Belajar Mandiri Untuk Mengasah Minat Dan Bakat Anak

Belajar mandiri adalah satu metode belajar yang kami terapkan kepada anak-anak, terutama untuk meng-upgrade minat dan bakat mereka yang tidak dapat diasah melalui pendidikan formal. Asyah dan Ashira sempat menjalani homeschooling di awal-awal tahun usia sekolah. Asyah baru masuk sekolah formal saat umurnya 8 tahun dan langsung masuk ke kelas 3 SD. Ashira mulai sekolah berbarengan dengan kakaknya, saat umur 7 tahun, masuk kelas 2 SD.

Asyah dan Ashira, selain jarak umurnya yang berdekatan, mereka memiliki kesamaan minat dan bakat. Tapiiii, karakter kedua anak ini sangat bertolak belakang. Perbedaan karakter inilah yang biasanya membedakan hasil proses pembelajaran mereka dalam berbagai hal. Salah satu dari mereka memiliki kemampuan yang lebih baik dari saudaranya, tapi kadang-kadang terlalu santai sehingga saudaranya yang lain, yang lebih ulet dan tekun, bisa mengejar ketinggalannya dan menunjukkan hasil yang lebih baik. Untuk menumbuhkan motivasi dan semangat belajar mereka, aku dan suami sering memberikan tantangan yang harus mereka selesaikan. Kadang-kadang ada reward, kadang-kadang tanpa janji apapun, tergantung jenis tantangannya.

Dua anak ini senang menyanyi dan menunjukkan minat pada musik. Sebenarnya rencana untuk lebih serius mendampingi proses mereka belajar musik sudah ada sejak lama, tapi tertunda terus karena kesibukan kami masing-masing. Setelah Maira berhenti ASI dan jadwal kerja suami bisa disesuaikan, kami mulai membahas perkembangan skill anak-anak. Kemampuannya lumayan bertambah, sih, tapi karena gak dimonitor jadi gak jelas progresnya. Akhirnya kami sepakat membuat tantangan mingguan. Tantangan minggu pertama, mereka harus bisa menyanyikan salah satu lagu Michael Buble sambil memainkan alat musik sesuai kesukaannya masing-masing. Asyah memainkan gitar, Ashira main keyboard.

Awalnya kedua anak ini protes. Kata Asyah, lagu-lagu Buble sulit dinyanyikan dengan iringan gitar. Cocoknya pake piano. Kata Ashira, dia gak suka lagu-lagu Buble. Kalau gak suka, gimana bisa menyelesaikan tantangan. Hehehe! Ya, gitu deh, namanya juga anak-anak abege. Butuh skill khusus juga untuk menjawab protes-protes mereka :D

Namanya juga tantangan mingguan, waktu yang diberikan untuk menyelesaikan tantangan, ya hanya 1 minggu. Anak yang satu, yang ulet dan tekun, sejak awal diberi tantangan langsung serius berlatih. Anak yang satu lagi, yang sebenernya lebih jago, as usual santai-santai saja. Perbedaan karakter itu mewarnai sesi latihan selama seminggu. Ditambah deramah-deramah ala abege yang kadang-kadang bikin dahi berkerut :D Sepanjang minggu itu, aku dan suami berganti-gantian memompa semangat mereka. Proses belajar mandiri ini banyak mengandalkan Youtube. Mama dan papi support internet dan jadi pom-pom parents dan mereka harus kreatif mencari sendiri "guru" di Youtube. Nanti dalam waktu 1 minggu mereka harus bisa melakukan live perfomance di depan kami berdua, dan direkam. Kalau di tengah-tengah rekaman mereka melakukan kesalahan, gak boleh stop, harus terus sampai selesai. Selain itu juga ada penilaian dari kami mulai dari awal pemberian tugas sampai hasil akhir. Jadi bukan cuma rekaman videonya aja yang dinilai. Masing-masing anak diharapkan bisa tau kekurangan dan kelebihan masing-masing, mengenali karakter diri masing-masing dan belajar menentukan target serta berjuang supaya targetnya tercapai.



Akhirnya waktu 1 minggu berakhir. The moment of truth. Saatnya membuktikan, dengan segala macam drama yang terjadi sepanjang minggu, mampukah kedua anak ini menampilkan kemampuan terbaik mereka? Proses latihan plus drama-dramanya, sih, lebih baik mereka sendiri yang berkisah :) Semoga mereka mau mengikuti saranku untuk menuliskan proses belajar mereka di blog masing-masing. Biar bagaimana pun aku harus menahan diri karena kedua anakku ini sudah remaja. Semua hal yang berkaitan dengan privacy mereka baru bisa kuceritakan kalau mereka mengijinkan. Termasuk video rekamannya yang diupload ke Youtube, itu juga mereka yang menentukan video mana yang layak diunggah dari 3 video hasil rekamannya masing-masing :)



Tantangan minggu berikutnya #MusicWeekChallenge #week2 adalah masing-masing boleh memilih lagu sendiri. Syaratnya, mama dan papi belum pernah mendengar mereka main musik atau menyanyikan lagu itu. Tantangannya juga ditambah, mereka harus menyiapkan 1 lagu untuk duet. Tujuannya untuk melatih mereka bekerjasama. Jadi gak cuma kompak sebagai kakak adik, tapi juga bisa bekerjasama dan saling support dalam hal lainnya. Good luck, girls! ^_^


