Mendidik Anak Life-Ready

Pernah, gak, terpikir oleh teman-teman, terutama yang sudah memiliki anak, akan tiba masanya kita tidak selalu bisa ada di dekat mereka dan melindunginya? Aku sering, loh, kepikiran seperti itu. Untuk saat ini saja, aku tidak bisa menemani dan melindungi mereka saat mereka sekolah. Ketika anak bercerita diejek temannya, mendapat kesulitan di sekolah, seketika dada ini sesak karena aku tidak ada di sana dan membereskan semuanya untuk mereka :(

Waktu Moses sakit dan dirawat di rumah sakit, sementara papinya sedang di luar kota, rasanya dunia mau runtuh karena terpaksa meninggalkan anak-anakku yang lain di rumah. Hal-hal seperti itulah yang kerap menghantui pikiranku. Apalagi anakku banyak. Membagi waktu dan diriku untuk mereka, bukan hal yang mudah. Seringkali aku dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sama sulit dan njimetnya.

Sayangnya mengeluh dan pasrah pada keadaan bukan solusi, yes? Daripada terus menerus khawatir, lebih baik aku mulai membiasakan anak-anak untuk mandiri sedini mungkin. Tantangan terberat yang kurasakan, dimulai dari 2 anak yang tertua. Mereka kan pionirnya. Kalau mereka terbiasa mandiri, kebiasaan-kebiasaan itu akan dilihat oleh adik-adiknya dan ditiru. Contoh sederhana saja, misalnya, membereskan piring sehabis makan. Terbiasa melihat orangtua dan kakak-kakaknya membereskan dan mencuci piring setelah makan, tanpa perlu diajari adik-adik kecil juga membereskan piring dan gelas bekas pakainya. Gak perlu sampai dicuci, sih. Seperti Moses, kan, belum waktunya harus cuci piring sendiri. Meletakkan piring kotornya di bak cucian setelah makan tanpa disuruh, itu sudah bagus. Apalagi bayi kecil seperti Maira, tiap habis makan kucluk-kucluk ke wastafel dan "melempar" mangkoknya itu kan menggemaskan cekaliii ^_^

Melatih kemandirian pada anak memang butuh waktu yang panjang dan kesabaran berlipat-lipat. Lebih banyak gagalnya daripada berhasil. Soalnya, faktor perasaan gak tega, khawatir, pasti mendominasi. Wajar, ya, namanya orangtua, sayang dan cinta pada anaknya. Makanya aku gak pernah pasang target. Dinikmati saja. Terlalu kaku dan kolot pun bisa menciptakan jarak dengan anak-anak. Bukan juga berarti kalau anak-anak dirasa sudah mandiri, aku bisa bebas dengan diriku sendiri. Setiap pencapaian adalah anak tangga. Aku ingin memastikan aku hadir di setiap anak tangga itu, mendampingi mereka menjadi anak life-ready.


45 comments

  1. Kayaknya persoalan emak-emak pada umumnya sama ya

    ReplyDelete
  2. Menyimak...bener2 madih buta tp menyimak dulu nanti baru ngerasain kl dah punya anak hehe....moses antusias bgt ya mak bantu2 panen lele,kmrn kasih makan skrg panen jg ikut nyemplung hehe...menyenangkan :)

    ReplyDelete
  3. kalau sudah di biasakan dari kecil jadi berani ya nangkep lele juga,kalah deh aku :)

    ReplyDelete
  4. Betul mba, sudah 3hr ini aku chat terus dgn adek ipar dan para sepupuku, ngmgin cara mendidik anak dan peran ortu yg sangat penting. Ahhh smoga kita bs selalu mendampingi mereka menjadi anak yg life-ready yah mba :)

    ReplyDelete
  5. Aku byk bljr dr postingan2 makte dlm menghadapi anak2 :)

    ReplyDelete
  6. Betul ya makte, mengajarkan anak kemandirian butuh waktu dan butuh rela berlelah-lelah. Tapi saat melihat hasilnya, kita jadi seneng sendirii yaa, dan jadi sangat yakin kalau mereka bisa berdiri di atas kaki sendiri. :)

    ReplyDelete
  7. Hiks...banyak emosi yg terbawa saat melatih anak mandiri ya mak...Ya Alloh smoga kita semua para ibu diberikan sabar sebanyak2nya dalam mendidik anak

    ReplyDelete
  8. Dilema emak-emak yah.. Semoga anak-anak kita jadi anak-anak yang life-ready ya mak.. InShaaAllah.. Aamiin. :)

    ReplyDelete
  9. Aku berusaha nggak mikirin itu, kalau mikir gimana anak2 diluar rasanya nggak tega, karena mereka seakan nggak bisa 100% fit dimana-mana, maklum anak pindahan.

