Thank God I Have You

Setahun yang lalu, salah satu kakakku divonis gagal ginjal, dan sejak itu, harus menjalani cuci darah 2 kali seminggu. Menyadari bahwa tidak gampang selamanya harus bergantung pada alat cuci darah, pencarian donor ginjal pun dimulai. Proses panjang yang dijalani oleh kakakku ini sudah pasti menyita waktu, tenaga, rasa, dan biaya. Beruntunglah dia, memiliki istri dan anak-anak yang pengertian dan setia :')

Setelah melewati proses panjang pencarian donor ginjal yang cocok, karena dari keluarga tidak ada yang memenuhi syarat, bertemulah kakak dengan donor yang tepat. Proses pencarian donor ini menyisakan banyak kisah. Ternyata, tidak sedikit orang yang bersedia mendonorkan organ tubuhnya karena butuh uang. Ternyata, tidak sedikit orang yang memanfaatkan kemalangan orang lain dengan pertolongan palsu. Tapi, masih banyak pula orang yang bersedia menolong orang lain semata karena ikhlas ingin menolong :')

Operasi transplantasi (cangkok) ginjal dilakukan selang sehari setelah kelahiran my baby Maira. Waktu itu di rumah sakit, aku menangis dengan gejolak rasa di dada. Setelah 2 hari berjuang melahirkan Maira, gantian kakakku yang berjuang untuk tetap hidup. Hampir 3 bulan setelah kami berdua bergulat dengan perjuangan masing-masing, kami bertemu di acara syukuran dan buka puasa bersama keluarga di minggu terakhir Ramadhan.

Sebelum pertemuan pertama kali itu, komunikasi hanya dilakukan melalui telepon. Kakak selalu bilang, dia sudah sehat, sudah pulih, bahkan sudah kembali aktif bekerja. Mendengar suaranya dan optimisme-nya, aku berpikir, kakak sudah kembali seperti dulu sebelum dia sakit. Bayangkan saja, 1 bulan setelah menjalani operasi transplantasi ginjal, kakak sudah kembali masuk kantor. Padahal, kami semua tahu, sebagai pimpinan di sebuah bank, kakak memiliki dedikasi tinggi untuk pekerjaan dan tanggung jawabnya. Semasa dia masih menjalani cuci darah 2 kali seminggu, dia tetap ke kantor setelah 4 jam cuci darah di rumah sakit. Setelah operasi pun, katanya baru bebas infeksi setelah lewat 3 tahun. Menurutku, seharusnya kakak masih harus istirahat.

Jadi, sore itu kami bertemu. Aku memandangnya lekat-lekat. Memeluknya erat-erat. Bersyukur masih melihatnya hidup setelah penderitaan sakitnya. Orang yang tidak tau kisahnya, melihatnya mungkin biasa saja seperti orang sehat pada umumnya. Tapi aku tau, Kakak jadi lebih pendiam. Wajahnya biasa, tapi kelihatan lelah. Badannya kelihatan sehat, tapi lengannya, mengingatkan aku kepada almarhum Bapak kami. Tiga tahun yang lalu, Bapak meninggalkan kami setelah belasan tahun berjuang melawan sakit, dan diakhir hidupnya, harus menyerah kepada penyakit yang sama seperti kakak. Bapak punya semangat hidup yang tinggi, dan sepertinya semangat itu diwariskannya kepada kakak. Sifat mereka pun memang mirip.

Bapak dan kakak. Dua lelaki tangguh yang mengajariku tentang kehidupan. Bahwa hidup itu keras, tapi bukan alasan untuk menyerah. 

Bapak dan kakak. Dua lelaki yang sakitnya mengajari aku untuk hidup lebih baik.

Bapak dan kakak. Dua lelaki pendiam yang mengajari aku menggenggam erat impian-impianku.

Bapak dan kakak.... Thank God I have you in my life.

11 comments:

  1. terharu membaca postingannya.
    aku punya saudara yang ibunya juga gagal ginjal
    meski tidak mengalami tapi mendengar ceritanya saya jadi mikir betapa bersyukurnya kita yang sehat

    ReplyDelete
  2. Oh, lalu untuk makanan penderita yang gagal ginjal apa ada pantangannya mbak? :-?

    ReplyDelete
  3. haru, smoga Allah selalu menjaga beliau ya mak..

    ReplyDelete
  4. Terharu mba... semoga kakaknya selalu diberi kesehatan ya mba..

    ReplyDelete
  5. @afin yulia:

    Semoga kita selalu sehat, ya. Aamiin :)

    ReplyDelete
  6. @araaminoe:

    Terima kasih sudah membaca :)

    ReplyDelete
  7. @moocensusan:

    Kurang tau, Mak. Sepertinya kakak ipar saya lebih mengerti :)

    ReplyDelete
  8. @meutia rahmah:

    Aamiin. terima kasih doanya mak :')

    ReplyDelete
  9. @Santi Dewi:

    Aamiin. Terima kasih, Mak :')

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)