[Sponsored Post] Kiamat Internet? Oh, No!

Aku mulai mengenal internet sekitar tahun 1999. Waktu itu mengakses internet masih menggunakan layanan dial up Telkomnet Instant, yang pemakaiannya menyedot pulsa telepon rumah. Akibatnya, karena penasaran menjelajah dunia maya tanpa batas itu, tagihan telepon setiap bulan membengkak.

Lambat laun, internet semakin dikenal masyarakat, dan kebutuhan masyarakat untuk mengakses internet pun semakin tinggi. Hal ini membuat para penyedia layanan telekomunikasi berlomba-lomba menawarkan berbagai kemudahan untuk mengakses internet. Biaya yang dikeluarkan pun semakin murah. Sekarang dengan uang 50 - 100 ribu saja, kita bisa menikmati layanan internet unlimited. Padahal dulu tagihan telepon rumah pernah mencapai angka jutaan rupiah gara-gara internet. 


Internet pun tidak lagi hanya bisa diakses di satu tempat seperti rumah, kantor, atau warnet. Kecanggihan teknologi membuat kita bisa mengakses internet melalui ponsel, yang artinya internet bisa diakses di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja. Support dan dukungan pun diberikan pemerintah kepada perusahaan penyedia jasa internet melalui UU Nomor 36 Tahun 1999.

Sayangnya, kemerdekaan menjelajah dunia maya tanpa batas dengan mudah, terancam berakhir. Putusan Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang menjatuhkan vonis 4 tahun penjara kepada mantan direktur utama IM2, Indar Atmanto, menimbulkan kekhawatiran banyak pihak, terutama perusahaan ISP yang bekerjasama dengan operator pemilik izin frekuensi seperti sistem kerjasama IM2 dengan perusahaan induknya, PT Indosat, Tbk.

Sampai saat ini kasus IM2 masih terus bergulir dan mengancam perusahaan penyedia layanan internet lain atau Internet Service Provider (ISP), terutama yang melakukan kerjasama dengan IM2. Menurut Asosiasi Penyedia Layanan Jasa Internet Indonesia (APJII), ada sekitar 286 operator penyedia layanan internet di Indonesia yang sistem kerjasamanya seperti Indosat dan IM2. Mereka terancam proses kerjasamanya dan gulung tikar karena Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dan Keminfo memutuskan menunda proses pengajuan izin baru, penyesuaian izin, izin frekuesi sampai batas waktu yang tidak ditentukan demi menghormati putusan pengadilan. BRTI juga mengatakan bila putusan majelis hakim pada kasus IM2 bertahan, bukan tidak mungkin ISP lain akan kena sanksi seperti yang terjadi pada IM2 yang dikenai tuntutan sebesar Rp 1,3 triliun. 

Kasus IM2 berawal dari anggapan Jaksa Penuntut bahwa tiap penyedia maupun pengguna internet harus memiliki ijin penggunaan frekuensi. Padahal kerjasama yang selama ini berlangsung berbasis kerjasama sewa jaringan, seperti yang dilakukan oleh IM2. Menurut Keminfo, hal itu pun sudah sesuai dengan regulasi telekomunikasi yang tercantum dalam UU Nomor 36 tahun 1999. Kekeliruan pemahaman jaksa dan hakim seputar teknologi komunikasi berpotensi meluas ke industri lainnya. Misalnya, ATM yang memakai jaringan VSAT dan seluler. Sementara, perbankan dan content provider yang tidak punya izin frekuensi, bisa jadi korban berikutnya.

Padahal pengguna internet di Indonesia sangat besar, loh. Data statistik menunjukkan hampir seperempat penduduk Indonesia menikmati layanan internet. Kalau vonis terhadap IM2 dijalankan dengan konsisten dan menyebabkan banyak ISP gulung tikar, karena tidak sanggup membayar ganti rugi triliunan rupiah, seperti yang terjadi pada IM2, sudah bisa dipastikan kiamat internet akan terjadi di Indonesia.

