Seringnya, Tuhan Membahagiakanku Dengan Cara Yang Sederhana

Sudah tiga mingguan ini aku gundah. Penyebabnya kerena si Mbak yang biasa antar-jemput Moses sekolah, tiba-tiba dapat ilham buat melamar kerja di salon. Dan diterima! Seneng, sih. Itu artinya dia mau berkembang dan langsung dapat kesempatan. Tapi, itu juga sama artinya dengan Moses gak ada yang antar-jemput lagi. Si Mbak ini udah enak banget. Pertama, dia perempuan, jadinya lebih merasa nyaman. Apalagi suka dimintai tolong mengantar kakak-kakaknya Moses pergi les, dan lain sebagainya. Melepas anak ABG perempuan dengan mbak ini tentunya lebih tenang ketimbang mereka naik angkot atau abang ojek. Kedua, si Mbak juga punya anak seumuran dengan Moses, jadi paham betul bagaimana memperlakukan anak kecil. Terbukti Moses merasa nyaman dan senang juga pergi dan pulang sekolah bareng si Mbak. Dia kan ekspresif. Kalau gak suka, dia akan bilang gak suka. Ketiga, si Mbak baik hati dan jujur. So, kurang apa lagi, coba?


Jadi hampir 3 minggu ini aku yang jemput Moses pulang sekolah. Berangkat masih diantar papi-nya. Kecuali kalau papi-nya sedang keluar kota, Moses "libur". Hiks... :(  Bukan malas atau gak sempat. Tapi seperti yang pernah aku tulis di sini, di daerah tempat tinggalku, yang namanya angkot itu masih jarang. Paling cepat 30 menit baru lewat lagi. Pangkalan ojek adanya di dekat jalan raya besar. Jadi untung-untungan banget nunggu ojek di pinggir jalan. Bawa anak kecil sambil gendong bayi, berdiri lama-lama di pinggir jalan, seringkali jadi tidak menyenangkan. Terutama kalau anak kecilnya sudah gak sabaran menunggu, atau adik bayi sudah resah kehausan. Tapi "meliburkan" Moses setiap kali papinya dinas keluar kota juga bukan solusi yang baik. Apalagi Moses senang sekali sekolah. Butuh waktu berjam-jam untuk membujuk dia supaya "libur". Kami gak ingin membohongi Moses kenapa dia -harus- gak sekolah pada hari itu. Kami selalu mengatakan alasan yang sebenarnya.

Nah, pagi tadi puncak kegundahanku. Jadwal suami keluar daerah sudah mulai padat dan panjang. Masakah Moses harus "libur sekolah" terus. Apalagi sudah 2 hari ini kesehatanku agak drop. Membayangkan harus keluar rumah, sambil gendong bayi, kemudian masih harus masak sebelum yang lain pulang sekolah. Haduh, sejuta deh rasanya! Belum lagi, jadwal les Ashira mundur menjadi jam 4 sampai jam 6 sore. Mau pergi sama siapa dia? Jam segitu udah pasti banget gak ada angkot yang lewat :(

Aku bangun pagi dengan rasa campur aduk. Dan perasaan-perasaan negatif itu malah bikin aku jadi merasa makin sakit. Semakin punya alasan untuk "meliburkan" Moses dan tiduran saja, menikmati rasa sakit. Tapi entah kekuatan dari mana, aku memutuskan bangun, dan menyiapkan semua keperluan sekolah Moses. Kalau kakak-kakaknya, sudah pintar menyiapkan kebutuhan mereka masing-masing, jadi tugasku gak terlalu banyak. Aku tau suamiku juga resah, tapi mau bagaimana lagi, masa batal pergi cuma karena gak ada yang antar anaknya sekolah? 

Setiap pagi, bangun tidur, aku selalu belajar menata hatiku dari nol. Memastikan dengan sadar, aku akan menjalani hari yang baru dengan tenang, hati riang gembira. Kadang berhasil, kadang gagal total! Kalau berhasil menentukan dan mempertahankan pilihanku untuk berbahagia pada hari itu, biasanya sepanjang hari aku baik-baik saja. Semua hal terasa menyenangkan. Semua urusan, mudah dan lancar. Sebaliknya kalau gagal, butuh ekstra energi untuk menutup hari.


Moses berangkat sekolah diantar papinya. Tugasku menjemput saat pulang, dan mencari tukang ojek untuk mengantar jemput Moses dan kakak-kakaknya selama papinya pergi. Sebelum bertemu si Mbak tadi, aku sudah berulangkali di-PHP-in sama tukang-tukang ojek di daerah sini. Jadi agak trauma. Apalagi harus melepas anak sekecil Moses dan remaja putri. Kalau aku ikutan mengantar jemput Moses, biayanya jadi berkali lipat karena rutenya jadi bolak-balik. 

