Ujian Berat Bagi Penderita Tuberkulosis, Keluarga, dan Lingkungan

Mengalami sakit memang bukan hal yang diharapkan. Namun meskipun tahu kalau sakit itu gak enak, masih banyak diantara kita yang mengabaikan kesehatan. Saat sakit, barulah kita tersadar, ternyata sakit itu gak enak. Ternyata sakit itu bisa bikin rencana hidup jadi berantakan. Ternyata kesehatan itu jadi mahal harganya ketika kita sakit. 


Semua orang sakit pasti pengin sembuh. Ya, gak? Banyak cara ditempuh supaya penyakit hilang dan hidup kembali berjalan normal. Karena yang merasakan sakit bukan hanya penderita. Keluarga pun ikut kebagian susahnya, entah itu materi maupun psikis (pikiran dan perasaan). Kalau sakitnya ringan, mungkin upaya penyembuhan tidak terlalu berat dan tidak butuh waktu lama. Bagaimana kalau sakitnya serius dan butuh pengobatan serius dan jangka panjang? Pasti butuh banyak uang untuk membayar pengobatan. Butuh uang banyak untuk bolak-balik kontrol ke dokter. Lamanya waktu pengobatan juga bisa mematahkan semangat sembuh penderita sakit, dan melemahkan dukungan dari keluarga. Sakit itu ujian bagi penderita dan orang-orang terdekatnya.


Penyakit yang butuh pengobatan jangka panjang seperti Tuberkulosis seringkali menyebabkan penderita dan keluarganya mengalami kesulitan ekonomi. Bahkan untuk membayar biaya pengobatan harus menjual barang-barang miliknya dan terjerat hutang. Keadaan yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan ketika dalam kondisi sehat sebelum kena TB.

Aku pernah menulis tentang tetangga penderita TB di kampung ibuku yang meninggal akibat minimnya informasi tentang pengobatan TB. Bukan cuma itu, orang tersebut dan keluarganya pun diasingkan masyarakat sekitarnya karena dianggap menderita penyakit kutukan menular. Keluarga pun kesulitan mendapat pekerjaan dan mencari rezeki untuk membantu biaya berobat.

Sekarang, pemerintah sudah menyediakan obat TB gratis di rumah sakit pemerintah dan puskesmas. Seharusnya beban ekonomi tidak lagi menjadi alasan yang menghambat penderita TB berobat sampai sembuh. Sayangnya, bukan hanya obat yang dibutuhkan penderita TB. Okelah, obatnya gratis. Ongkos ke rumah sakitnya bagaimana? Apalagi kalau di daerah penderita TB tersebut belum terjangkau obat TB gratis. Penderita harus pergi ke rumah sakit yang menyediakan obat TB gratis, dan mungkin letaknya jauh dari rumahnya. Itu berarti makin banyak ongkos yang dikeluarkan. Orang sakit jarang yang pergi berobat sendiri. Minimal ada keluarga yang mendampingi. Ketika keluarga harus ikut bolak-balik menemani ke rumah sakit, biaya transportasi menjadi berlipat. Kesempatan untuk mencari uang pun jadi terhambat karena harus menemani ke rumah sakit.

Sembuh total dari TB pun perlu didukung pola hidup sehat, diantaranya makan makanan yang bergizi. Ketika harga kebutuhan pokok seperti bahan makanan makin beranjak naik, menyediakan makanan bergizi menjadi pilihan kesekian. Penderita TB banyak berasal dari masyarakat kalangan menengah ke bawah, yang tidak mampu menyediakan lingkungan tempat tinggal yang sehat. Beban hidup sangat berat, sehingga tempat tinggal sehat dan makanan bergizi menjadi prioritas di urutan terakhir. Prioritas mereka mungkin sekedar bisa makan pada hari itu, bukan makanan bergizi yang bisa membantu penyembuhannya.

Akhirnya, ketika penderita sudah merasa tidak sanggup lagi menanggung beban ekonomi dan kehidupan akibat penyakit yang dideritanya, dia memilih pasrah. Dukungan dari keluarga, kalau masih ada, tidak akan berarti apa-apa karena penderita TB sudah tidak punya semangat sembuh. Penderita yang sudah tidak memiliki sembuh resiko kematiannya pun meningkat. Padahal ketika penderita TB meninggal, masalahnya tetap ada. Bakteri TB tidak ikut menghilang karena TB penyakit yang sangat menular dan beresiko menyerang orang-orang di lingkungan penderita TB. Bagi keluarga yang ditinggalkan, ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah kehilangan orang yang dicintai akibat TB, mereka masih harus menanggung resiko tertular TB.

Mengatasi beban ekonomi dan kematian akibat TB memang bukan hal yang mudah. Banyak faktor penyebabnya, bukan sekadar pengobatan yang mahal. Oleh sebab itu, pengendalian penyakit TB harus dimulai sejak tahap pencegahan. Jangan sampai kena TB. Jangan beri peluang bakteri TB untuk berkembang luas. Jangan berhenti minum obat TB sampai sembuh. Jangan sampai menjadi resisten TB. Dan yang paling penting, jangan patah semangat untuk sembuh!

12 comments:

  1. Keep spirit bagi penderita TB...!

    *cepat sembuh dan tetaplah optimis sembuh*

    ReplyDelete
  2. Bener mak, obatnya gratis tapi ya itu ongkos kemana-mananya yang gak ada, mungkin butuh kepedulian yang lbh lagi ya dari tetangga yg mau ikhlas menolong ..
    Tapikan kalau TB itu asal rajin minum obat bisa sembuh ya mak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi, masa mau bergantung sama keikhlasan tetangga, Mak?

      Delete
  3. tetap harus ada yang membantu ya walaupun obatnya gratis, apalagi kalau yang tinggal di desa dan diatas gunung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, butuh banyak dukungan selain obat gratis

      Delete
  4. kesehatan itu emang mahaallll yaaaa..kalo udah ngrasain sakit baru deh terasa nikmatnya sehat

    ReplyDelete
  5. lingkungan juga harus mendukung ya Mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, support itu penting, supaya gak merasa sendirian

      Delete
  6. Makan makanan bergizi memang kadang jadi pilihan kesekian kalau kondisi ekonomi sedang sulit. Padahal, gizi penting ya supaya sehat. :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting kenyang, kesehatan nomor sekian :(

      Delete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)