Kiamat internet? Oh, no! Terus nasibku bagaimana, yang menggunakan internet untuk bekerja dan bersenang-senang? Bukan hanya aku, sih, tapi juga seperempat juta masyarakat Indonesia pengguna internet. Era digital seperti sekarang, banyak orang dan perusahaan yang menggunakan internet untuk efektivitas dan efisiensi waktu. Jangan jauh-jauh deh, contohnya suamiku. Beliau tidak perlu ke kantor setiap hari, karena hampir semua pekerjaannya bisa dikerjakan di rumah dan dikirim ke kantor menggunakan email. Teman-temanku juga banyak yang bekerja dan berbisnis online. Salah satu dampak positif dari internet adalah membuka peluang semakin banyak orang menjadi entrepreneur. Kenapa? Karena lewat internet, biaya bisa ditekan, khususnya biaya promosi. Networking juga lebih mudah. Hemat waktu, hemat tenaga. Bukankah dengan makin banyaknya masyarakat yang mandiri dan memiliki usaha sendiri, negara juga diuntungkan? Pengangguran berkurang. Perekonomian masyarakat meningkat. Lebih banyak kerugiannya dari pada keuntungannya kalau Indonesia sampai mengalami kiamat internet. Zaman sekarang, ketika semuanya sudah terhubung online, dan Indonesia tanpa internet? Oh, no!

Pihak pengadilan Tipikor yang menangani kasus IM2 seharusnya lebih terbuka untuk berdiskusi dan menerima pendapat para ahli. Majelis hakim yang menangani persidangan pun diharapkan bisa lebih adil dalam mengambil keputusan. Karena vonis yang dijatuhkan pada satu korporasi, bisa mengakibatkan rantai kerugian yang sangat besar bagi masayarakat Indonesia.


13 comments:

  1. Iya Indonesia itu pengguna terbesar internet dan FB hehe

    ReplyDelete
  2. nggak kebayang,bakal banyak yg gulung tikar...:)

    ReplyDelete
  3. dunia berputar mak, kali ada penemuan yang lebih canggih dari internet ya...

    ReplyDelete
  4. oh nooooooo !!!! :D tar kita gak isa ngeblg lagiii..

    ReplyDelete
  5. Dunia tanpa internet? Haduh, jelas nggak bisa. Kebayang, banyak orang kaan kehilangan pekerjaan, susah mencari relasi, dan dunia jadi sempit lagi :(

    ReplyDelete
  6. udah kudet ma berita, ketinggalan inpoh soal kasus IM2 ini.
    soal frekuensi, tv juga dikenakan kudu ada frekuensi tersendiri, gak sembarang. Kemaren waktu masih kerja, agak ribet juga urus izin frekuensi untuk tv.

    dunia tanpa internet? wadoh maak, i cant imagine it T_T

    ReplyDelete
  7. Jadi inget..aku mulai aktif pake jasa Internet itu tahun 1997 krn di sydney internet murah banget. Pas balik ke indonesia dan dengan gaya yg sama aku make Internet eh tagihanku selalu di atas 1 juta tiap bulannya. Jadi aku pake kartu prabayar yg dikeluarin ISP itu.. barulah agak murahan krn dia quotanya unlimited sebulan ketimbang pake telkom yg selalu juta2an.
    Miris juga kalo hakim bisa gaptek sampai akhirnya salah menelurkan keputusan. Krn di daerah masih banyak layanan ISP itu. Gimana nasib mereka ya?

    ReplyDelete
  8. kalau sampai kiamat internet, walah, alamat balik lagi ke surat menyurat pos dan buku diary lagi neh :)

    ReplyDelete
  9. Kiamat internet? Ini tidak mungkin terjadi. Seandainya ini terjadi, kenapa hidup ini tidak adil....

    ReplyDelete
  10. wah, menarik bgt mak postingannya, nambah pengetahuan ^_^
    sy jarang liat berita, untung mampir, jd tau dh hehehe

    ReplyDelete
  11. duh emang sdh pasti begitu ya? ga ada jalan lainkah yg bs dilakukan spy internet ga kiamat? atau mungkin ada media pengganti yg lebih canggih mungkin?

    ReplyDelete
  12. aku rutin menggunakan internet sejak 1999 juga mbak waktu mulai kerja hingga sekarang :)
    Aku pengguna IM2 juga awalnya tapis ekarang beralih ke provider lain

    ReplyDelete
  13. kalo beneran kiamat internet, para emak2 cerdas pasti punya cara lain untuk tetap berkarya.. hidup emak2 :D

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)