Atasi Adiksi (Kecanduan) Pada Anak-Anak Dan Remaja

sumber gambar
Dalam suatu kesempatan sharing session, kami membahas tentang adiksi (kecanduan) pada anak-anak. Ternyata hampir sebagian besar anak-anak peserta sharing session pernah atau sedang mengalami adiksi pada hal-hal tertentu. Alhamdulillah-nya, tidak ada buah hati kami yang adiksi terhadap zat psikoaktif. 

Ketika anak menunjukkan kecenderungan addict pada suatu hal, efeknya bisa membuat suasana di rumah jadi tegang. Kenapa malah tegang? Karena si anak menunjukkan perilaku tidak sehat, yaitu ketika dia tidak mendapatkan/melakukan sesuatu yang membuatnya kecanduan, anak jadi gelisah, uring-uringan, cenderung membangkang, malas melakukan hal lain, dan perilaku-perilaku negatif lainnya. Sementara di pihak orangtua, melihat anaknya kecanduan, sudah mencoba berbagai macam cara untuk mendapatkan/mengalihkan perhatian si anak, selalu gagal. Siapa yang salah?

Ketika anak-anak semakin besar dan punya pilihan yang berbeda dari orangtua, peluang terjadi adiksi semakin besar. Apalagi kalau orangtua tidak bisa memenuhi peran sebagai teman/sahabat anak, sehingga mereka mencari kenyamanan dan keasyikan pada hal yang lain.  Ketika anak semakin asyik dengan dunianya dan orangtua terlambat menyadari, yang paling mungkin terjadi adalah, orangtua menyalahkan anak, melarang anak melakukan aktivitas yang sudah kadung dicandunya, atau parahnya, membiarkan saja karena tak berdaya atau gak tega.

Secara tidak sadar, kita sering mengambil cara instant untuk menyelesaikan masalah. Misalnya, daripada anak menangis, berikan saja gadget supaya dia bisa main game kesukaannya. Daripada ribut bermain teriak-teriak bikin kepala pusing, nyalakan saja tivi supaya anak menonton film kartun kesayangannya. Cara-cara instant seperti itulah yang lambat laun bisa menjadi kecanduan bila dibbiarkan terus menerus.

Sependek perjalanan kami menjadi orangtua, aku dan suami belajar, bahwa dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak-anak, mencari solusi yang tepat lebih berarti daripada terus-menerus mencari siapa yang salah, siapa yang benar. Apalagi anak-anak zaman sekarang lebih kritis dan lebih terbuka saat menyampaikan pendapat, cara diskusi dan mengobrol santai menjadi pilihan yang lebih bijak. Meskipun begitu, sebagai orangtua yang bertanggungjawab terhadap masa depan anak-anak, ketegasan tetap diperlukan. 

Suatu ketika, anakku kecanduan tokoh kartun. Setiap hari yang dibicarakan si tokoh kartun terus. Majalah yang memuat tokoh kartun itu, harus dibeli. Kalau terlambat beli, dia gelisah dan marah-marah. Kalau ada film si tokoh kartun itu di tivi, wajib nonton. Gak peduli adiknya nangis-nangis karena ingin nonton film yang lain. Kalau sudah nonton, matanya terpaku ke layar. Gak bisa diganggu sama sekali. Diajak bicara pun gak merespon. Karena sudah addict, anakku ini jadi egois, pemarah, dan lalai dengan tugas-tugasnya. Yang paling mengkhawatirkan, khayalannya jadi tidak realistis. Suatu hari aku menemukan catatannya yang berisi harapannya kalau di sekolah barunya nanti, dia akan sekelas dengan tokoh kartun pujaannya itu. GUBRAK!

Aku sebenarnya sudah menyadari, ketika kesukaannya itu mulai mengarah ke gejala kecanduan. Tapi, karena gak ingin melarang-larang dan menganggapnya biasa saja anak remaja punya idola, aku membiarkannya. Sampai kemudian aku (dan suami) sudah sampai tahap tidak bisa mentolerir lagi kecanduannya dan mengambil langkah ekstrim. Memutus semua hal yang berhubungan dengan tokoh kartun pujaan hati anakku. Hasilnya? Dia menulis sebuah kalimat yang membuatku menangis selama berhari-hari. Kenapa Mama merampas kebahagiaanku.

Dari kejadian itu aku belajar, memutus kecanduan pada anak, tidak bisa serta merta dilakukan begitu saja. Putuskan, tapi dampingi mereka. Temani mereka menemukan kembali kepingan-kepingan "kebahagiaan" yang lain selain dari kecanduannya itu. Ajak anak bicara, banyak bertanya "apa yang ingin kamu (anak) lakukan supaya merasa bahagia" daripada mengatakan "apa yang ingin mama (orangtua) lakukan supaya kamu (anak) merasa bahagia." Dan tau gak, alasan kenapa anakku begitu menyukai tokoh kartun itu? Awalnya cuma karena merasa bosan. Dia bosan, dia membaca. Dia membaca, hormon remajanya menemukan tokoh yang menyenangkan, seru, cakep (versi kartun), dan bikin penasaran. Ternyata ada filmnya. Begitulah, dan terus berlanjut, sampai si tokoh itu tidak lagi sekadar "tokoh kartun".

