang cinta produk tanah airnya sendiri. Termasuk aku tentunya :) So, be optiminist, Indonesia!

19 comments

  1. ak dukung cinta produk dlm negri mak. tulisannya detail dan menginspirasi. sukses ya mak

    ReplyDelete
  2. @Uniek Kasgarwanti

    Makasih, Mamak cantek :*

    ReplyDelete
  3. yeaaaayyy!!! aku bangga padamu, mak...akhirnya ikutan juga walaupun rempong sama baby...hebat ih... :')
    *trus baca2* komen selanjutnya...
    maaak, ngapain ikutan sih? katanya takut gk sempet, takut gk bisa, tapi jadinya malah sepanjang ini dan sebagus ini...huh!#saingan wakakakakakkk

    ReplyDelete
  4. @winda krisnadefa:

    daripada eikeh diroket pake mercon, mending ikutan hahaha. makasih ya, mak. jadi terharu. mau bantuin cuci piring sekalian, gak? wkwkwk

    ReplyDelete
  5. Huuuaaaaa..... mak sary ini postingan cetarrrr bgt. Ckckck..... keren. *langsung mules pengen di pijit ala Thai* :D

    ReplyDelete
  6. wah keren postingannya mak sary, dukung terus produk Indonesia agar bisa bersaing dengan ASEAN. Agar semangat terus membara, join yuk di :
    https://www.facebook.com/banggaprodukindonesia

    ReplyDelete
  7. Bener banget, Mak. Tak ada yang harus ditakuti apalagi takut bersaing dg produk/treatment luar negeri yang mungkin sudah jauh lebih maju dan canggih. Karena Nusantara selain memiliki SD Alam yang melimpah, negeri kita juga dikenal dengan produk dalam negeri [perawatan tubuh dari sumber bahan alam warisan leluhur Nusantara] yang dipercaya mampu memberikan manfaat yang tak kalah dengan produk asing.

    So, be optimistic, tingkatkan 'kemasan' dan 'pelayanan' agar menjadi lebih prima dan menarik, sehingga mampu bertahan di kancah international dan siap menyambut hadirnya Komunitas Asean 2015 nanti.

    Sukses untuk lombanya ya, Mak. :)

    ReplyDelete
  8. @Nilam F. Wulandari:

    Terima kasih, mamak :)

    ReplyDelete
  9. @IrmaSenja:

    Samaaaa ... aki juga pengin dipijat nih. yuuks... :D

    ReplyDelete
  10. @kartina ika sari:

    waa ada groupnya, ya? oke, nanti meluncur :) terima kasih ya, mak

    ReplyDelete
  11. @Alaika Abdullah:

    Betul banget, mbak. Indonesia juga gak kalah koq sama luar. Terima kasih kunjungannya, ya :)

    ReplyDelete
  12. kereen banget tulisannya mba, bisa sepanjang dan sekomplit ini. Ibarat nasi goreng, nasi goreng spesial komplet...hehe

    ReplyDelete
  13. salam kenal....
    keren mak ulasannya,lagi-lagi tergantung masing2 selera ya.ada yang udah cocok sm produk A, ada yang pingin coba2, ada juga yang ikut2n..tapi produk dalam negeri g kalah bagusnya sama produk thailand :D

    ReplyDelete
  14. @haafidhanita:

    mau dong nasi goreng. pesan satu ya, mak #loh :D

    makasih, mak, just sharing aja sih, kebetulan pikirannya lg cerewet :)

    ReplyDelete
  15. @Hanna HM Zwan:

    Mamak! kita kan udah kenal :)))

    Btw, selera memang gak bisa dipaksa ya, Mak? Diimingi2 produk sebagus apapun, kalo gak suka, ya gak suka aja :)

    ReplyDelete
  16. Mak, bagus banget tulisannyaa.. Panjang tapi tetep ga membosankan :D
    Ditunggu hari keduanya yaa..


    Btw, ikut giveawayku yuukk :D
    http://noniq.blogspot.ca/2013/08/1-giveaway-noniq-diary-x-firmoo.html

    ReplyDelete
  17. Hidup produklokal Indonesia!!

    saya pernah baca Miss Universe yang mana gitu, di jamu perawatan salon tradisional Marthaa Tilar, dan memuji bahwa salon ala Indonesia terbaik di dunia. (Maksudnya : unik,nyaman,dan lain-lain).

    Juga pernah lihat acara televise tentang perawatan salon termahal di dunia, ternyata pijat ala Bali di gemari Madonna. Hmmm....

    hanya butuh pengemasan dan promosi, apa yang kita punya tak kan kalah dengan yang lain, betul???

    ReplyDelete
  18. @noniq:

    Makasiii :*

    Asiik giveaway. oke, nanti cek ke sana :)

    ReplyDelete
  19. @titi alfa khairia:

    betul banget, mak. setuju! :)

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)