Aku, Kamu Dan Pasien TB, Kita Semua Sama

Aku pernah membaca sebuah tips parenting, bahwa orangtua sebaiknya tidak memberi label negatif kepada anak-anak, meskipun anak tersebut memiliki karakter yang dianggap sulit dikendalikan. Alasannya adalah karena anak-anak masih dalam tahap pertumbuhan. Karakternya masih bisa berubah dan berkembang. Apabila orangtua memberi label negatif kepada anaknya sejak dini, orang lain pun akan dengan mudah mempercayainya, dan ikut-ikutan memberi label negatif kepada anak kita. Lagipula, ketika anak melakukan sesuatu yang dianggap nakal, belum tentu dia mengerti. Bisa jadi tindakannya itu dipicu rasa ingin tahu dan energi yang tidak tersalurkan dengan baik.

"Jangan main sama X, kata Mamanya dia nakal dan suka marah-marah."

Padahal, yang mengucapkan kalimat di atas belum pernah melihat X marah-marah dan melakukan kenakalan. Informasi yang dia sampaikan hanya berdasarkan apa yang didengarnya dari orang terdekat X, yaitu mamanya X.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa dengan mudahnya mempercayai sesuatu yang tidak/belum kita ketahui kebenarannya. Apalagi kalau informasi itu sudah berkembang sangat luas di masyarakat. Karena sudah banyak yang "percaya" dan menyebarkan info tersebut, kita pun ikut-ikutan latah mempercayai dan menyebarkannya, tanpa merasa perlu mencari tahu kebenaran dari informasi tersebut.

Stigma atau label negatif juga kerap dijumpai dalam masalah kesehatan. Seperti yang sering dialami para penderita penyakit menular seperti TB, HIV/AIDS, dan kusta. Sebelum kedua anakku terkena TB, aku awam sekali dengan penyakit ini. Pengetahuanku tentang TB sama saja dengan pengetahuan kebanyakan orang tentang penyakit tuberkulosis. TB adalah penyakit yang sangat menular dan tidak bisa disembuhkan. Karena gampang sekali menular, TB menjadi penyakit berbahaya dan penderitanya harus diasingkan. Waktu itu, aku tidak terbayang sama sekali, kalau TB bisa sembuh total. Ternyataaa, waktu anakku sakit, aku jadi banyak dapat info baru. Ternyataaa, TB bukan penyakit kutukan loh. Ternyataaa, TB bisa sembuh loh. Nah loh, jadi selama ini info yang aku dengar salah dong. Waktu itu, aku langsung merasa sedih dan iba, teringat tetangganya Ibuku yang penderita TB. Kejadiannya memang waktu aku masih kecil. Sudah lama sekali. Tapi, aku kenal dengan beliau dan keluarganya. Duh, seandainya waktu itu informasi bisa diakses semudah sekarang, ya. Tentu beliau dan keluarganya tidak perlu mengalami diskriminasi dalam kehidupan bermasyarakat :(

Akan tetapi, meskipun jaman sudah moderen, dan akses untuk mendapatkan informasi lebih terbuka, ada faktor lain yang menyebabkan stigma (label negatif) dan diskriminasi masih sulit dihilangkan dari kehidupan bermasyarakat, yaitu tidak ada kepekaan sosial dan kesadaran untuk mencari tahu informasi. Akibatnya, masih banyak orang yang takut berdekatan dengan penderita TB atau penderita penyakit lain seperti HIV/AIDS dan kusta. Ketakutan terbesar biasanya karena takut ketularan penyakit-penyakit tersebut. Dan ketakutan tersebut berkembang tanpa dibarengi upaya untuk membantu dan mendukung kesembuhan para penderitanya. Dampaknya, penderita penyakit-penyakit menular seperti TB, HIV/AIDS, atau kusta dikucilkan dan diasingkan oleh masyarakat sekitarnya.

Stigma dan diskriminasi terhadap penyakit TB terjadi karena minimnya pengetahuan masyarakat tentang TB. Karena sifatnya menular dan membutuhkan pengobatan jangka panjang, TB harus segera diobati. Tapi stigma dan diskriminasi terhadap penderita TB dan keluarganya bisa menghambat pengobatan. Masyarakat enggan berhubungan apalagi memberikan dukungan. Pasien TB memerlukan dukungan untuk sembuh total. Pengobatan TB yang panjang, bisa sangat melelahkan penderita. Apabila dukungan kurang, kelelahan dan kejenuhan yang dirasakan penderita bisa menyebabkan terhentinya pengobatan dan TB resisten. TB jadi sulit disembuhkan dan bahaya penularan semakin besar. Jadi sebenarnya, stigma dan diskriminasi TB bukan hanya merugikan penderita, tapi juga keluarga dan masyarakat sekitar.

Indonesia Bebas TB pasti menjadi impian kita semua. Siapa sih yang mau sakit, apalagi TB. Siapa sih yang mau dekat-dekat orang sakit, apalagi orang yang menderita penyakit menular seperti TB. Tapi ketakutan tidak semestinya membuat kita menjauh. Justru ketakutan harus membuat kita semua bangkit melawan dan berjuang bersama-sama. Bagaimana caranya? Jaga kebersihan lingkungan. Jalani pola hidup sehat. Untuk penderita TB, obat TB gratis, segera periksa dan fokus untuk sembuh. Yakinlah, kalau TB bisa disembuhkan. Keluarga dan masyarakat bekerjasama mendukung pengobatan supaya tidak terjadi TB resisten obat.  Selain itu semua lapisan masyarakat juga harus berkolaborasi untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan, supaya penyakit TB tidak makin meluas dan tidak mengalami komplikasi dengan penyakit lain seperti HIV/ADS. TB memang ujian yang sangat berat bagi penderita, keluarga, maupun lingkungannya. Oleh karena itu edukasi TB sangat penting untuk semua lapisan masyarakat. Supaya tidak ada lagi stigma dan diskriminasi terhadap TB dan Indonesia Bebas TB makin cepat terwujud.

4 comments

  1. Makteeee,....kok aku malah terpaku liat foto2 klrg makte ya, mendadak inget cerita2mu saat di acara SB lalu ke 5 anakmu. Akhhh...makte, dirimu ibu yg luar biasa *_*

    ReplyDelete
  2. harus tabayun dulu yamak sebelum menerim ainformasi apalagi menyebarkan informasi

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)