Gak ada pilihan lain, aku memilih tidak memikirkannya, dan membuat hatiku berbahagia dengan bergurau dengan para Makmin KEB di group WhatsApp, dan merayakan keberhasilan Mak Winda Krisnadefa yang berhasil jadi juara pertama lomba blog #10daysforASEAN. Ternyata berhasil membuat perasaanku jadi lebih tenang, menyelesaikan semua pekerjaan tanpa drama. Maira baik banget. Aku tinggal sendirian selama 1,5 jam, dia gak nangis. Diem-diem aja, sambil kadang terdengar dia ngoceh dan ketawa sendirian :') Tiba saatnya jemput Moses, aku melangkahkan kakiku keluar rumah dengan ringan. Sempat ciut, sih, ketika hampir 20 menit masih berdiri di pinggir jalan. Sudah pasti terlambat jemput Moses. 

Aku belum dapat bayangan sama sekali kemana harus cari ojek untuk disewa selama suamiku pergi. Tapi Tuhan rupanya sudah menyiapkan kejutan untukku. Ketika angkot berhenti di tempat tujuan aku berhenti, (ke sekolah Moses harus sambung naik ojek), mataku tiba-tiba tertumbuk pada satu sosok bapak yang sudah lama sekali tidak pernah kutemui. Bapak yang sudah lama juga kucari-cari. 

Si Bapak ini seorang tukang ojek baik hati yang 2 tahun lalu selalu mengantar aku kemana-mana. Dia jarang terlihat di pangkalan ojek itu karena memang sudah 4 tahun lamanya menjadi langganan seorang dokter untuk mengantar anak-anaknya sekolah. Dulu, beliau memang menawarkan diri untuk mengantarkan aku pergi kemana pun, asal tugasnya mengantar-jemput anak-anak si dokter sudah selesai. Sayang, aku kehilangan nomor teleponnya, dan tidak pernah bertemu lagi. Sampai hari ini.

Perasaan bahagia langsung menyelimuti hatiku. Padahal aku belum turun dari angkot :D Silakan sebut aku lebay. Tapi urusan transportasi di sini memang luar biasa melelahkan hati. Sekuat jiwa aku mengirimkan sinyal supaya si Bapak menoleh ke arah angkot dan melihatku. Eh, beliau malah bersiap mencari penumpang lain. Begitu satu kakiku keluar angkot, aku memanggilnya. "Bapaaaak...!" Hahaha, serasa bertemu bapakku sendiri :') Tanpa memedulikan tatapan tukang ojek yang lain, aku langsung duduk di belakang beliau dan memintanya mengantarku ke sekolah Moses. Sepanjang perjalanan kami mengobrol. Terharu, ternyata beliau masih ingat cerita-ceritaku dulu. Beliau juga bercerita ternyata sekarang makin sibuk, masih mengantar anak-anak dokter yang jadi langganannya sejak dulu. Tidak hanya sekolah, tapi juga menunggui mereka les. Aku langsung curhat kalau aku juga sedang butuh orang untuk menolongku. Tanpa berpikir panjang dia menyanggupkan dirinya untuk menolongku. "Kan, udah dari dulu saya bilang, Mbak kalau butuh saya, telepon aja. Saya pasti datang," katanya. Huhuhu nomor Bapak kan hilang, jawabku dalam hati. Kami bertukar nomor telepon. Aku berjanji menyimpan nomornya baik-baik kali ini ^_^ Daaan, saking senangnya, aku sampai lupa membayar ongkos ojeknya. Haduh! #tepokjidat

Ah, terima kasih, Tuhan, sudah menjawab doaku hari ini. Seringnya, ketika aku memilih menjalani hariku dengan berbahagia, dan mensyukuri setiap detiknya, Tuhan membahagiakanku dengan cara yang sederhana. Sebenarnya, memang tidak ada orang lain (ojek) yang kuharapkan selain si Bapak itu untuk menggantikan si Mbak. Dan Kau mempertemukan kami lagi. Doakan hari-hariku esok selalu lancar, ya, temans... :')

31 comments

  1. Seringkali Tuhan memang menegur kita dengan banyak cara ya Mbak.
    Aku juga begitu, sering saat hati sedang tidak enak dan mengeluh, ternyata ada saja kejadian yang ditunjukkan Tuhan untuk menyadarkan bahwa banyak hal lain yang harus disyukuri instead of mengeluh.

    ReplyDelete
  2. begitulah ya mak, ada saat-saat kitaterasa lemah dan merasa 'sempit'. Tapi Tuhan punya caranya sendiri untuk mengingatkan kita. kalau sudah begitu, maka kurang syukur apa ya kita padaNya? semangat selalu ya Mak mengisi hari-harinya :)

    ReplyDelete
  3. Tuhan selalu memberi apa yang kita butuhkan ya, Mba.

