Senang Belajar Membaca



Moses lagi senang belajar membaca. Bangun tidur, baca buku. Pulang sekolah, baca buku. Mau tidur, baca buku. Buku hampir tidak pernah lepas dari tangannya. Dia memang senang "membaca" buku sejak masih disebut bayi :D Mungkin ketularan kakak-kakaknya yang juga senang membaca. Meskipun begitu, aku tidak pernah secara khusus mengajari Moses membaca. Aku menunggu sampai tiba waktunya Moses ingin benar-benar bisa membaca buku. Anak-anak yang belajar atas kemauan sendiri, biasanya lebih cepat menyerap ilmu, karena mereka belajar dengan hati gembira, bukan paksaan.


Sejak menemukan metode belajar baca yang menyenangkan untuk anak-anak -and it works-, aku mengajari anak-anakku semuanya dengan metode yang sama. Pendekatan dan waktunya saja yang berbeda, karena pertumbuhan dan perkembangan masing-masing anak berbeda. Ketika Moses bilang, "Ma, ajarin Moses baca dong. Moses pengen baca buku", aku langsung meminta suamiku bongkar gudang. Loh? Hihihi! Iya, bongkar gudangnya dalam rangka mencari alat belajar baca yang sudah kupakai sejak anak pertamaku dulu. Alatnya sebenarnya sederhana, hanya kotak kayu yang berisi papan-papan kecil bertuliskan suku kata di atasnya.

Belajar baca menggunakan papan suku kata seperti ini, lebih efektif untukku, daripada langsung mengajari anak-anak membaca menggunakan buku. Konsentrasi anak seumur Moses biasanya tidak lama. Baru sebentar, sudah bosan. Jadi lebih asyik kalau dengan cara bermain. Aku menyebutnya bermain papan-papanan, daripada belajar membaca. Ketiga anakku yang lain juga pertama kali belajar membaca menggunakan alat ini. 

Alat ini dulu aku beli di sebuah tempat les khusus membaca dan menulis di Jakarta Utara. Mau bikin sendiri juga sebenarnya bisa. Papan bisa dibuat dari karton tebal sehingga tidak gampang sobek. Setelah ditempeli huruf atau suku kata, dilapis plastik atau solatif biar awet. Kalau dihitung-hitung dari sejak pertama kali anak pertamaku belajar membaca (umur 5 tahunan), alat ini sudah kumiliki selama 7 tahun. Kondisinya masih bagus, karena selalu kusimpan setiap anak-anakku sudah selesai menggunakannya. Mudah-mudahan, sampai juga ke Maira, ya :)

Belajar membaca menggunakan alat ini, jadi lebih menyenangkan untuk anak-anak(ku). Misalkan saja, sambil main masak-masakan, papan suku kata tertentu bisa pura-pura digunakan sebagai kerupuk. Ayo, kita goreng kerupuk mami. Maka anak-anak bertugas mencari papan dengan tulisan ma dan papan dengan tulisan mi. Hehehe!

Setelah menguasai dan hafal bentuk suku kata-suku kata, serta logika mereka sudah sampai ke cara menyusun kata, barulah aku pindah ke buku. Kalau aku konsisten bermain papan-papanan itu bersama anak-anak, minimal 15 menit saja sehari, dalam sebulan biasanya sudah lancar membaca. Biasanya loh, ya. Harap maklum, soalnya aku emak-emak multitasking :D

Buku pengantar belajar membaca yang kupakai, sudah kugunakan juga sejak Asyah, anak sulungku belajar membaca. Judulnya Teman Membaca, terbitan PT Mandira, Semarang. Dulu belinya di toko buku Gramedia. Harganya hanya 5.500 rupiah. Isinya juga sederhana, pengenalan suku kata-suku kata, kemudian dirangkai jadi kata dan kalimat sederhana.

Buku ini sempat menghilang di gudang. Setelah lama mencari dan gak ketemu, aku coba cari lagi di Gramedia, tapi gak ketemu. Buku-buku untuk belajar membaca yang sekarang banyak beredar di toko buku memang sudah lebih banyak dan variatif. Beberapa ada yang kubeli, tapi tetap saja lebih cocok dengan buku sederhana ini. Untunglah akhirnya buku ini ketemu juga. Sudah robek-robek sampulnya, jadi harus dijaga baik-baik kalau mau lanjut sampai Maira :)))

Jadi, alat bantu anak-anak untuk belajar sebenarnya tidak perlu yang mahal apalagi canggih, kan? Karena yang penting cara mengajarnya dan hasilnya anak senang :)

9 comments

  1. Iya Ma, gak perlu mahal, kinan juga belajar baca dari alat rumah tangga yang ada dirumah :D

    makin rajin ya Moses

    ReplyDelete
  2. wah asyik juga tuh kayaknya bermain papan2an. mungkin sekarang sdh banyak di pasaran ya mak?

    ReplyDelete
  3. asyik dong ya mba..anakku juga lagi senang2nya baca buku cerita. meski baru bisa baca a-b-c dan teman2nya..
    tapi kalo anakku baca buku cerita, dia liat gambarnya, kemudian dia cerita sendiri menurut apa yang dia liat :D

    ReplyDelete
  4. orang tuaku dulu juga pakai papan baca seperti itu mbak, cuma dari karton tebal, memang efektif ya untuk mengajari anak membaca, semangat Moses..

    ReplyDelete
  5. @Hana Sugiharti:

    Yang penting anak-anak menikmati proses belajarnya, ya, mak :)

    ReplyDelete
  6. @rita dewi:

    kurang tau juga, mak. bikin sendiri aja :D

    ReplyDelete
  7. @edapoenya:

    moses sudah lewat masa ngeliatin gambr dan bercerita dari gambar. lama-lama dia penasaran sama cerita yg sebenarnya, makanya minta belajar baca :))

    ReplyDelete
  8. @nophi:

    yup, simple, tapi mudah dipahami anak-anak :)

    ReplyDelete
  9. Setuju Mak sari, jika hatinya bahagia maka akan cepat menangkap yang dipelajarinya

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)