Butuh waktu yang panjang bagi kami untuk menyadarkan anak kami tercinta ini. Bersama-sama kami melewati masa-masa yang tidak menyenangkan. Kami seperti sedang mengurai benang kusut. Perlahan, teliti, dan hati-hati. Salah aksi, reaksinya bisa fatal. Ini hanya soal kecanduan baca dan nonton kartun loh. Bayangkan, beratnya perjuangan mereka yang anggota keluarganya kecanduan zat psikotropika, misalnya. Memutus kecanduan, apapun bentuknya, tidak bisa sendirian. Karena kalau sendirian itu ibaratnya memutus rantai setan. Alias gak putus-putus.

Alhamdulillah, masa itu sudah berhasil kami lewati. Kami sekeluarga jadi belajar dari pengalaman itu. Karena anak-anakku yang lain ikut terlibat dan jadi saksi. Jadi Ibu, Ayah, kalau anak-anaknya mulai kecanduan game, handphone, tivi, internet atau apapun, jangan anggap sepele. Putus dan segera tuntaskan. Tapi jangan sekadar melarang saja. Dampingi dan temani mereka. Sebagai orangtua, kita juga harus bercermin, mungkin kebiasaan dan perilaku kitalah yang menjadi awal kecanduan mereka.

38 comments

  1. waaah... sepertinya anak laki-laki saya (4 tahun) ada gejala adiksi, Mak. Dia suka banget dengan tokoh naga/dinosaurus. Nah, mainan dinosaurusnya selalu dia cari ketika bangun tidur. Gak boleh dimasukan ke kotak mainan. Sering juga dia memeragakan naga dan dino itu kalau lagi menyerang. Tapi semoga saja cuma sementara ya, Mak. Makasih sharingnya, jadi ancang2 dan cari cara untuk mencegahnya, nih. :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau masih kecil biasanya gampang mengalihkannya, Mak. Selama gak berdampak negatif ke anak, ga pa pa. Dibikin seimbang aja dengan mengenalkannya ke banyak hal/mainan lain. TFS :)

      Delete
  2. Jiwo malah kebalikan, susah banget dibikin suka sama sesuatu. Jadi dia kalo nonton sesuatu, bisa bosen dalam 10 menit. Kalo mainan baru, ya 20 menitan lah. Sisanya, dia akan rewel butuh mainan baru. Ya panci, ya main keluar, ya berendem, ya main tanah, ya buang2 bedak. Emaknya kadang stress sendiri.. serumah udah diacak-acak, tanah udah bececeran di lantai, masih aja bosen :/
    Kadang pengen gitu punya anak yang dikasih kartun bisa anteng lama. Kan eyke jadi bisa ngapa-ngapain dengan tenang :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo masih seumur Jiwo emang cepet bosenan. Yang sabar aja hahaha kalo rumah kayak kapal pecah :D

      Delete
    2. Senasib kita, mak Pungky.
      Kalau anak yg lebih besar, sudah mulai menunjukkan gejala kecanduan. Alhamdulillah, diingatkan. Trims Mak Sary :))

      Delete
    3. sama-sama, mak. semoga bermanfaat :)

      Delete
  3. wah fitry 2,7 thn kecanduan upin ipin mak...koleksi DVD upin ipinnya banyak dia pandai minta beli ke ayahnya yg selalu nurutin hiks..blm lagi nonton di youtube..trs adegan n dialog di upin ipin jg pandai dia niru,kdg sya jd korban jd pemeran pembantu hihihi...klu liat barang2 yg ada upin ipin sibuk minta beli...memang lg mikir gmana dia tak terlalu addict gitu..tp TFS ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ajak main yang lain, yang gak ada hubungannya dengan tivi dan menonton. Mungkin membantu, Mak :)

      Delete
  4. Anakku kecanduan gunting dan kertas, jadi tiap hari nyariin gunting dan kertas buat digambar dan digunting2. Kata gurunya, mereka pintar bikin keterampilan. Apa itu harus dikurangi juga, Mak? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya orangtua bisa tau koq, mana aktivitas anak yang dipicu oleh rasa ingin tau dan kecerdasannya, mana yang mengarah ke hal negatif (kecanduan). Anak saya itu sudah remaja. Dan kecanduannya mempengaruhi psikologisnya kearah yg negatif. Kalo seusia anak mak Leyla, kayaknya bukan kecanduan deh kalo dia suka mencari2 gunting dan kertas. Anak saya yg 5 th juga begitu. Selama hal itu membuat anak jadi positif dan kreatif, justru harus dirangsang. Kecuali kalo gunting itu dipakai utk melukai dirinya atau orang lain :)

