Ibu, Cinta Tanpa Akhir


"Halo, Bu, lagi ngapain?"

Begitu aku selalu menyapa ibu di telepon.
Dulu, waktu belum mengenal henpon, komunikasi kami hanya pada saat aku pulang ke rumah.
Sekarang, terasa ada yang kurang kalau belum tau ibu ngapain aja seharian tadi.
Aku tinggal mandiri sejak lulus SMP.
Waktu itu, tinggal berjauhan dari ibu dan bapa, sangat menyiksa.
Terutama karena tidak ada lagi yang menyiapkan keperluanku.
Tidak ada lagi yang memasakkan makanan kesukaanku setiap hari.

Ibu memanjakanku lewat makanan.
Berbulan-bulan jadi anak kost, aku kesulitan beradaptasi dengan makanan yang kumakan.
Lidahku terbiasa dengan rasa masakannya ibu.
Gak ada yang masak seenak ibu.
Aku pun gak bisa masak seenak ibu. 
Sampai sekarang.
Seiring waktu, keluarga-keluarga baru yang terikat melalui pernikahan, mengakui juga masakan ibu.
Termasuk suamiku, menantu ibu.

"Masak ikannya kayak bikinan ibu, dong."

#sigh Ibu memang tiada duanya.

Aku lagi gak ingin menulis yang mengharu biru tentang ibu.
Sudah terlalu banyak airmata ibu yang mengalir untukku.
Aku tidak melupakannya.
Tapi aku juga tidak ingin mengingatnya.
Terutama karena sekarang aku bahagia melihat ibu bahagia.

Aku cuma mau bilang,

Bu, terima kasih, ya ...
Karena sampai hari ini, ibu masih selalu memasak makanan kesukaanku setiap kali aku pulang.
Karena sampai hari ini, ibu masih sengaja menyimpankan uang untukku.
Karena sampai hari ini, ibu masih sering membelikan aku baju seperti waktu aku kecil dulu.
Karena sampai hari ini, ibu masih setia mendengarkan kecerewetanku.
Karena sampai hari ini, ibu masih setia mendampingiku.
Karena sampai hari ini, ibu selalu percaya kepadaku.
Karena sampai hari ini, tak putus bu mendoakanku.

Karena ibu, aku kuat.
Karena ibu, aku mengerti.
Karena ibu, aku kembali.
Karena cinta ibu untukku, tak mengenal akhir.

17 comments

  1. Cinta ibu memang tiada akhir ya mak. . . *terharu

    ReplyDelete
  2. salam sayang u ibu ya mak sari...semoga sehat selalu.amin

    ReplyDelete
  3. @Tinanic Azrialdi:

    makasih sudah mampir, mak :)

    ReplyDelete
  4. @Mak irul:

    aamiin, terima kasih doanya, mak :')

    ReplyDelete
  5. Mau yg masak masterfchef michelin sekalipun, tiada masakan seenak masakan ibu... setuju :)

    ReplyDelete
  6. Selamat Hari Ibu :)

    Ibu sumber semangat ya mbak ^^

    ReplyDelete
  7. @nchie hanie:

    manaaa, mau dong rendangnya :))

    ReplyDelete
  8. @titis ayuningsih:

    selamat hari ibu juga, mak :)

    ReplyDelete
  9. masakan ibu emang ga bisa dibandingin ya, mak...:). Selalu lebih enak walo kita mencoba dg resep yg sama.

    ReplyDelete
  10. Mak sary blg bkn catatang yg mengharu biru tp tetap saja membaca ini ada keharuan mak. Selamat hari ibu salah satu emak hebat yg aku kenal, aku diam2 byk bljr pada mu mak *hug

    ReplyDelete
  11. Jadi pengin cobain masakan Ibu. Eh :)
    Salam untuk Ibu, mak. Insya Allah semoga bisa bersilaturahi lagi ke sana :)

    ReplyDelete
  12. Selalu ada kemesraan indah antara anak dan ibu ya Mak

    ReplyDelete
  13. biarpun anaknya udah menikah tapi dimata seorang ibu anak tetaplah anak, ya :)

    ReplyDelete
  14. Cinta sepanjang jalan yang tak berujung...peluk mak, ihik, BW ke postingan hari ibu bikin merinding semua :'(

    ReplyDelete
  15. semoga kita bisa menjdai ibu untuk anak-anak kita seperti ibu kita.aamiin

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)