    Gak kebayang, suara Mba Sari ketika memanggil Bapak sekeras apa. :)
    Semoga selalu diberi kemudahan dan kelancaran untuk menjalankan aktivitas ya, Mba. :)

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah ya mba, semoga selalu dimudahkan :-)

    ReplyDelete
  5. Aku tuh percaya banget kalau Tuhan akan selalu ada bersama kita, baik susah dan senang, hanya kita saja yang suka lupa untuk mengingatnya. Apalagi sekarang ini, walau ditimpa duka, aku percaya semua ini karena Allah sayang sama aku dan membuat aku naik kelas ke ujian berikutnya :)

    ReplyDelete
  6. @Zizy Damanik:

    Jadi malu ya, kalo ngeluh terus ..

    ReplyDelete
  7. @Rebellina Santy:

    makasih sharingnya, mak.. :)

    ReplyDelete
  8. @Idah Ceris:

    Hahaha pokoknya cukup keras sampe diliatin orang :D

    ReplyDelete
  9. @Leyla Hana Menulis:

    Aamiin, makasih doanya, Mak.. Semoga dirimu juga, ya.. :*

    ReplyDelete
  10. hidup memang kaya rasa ya mak :) semangatt... terus jalani hari2 dengan optimis dan bahagia, walau kadang keadaan tidak mendukung. lha siapa lagi yg bias bikin kita bahagia kalo bukan kitanya sendiri :)

    ReplyDelete
  11. Turut bahagia membaca postingan ini, Mak. Tuhan memang selalu punya cara memberi kejutan manis, manakala hambaNya telah benar2 nerimo dan berdamai dengan keadaan, serta optimis menyongsong detik demi detik berikutnya. Kejutan manis bertemu si Bapak Ojek, adalah salah satu buktinya, ya, Mak. :)

    *Peluk Mak Sary ah!

    ReplyDelete
  12. turut lega :) secara pernah mengalaminya, si mbak mudik, jemput sendiri rempong, mau pake ojek takut ini itu kalau belum tahu orangnya...

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah ya mak,...:)
    Jadi terbayang kerepotan Mak sary, luar biasa. jadi malu hati donk...aku masih saja terus mengeluh kalo ribet di rumah. Padahal anak-anakku cuma dua dan sudah gak terlalu merepotkan sebenarnya.

    #Hemmmm....titip cium buat Maira boleh Nda ? ^_^

    ReplyDelete
  14. kdg2 yg kecil2 dn sderhana ini terlewat untuk disyukuri,,pdhl yg kecil kyk gni nyatanya bs bikin kita bhagia luar biasa he he,,tengkyu mba :)

    ReplyDelete
  15. hehehe...senasib rempongnya. Thanks sharingnya mak. Upgrade semangat nih :)))

    ReplyDelete
  16. Pengalamannya mirip deh, Mak !
    Mencari orang yang bisa dipercaya itu tidak mudah walau bukan berarti tidak ada.
    Anak-anak akupun berojek ria untuk transportasi sekolah dan lesnya.

    ReplyDelete
  17. Tukang ojeknya baik banget ya sar.

    ReplyDelete
  18. memeng Tuhan tidak memberi apa yang kita mau tapi apa yang kita butuhkan

    ReplyDelete
  19. Hooooh disini angkot pun susah, bukan krn jarang tp krn harus ngojek dulu ke jalan besar. Pdhl aku anti ngojek. Sekolah anak2 jauhnya minta ampun. Moga2 bisa ngantar terus. Btw akhir2 ini aku bahagia krn Lebaran kmrn beli cobek batu dr Muntilan. Disini gak ada cobek Jawa, jd aku masak pake bumbu halus dipasar, aroma gak sedap. Cobek bg orang lain adalah bahagia yg sederhana. Bagiku enggak, nunggunya setahun, dibawa nyebrangi selat & bbrp propinsi wkwkwkkkk

    ReplyDelete
  20. @rita dewi:

    Setuju, Mak. Kita bisa memilih utk bahagia

    ReplyDelete
  21. @alaika abdullah:

    Peluk juga Mbak Al. makasih supportnya, ya :*

    ReplyDelete
  22. @Rina Susanti:

    Heuheu.. kayaknya sepele, tapi rempong ya, Mak, kalo gak ada solusi

    ReplyDelete
  23. @IrmaSenja:

    Setiap orang punya perjuangannya masing2, Neng. Perjuanganmu jg luar biasa *kiss dr Maira*

    ReplyDelete
  24. @Miyake :

    salam kenal juga. terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisanku, ya :)

    ReplyDelete
  25. @Lusi :

    Hoooo.. aku juga gak punya cobek, Mak. Jadi pake blender deh. Lebih praktis xixixi

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)