      Delete
  5. Anakku sebelumnya sempet suka banget tu sama princess2an. Kl pake baju maunya rok terus. Kaanya kl pake celana dia susah dance kayak sophia (the first). Hihihu..Cuma alhamdulillah skrg engga begitu lagi. Sempat dijauhkan dialihin ke mainan play doh, cm skrg emg lagi demen bgt nyanyi2 frozen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe itu hanya sebatas suka saja biasanya, Mak. Anak-anak biasa begitu. Ada perbedaan besar antara suka dan kecanduan. Kalo kecanduan, berpengaruh negatif ke psikologisnya karena kalo dia tidak menemukan/melakukan hal yg dicandunya, dia merasa tidak normal :)

      Delete
  6. Apapun kalo dah kecanduan ga baik aja yaayaa, terutama anak2 abg n remaja, aku nih dah mulai waspada, anakku yg paling besar udah mulai abg n mulai suka uring2an

    ReplyDelete
    Replies
    1. selama masih positif, didukung aja, mak :)

      Delete
  7. Thanks for sharing mbak, memang segala sesuatu yang berlebihan itu kurang baik... Anak-anak semestinya disuguhkan sesuatu yang variatif jadi tidak rerfokus oleh satu kesenangan saja. Kalau anak-anak di rumah alhamdulillah belum ada yg mengarah ke sana. Karena masing-masing kami beri batasan, nonton dvd, game, permainan dalam bentuk fisik, belajar, semua dilakoni tapi memang tetap diberi batasan. Mungkin karrna masih kecil jadi lebih mudah mengarahkannya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mak. Kalo masih kecil, lebih mudah mengarahkannya. Kalau sudah remaja gak bisa asal main larang aja. TFS juga ya, Mak :)

      Delete
  8. makasih sharing artikelnya mak, kalau anakku sih pernah dia kecanduan nonton kartun juga, namun skr sudah tidk lagi :D hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan sampe kecanduan deh, Mak. Pusing :)

      Delete
  9. Anakku yg besar mak masih 7 taun suka ya main game di iPad terus.skrg lagi bertahap dikurangi:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga sukses, mak :) imbangi sama permainan lain yang lebih menyenangkan dan melibatkan mama papanya :D

      Delete
  10. Wah anak saya juga sepertinya menuju ke arah adiksi. Bayangin aja nonton upin-ipin via youtube dari pagi sampe malem non stop :D
    Salam kenal ya Mbak.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, nonstop? gak bosen ya, mas, anaknya :)
      ajak main yang lain aja :)

      Delete
  11. Temani mereka menemukan kembali kepingan-kepingan "kebahagiaan" yang lain selain dari kecanduannya itu.

    jangan sampai 'kebahagiaan' itu dilengkapi oleh tokoh kartun atau game ya mak ^_^ makasih sharenya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mak. makasih kembali. semoga bermanfaat :)

      Delete
  12. Nambah ilmu, mudah2n nanti kalo udah punya anak bisa saya dan suami terapkan.. :) Makasih sharenya, mak Sary...

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih. semoga bermanfaat ya, mak :)

      Delete
  13. Anakku kecanduan K-pop. Salahkan mak Icoel!!!

    ReplyDelete
  14. Glek! Kebayang kalau aku dapat surat berisi kalimat itu, Mak :( Thanks for sharing yaaa

    ReplyDelete
  15. Thifa suka banget nonton kartun mak, sampe hapal dialognya segala. Tapi tetep aku batasin nih, nonton satu film aja, habis itu udah, Terus aku temenin dia nggambar atau main di luar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, jangan sampai sukanya jadi kebablasan.

      Delete
  16. Saya belum punya anak, tapi ini bisa jadi catatan buat saya kalau punya anak nanti ya Mak... Jangan sampai kayak Mamanya ini nanti. kecanduan drama jepang...hihihi *blushing*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi kalo kecanduannya bikin jadi pinter bahasa Jepang sih, ga papa juga, Mak :D

      Delete
  17. nice share mak..
    anaku lagi suka banget sama princess sofia. tiap jam 5.30 harus nonton. Tapi gak sampe yg kecanduan banget gitu sih. Sekadar nonton filmnya, selesai. Masalah tv juga ada aturan mainnya. sehari nonton cuma 2 film (1 jam). Alhamdulillah dia setuju dengan aturan mainya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Aku juga suka Princess Sofia. Kiyut :)))

      Delete
  18. Kenapa aku jadi terharu baca tulisan ini, ya? :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, kenapa, ya? Aku gak bermaksud sedih-sedih loh, Cikgu :)

      Delete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)