    ReplyDelete
  10. Hai makte. Waktu aku baca judulnya "life-ready" somehow ngingetin aku sama kontes Dancow yang daku ikuti tahun 2013 lalu ya? Apa postingan ini ada kaitannya ama Dancow? *kemal**kepo maksimal*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Identik bgt sama taglinenya Dancow ya, Mak? :)

      Delete
  11. Biasanya anak masih kecil pengen banget bantu mamanya, tapi mama menolak mentah2 karena bukannya membantu malah nambah kerjaan hehe. Tapi biasanya aku alihkan Thifa ke pekerjaan yang ringan sih, seperti merapikan barang-barang, elap-elap, ky gitu deh, bertahap sesuai usia dan kemampuannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya, bener. Bukannya jadi cepet selesai, malah makin lama. Dinikmati aja kalo aku sih, Mak. Masa kecil tidak terulang lagi :D

      Delete
  12. sy termasuk yg sering ninggalin anak mak, Alfi lebih sering sama mbahnya, ada beberapa hal yg dia sudah bisa mandiri, ada juga yang harus disuruh, soal membuat mereka life ready itu tantangan juga buat saya mak, kebayang juga kalo nanti dia sudah sekolah apa sudah siap dengan lingkungannya, makasih sudah ngingetin ya

    ReplyDelete
  13. sering saya berpikir begitu, Mak. Makanya, walopun ada rasa parno dengan kehidupan jaman sekarang. Tapi, terus menerus memberi proteksi berlebihan ke anak juga gak bagus buat mereka. Makanya, sedikit2 saya berusaha mengajarkan mereka untuk mandiri :)

    ReplyDelete
  14. iya mbak..kalo keterusan manja jadi ga bisa apa apa
    udah smp masih minta disuapi, udah sma ga bisa nyeterika

    btw saya suka warna ungu nya..cakepp

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, anakku yg SMP masih suka kusuapi sih, Mak. Sekali-sekali aja kl lg pengen manjain :)))

      Delete
  15. Pernah bahkan sering mbak Sary... Berpikir, apabila saatnya mereka sudah beranjak dewasa bahkan dewasa. Padahal yang tertua masih duduk di bangki SD kelas satu..

    ReplyDelete
  16. keren bun...semoga mosesnya cepat tumbuh mejadi besar dan pintar tanpa takut kotor

    ReplyDelete
  17. life-ready nih makna nya luas dan dalem banget loh.

    gak gampang nyiapin anak untuk life-ready. PR banget juga untuk aku dan suami

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi anak-anak jaman sekarang ya ..

      Delete
  18. can't agree more...anak yang mandiri bukan hanya membantu orang tua, tapi yang lebih penting adalah membantu diri mereka sendiri...sukseees mak..semoga anak-anak kita bisa dalam hidupnya..cheeeers...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes, setuju, mak.. Pada akhirnya untuk bekal mereka sendiri.

      Delete
  19. Kayanya ortuku mempersiapkanku untuk "life ready". Mudah-mudahan aja berhasil, ya, hihihi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, Indi sih udah terbukti sakseis. Proud of you, girl! ^_^

      Delete
  20. Membiasakan mandiri pada anak2 memang perlu ya mak.
    Harus mulai belajar mempersiapkan anak2 life ready dari sekarang nih *kadang aku suka nggak tegaan sih :)

    ReplyDelete
  21. Aku tuh kagum sama Makte. Emak imut dengan anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Aku setuju sih, Mak. Kadang rasa nggak tega itu lebih mendominasi. Moga-moga kelak aku bisa mencontoh jejak Makte :)

    Nuhun sharingnya, Mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aih, dibilang imut hahaha. Makasih, ya, dear :*

      Delete
  22. Aku nih galak, tapi anak ku malah slowly & santai aja klo ku pelototin suruh ngerapiin barang2nya :)))
    Meski akhirnya di rapikan tapi suka2 dia kapanny...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dicontohin, diajak beresin bareng, coel, bukan dipelototin hahaha. Kebanyakan melototin ajussi sih hahaha

      Delete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)