35 comments:

  1. Wiw keren, metode pengajarannya.
    Ditunggu challenge selanjutnya, Mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah masuk tantangan minggu ketiga, nih, Mak. Yang diupdate terus mungkin hasil latihannya di Youtube. Cerita lengkapnya, pengennya sih anak-anak sendiri yang menceritakan di blognya :D

      Delete
  2. Wah, perlu di tiru model belajar yang kayak gini. Anak saya yg pertama sukanya masak..tapi dia mau masak kalo mood aja. Besok-besok aku coba kasih challenge ah...si kakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang-kadang anak memang perlu dikasih tantangan supaya semangat belajar hal-hal baru :)

      Delete
  3. Senangnya mbak punya anak berbakat di musik, pasti ortunya juga berbakat. Challengenya dah mirip audisi singer ajah. Pasti bangga ya punya mereka, cantik dan berbakat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe emang audisi singer kayak gitu, ya? Soalnya mereka memang suka nyanyi dan main musik, tapi gak ada ada progresnya. Begitu dikasih tantangan ternyata kemampuannya meningkat :)

      Delete
  4. Bisa diterapkan nih, kalau fatih dan fattah sudah agak besar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. dari kecil juga udah bisa, disesuaikan aja sama umurnya ^_^

      Delete
  5. Mantap ... kalo sukses ntar di hadiahi apa dari mami papi nya ??? aku juga mau ikutan ah hahaha.
    Btw knp dari homeschooling akhirnya memutuskan masuk sekolah formal biasa ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Om Cumi mau dapat hadiah juga? :)))

      Dulu mereka sendiri yang minta sekolah, katanya pengen ngerasain belajar di sekolah dan pake seragam. Udah, itu doang alasannya :)))

      Delete
    2. Oh gitu ... sama macam cerita temen ku yg milih sekolah asrama karna dia sering baca komik yg ceritain sekolah di asrama hehehe

      Delete
  6. beneran kereeen....kagum deh sama kak asyah dan kak ashira :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Tante Dedew. Eh, mereka ngepens sama dirimu loh :D

      Delete
  7. ya ampun,aku denger 2 videonya merinding mak..keren2 yak,PD,terus suaranya juga oke..... mintak tanda tangannnn,takut nanti muncul di tipi duluan >_<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Mak, ntar dibilangin ke anaknya hihihi

      Delete
  8. keren, Mbak... Ayah ibunya lebih keren lagi..

    kebetulan sekali nyasar kemari,, aku lagi nyari info untuk mengasah bakat anak.. terima kasih, Mbak.

    ReplyDelete
  9. Keren...
    Kak asyah sm kak asyirah ketahuan bakatnya dari usia brp mak ?.
    Si ken bakatnya apa yaaa ?.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lupa, umur berapa :D
      Diikuti aja kalau anaknya udah nunjukin minat ke satu hal tertentu dan dia semangat n seneng ngelakuiinnya :)

      Delete
  10. idenya bagus mak, aku harus belajar nih untuk mengasah bakat anak-anak

    ReplyDelete
  11. Wuih keren, euy. Jadi pengen nyontek idenya. Boleh, kan? Tapi, anak2 aku mah belom spesifik bakatnya. Masih segala dicoba. Harus segera diarahkan biar fokus. Tfs, mak:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh atuhlah, Mak :D Iyes bener, perlu pengarahan dan didampingi juga, supaya tambah semangat :)

      Delete
  12. Anak-anakku suka berubah-ubah minatnya. Kadang pingin belajar musik, kadang melukis, yang barusan pingin belajar foto :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ga papa, malah bagus. Jangan dibatasi, biar skill-nya buanyak ^_^ Yang penting mereka seneng belajarnya :)

      Delete
  13. aih kak asyah dan kak Ashira kereeen. kira-kira kak mayra bakatya kemana ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Kak Liza :*
      Kalo Maira lagi suka difutu-futu hihihi

      Delete
  14. Drama-drama anak-anak itu yang kadang suka bikin dahi berkerut, ya, Mak hihihi. Setuju, anak-anak memang sebaiknya dikasih tantangan. Apalagi anak zaman sekarang kalau diajarin pake model biasanya malah suka pengen melawan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi namanya juga ABG :p
      Bener, anak-anak sekarang kritis banget yaaa, gak kaya zaman kita dulu *berasa tua* :)))

      Delete
  15. boleh juga caranya mba.. ;) Kalo anakku udh gedean, aku terapin ah... jujurnya aku jg blm nemu pas cara pengajaran utk anak.. masih hrus nyontek sana sini... liat dr temen yg sepertinya sukses ngajarin anknya.. Tapi ya itu, kdg2 cara si A ga tepat diterapin utk ankku :).. kita sbg ortu jd hrs bljr juga utk ngajarin si kecil ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ambil yang baik dan cocok, tinggalin yang gak cocok hehehe

      Delete
  16. Hem...anak ku suka apa ya? Hobi utama sih air, makanya selalu renang 1x seminggu minimal, entah deh nanti ke depannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener banget tuh, kalo senang main air, diarahin ke renang aja. Sekalian olahraga supaya sehat ^_^

      Delete
  17. Setuju maaak...kalau sudah punya minat et passion di bidang tertentu, pasti tantangan seperti ini akan terus memicu ya...sukseees..

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)