Hilangkan Perbedaan, Satukan Perjuangan Menuju Komunitas ASEAN 2015


The Association of Southeast Asian Nations, atau lebih dikenal dengan nama ASEAN, dibentuk pada tanggal 8 Agustus 1967, di Bangkok, Thailand, melalui penandatanganan Deklarasi Bangkok oleh Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. Brunei Darussalam bergabung pada tanggal 7 Januari 1984, disusul Vietnam 28 Juli 1995, Laos and Myanmar tanggal 23 Juli 1997, dan terakhir Kamboja pada tanggal 30 April 1999.  

Kesepuluh negara ASEAN ini, setiap tahun rutin mengadakan pertemuan yang disebut Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN (ASEAN Summit). Event ini merupakan pertemuan puncak para pemimpin negara ASEAN untuk membahas masalah terkait ekonomi dan pengembangan budaya di kawasan ASEAN. KTT ASEAN ke-22 baru saja diselenggarakan di Brunai Darussalam pada bulan April 2013 yang lalu. Tema yang diangkat adalah “Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan”, dengan pokok perundingan pembangunan badan persatuan ASEAN, dengan tiga pilar yaitu Persatuan Keamanan, Persatuan Ekonomi dan Persatuan Sosial dan Kebudayaan. Pembangunan badan Persatuan ASEAN itu harus dirampungkan sebelum 31 Desember 2015.

Sampai saat ini masih terdapat perbedaan perkembangan ekonomi dan sosial yang cukup tajam di antara negara-negara ASEAN. Perbedaan ini bisa menimbulkan kesulitan sekaligus tantangan bagi ASEAN untuk mewujudkan persatuan ASEAN. Selain itu, ada juga konflik teritorial antar beberapa negara ASEAN. Konflik di Laut Cina Selatan, yang dipicu perebutan wilayah yang kaya minyak ini, telah beberapa kali menyebabkan perseteruan antar negara. Tahun 1988, pertempuran antara Cina dan Vietnam menewaskan 70 orang pelaut Vietnam. Negara lain seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Taiwan, juga ikut-ikutan dalam upaya klaim di sekitaran wilayah itu. 

Sengketa wilayah lainnya terjadi di Selat Malaka, yang melibatkan Vietnam, Filipina, dan Cina. Indonesia dan Malaysia, Malaysia dan Singapura, juga terlibat sengketa wilayah perbatasan. Sengketa-sengketa ini apabila tidak segera diselesaikan, akan menjadi bom waktu bagi persatuan ASEAN.

Komunitas ASEAN yang akan terbentuk tahun 2015, sudah di depan mata. Oleh karenanya semua negara ASEAN dan segenap masyarakatnya harus menyiapkan diri untuk memasuki tahap tersebut. Tiga pilar utama ASEAN, yaitu persatuan keamanan, persatuan ekonomi dan persatuan sosial dan kebudayaan harus diintegrasikan secara menyeluruh.

Persatuan kemanan.
Konflik teritorial antar negara ASEAN harus selesai! Kalau sekarang masih ada konflik teritorial di antara negara ASEAN, berarti interaksi yang terjadi saat ini masih bersifat state oriented, bukan people oriented. Padahal tujuan dan semangat Komunitas ASEAN adalah menyatukan seluruh warga ASEAN dalam satu visi, satu komunitas, satu identitas. "Our Peole, Our Future Together", bukahkah itu komitmen utamanya?

Persatuan ekonomi
ASEAN harus mengubah mindset dari konsumtif menjadi masyarakat yang produktif, terutama negara-negara ASEAN yang pertumbuhan ekonominya masih di bawah yang lain. Negara yang lebih maju harus mau mennsupport dan mendukung, sehingga terjadi pemerataan ekonomi di semua negara.

Persatuan sosial dan kebudayaan.
Jangan ada lagi yang meributkan asal makanan, asal tarian, asal alat kesenian, dan lain-lain. Bukankah tujuan ASEAN salah satunya adalah menyamakan identitas? Sejak zaman nenek moyang, masyarakat Asia Tenggara, berinteraksi melalui perdagangan. People come, people go. Orang yang tinggal, mengenalkan budaya dari daerah asalnya. Orang yang pergi membawa identitas asal ke tempat tujuannya. 

Menyamakan persepsi, menyatukan perjuangan, dan sosialisasi berkesinambungan, maka persatuan  ASEAN di masa yang akan datang, bukan hanya sekadar cita-cita belaka. Go, ASEAN!

No comments:

Post a Comment

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)