Cinta Sejati

Cinta sejati. Begitulah kami, anak-anaknya, menyebut cinta Bapa dan Ibu. Di hari-hari terakhirnya Bapa mempunyai satu permintaan yang diucapkannya terus menerus. Bapa ingin meninggal di pangkuan Ibu. Bahkan ketika Bapa sudah dalam kondisi koma, Ibu sepertinya tahu, kalau Bapa menunggu keikhlasan Ibu untuk meletakkan kepala Bapa di pangkuannya. Melihat kondisi Bapa pada waktu itu, anak-anak meminta Ibu untuk ikhlas melakukan permintaan Bapa yang terakhir. "Mungkin itu yang Bapa tunggu, Bu," kata kakakku. "Kasihan Bapa, Bu, kami semua sudah ikhlas." Ternyata memang Ibu yang belum ikhlas pada saat itu.

Akhirnya Bapa memang meninggal di pangkuan Ibu. Bapa setia dalam kesakitannya, menunggu keikhlasan Ibu untuk melepasnya pergi. Seperti ibu yang setia merawat Bapa yang sakit selama bertahun-tahun. "Gua gak percaya dengan cinta sejati. Tapi hari ini gua ngeliat cinta sejati itu memang ada, " kata salah seorang kakak iparku sambil menangis memeluk Ibu. Ketika Ibu menangisi Bapa, kami anak-anaknya menangisi cinta Ibu untuk Bapa.



Bapa dan ibu bukan pasangan serasi seperti di cerita-cerita dongeng. Mereka kerap bertengkar. Bahkan waktu Bapa sakit saja mereka masih sempat-sempatnya bertengkar. Watak Bapa yang sangat keras, temperamental dan tidak sabaran berbanding terbalik dengan karakter Ibu yang lembut dan perasa. Tapi pertengkaran itu hanya antara mereka berdua. Bahkan ketika sedang perang dingin berbulan-bulan pun, mereka tetap tampil sebagai orangtua yang utuh untuk anak-anaknya. Yang aku kagumi dari mereka berdua adalah, seberat apapun masalahnya, mereka tidak pernah saling menjelek-jelekkan apalagi membuka aib pasangannya, termasuk kepada anak-anaknya. Mereka tidak berusaha mencari dukungan dan pembelaan.

Ketika aku sudah menikah, barulah Ibu mulai sering curhat kepadaku tentang karakter Bapa yang keras. Kadang-kadang Ibu mengeluh lelah menghadapi Bapa. Sementara Bapa, masih selalu diam. Tapi sekeras-kerasnya karakter Bapa, beliau orang yang sangat romantis. Bapa tidak pernah lepas menggandeng tangan Ibu, kemanapun mereka pergi. Bapa hanya mau makan hasil masakan Ibu, bahkan nasi sekalipun. Karakter dan perbedaan lain diantara mereka berdua, berselisih sesering apapun, pada akhirnya yang terlihat adalah, betapa mereka saling membutuhkan, saling mencintai, dan saling mencari. Seringnya, masalah diantara mereka selesai karena satu alasan sederhana. Rindu... :')

Sekarang semua tinggal kenangan. Mungkin Bapa pernah menorehkan luka di hati Ibu. Tapi ketika maut memisahkan mereka, yang tinggal di hati Ibu hanyalah cinta. Cinta itu memang aneh, sekaligus indah. Pernikahan itu rumit, tapi membahagiakan :')

***

Tidak ada pernikahan yang sempurna. Tapi dalam ketidaksempurnaan sebuah hubungan pernikahan ada banyak berkah Allah. Ada banyak hikmah tentang kehidupan. Ada banyak kisah inspiratif yang mungkin baru terasa indahnya dikemudian hari.

Pernikahan Ibu dan almarhum Bapaku adalah sebuah kisah cinta yang penuh lika-liku, yang memberi pengaruh sangat besar kepadaku, sejak aku kecil, hingga dewasa dan menjalani bahtera pernikahanku sendiri. Ada banyak hal yang dulu belum bisa kumengerti, baru kupahami setelah usia dewasaku. Bapa dalam diamnya, ibu dengan nasehat-nasehat bijaknya, menemani aku melalui masa kecil yang penuh kegembiraan, masa remaja yang penuh gejolak, dan masa dewasa yang penuh tantangan dan harapan.


10 comments:

  1. trenyuh bacanya mba, jadi merinding... smoga almarhum bapanya mendapat tempat terindah di sisiNya..

    bahagia selalu mba :)

    ReplyDelete
  2. Smp merinding mak bacanya. Salut utk bpk yg masih ttp menggandeng tgn ibu Wlpun usia pernikahanan sdh puluhan thn n ibu yg sbar dgn watak keras bpk. Semoga bpk diterima di sisi Nya & diampuni seluruh dosanya.. Amiinn

    ReplyDelete
  3. Nice story, turut berduka cita semoga bapa nya di tempat kan ditempat yang layak sama sang penguasa. amin

    ReplyDelete
  4. nice sharing, mak. tahun-tahun ujian sudah dilewati. semoga ibu selalu berbahagia ya, meski tanpa bapak. :)

    ReplyDelete
  5. terima kasih doanya untuk ibu dan almarhum bapa, teman-teman :)

    ReplyDelete
  6. Sweet banget. Cinta sejati bukan karena persamaan tapi karena bisa menerima perbedaan

    ReplyDelete
  7. sangat menyentuh mak kisahnya, semoga kelembutan hati ibu bisa kuteladani :)

    Terima kasih sudah berpartisipasi dalam GA-ku ini makmin, good luck

    ReplyDelete
  8. @Lusi:

    Iya, mak.. Dan perbedaan itu yang akhirnya membuat semua jadi terasa indah dan lengkap

    ReplyDelete
  9. @Uniek Kaswarganti:

    Sukses GA-nya ya, Mak.. :)

    ReplyDelete
  10. Hmmm, mau komen apa ya? Rasanya walau engga bisa membayangkan dengan pasti, melihatmu yang sangat kuat, adalah warisan dari Mamamu, ya mak. kisah yang sangat memberikan pelajaran, betapa cinta sejati itu ada. Hiks

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)