Social Media Untuk Mendukung Kreativitas Anak

Menjadi orangtua dari anak-anak remaja di era digital ini banyak tantangannya. Dulu, sumber informasi tidak sebanyak dan sebebas sekarang. Orangtua, keluarga dan guru masih memegang peran paling besar untuk menentukan informasi mana yang boleh diakses anak, informasi mana yang sebaiknya tidak diketahui anak-anak.
Zaman sekarang? Beuuh! Apalagi internet semakin murah dan mudah diakses dari berbagai macam gadget. Informasi apapun dengan mudahnya menghampiri anak-anak kita. Kalau orangtuanya gak bisa mengimbangi, bisa-bisa orangtua lebih kudet dari anaknya. Yang paling buruk, orangtua bisa kehilangan kontrol terhadap anak karena informasi yang diserap anak jauh lebih banyak dan tak terbatas.

Aku tidak membatasi anak-anak menggunakan gadget dan internet, tapi juga tidak membebaskan mereka sebebas-bebasnya. Sebisa mungkin, aku dan suami tetap mengontrol dan mendampingi, serta terus belajar supaya tidak ketinggalan informasi-informasi baru. Terutama informasi dan trends yang sedang hits di dunia remaja. Aktivitas mereka di dunia maya dilakukan melalui akunku. Stalking socmed temannya, browsing, main game, semuanya menggunakan akun milikku. Dengan begitu, lebih mudah mengontrolnya. 

Beberapa waktu yang lalu, mereka minta dibuatkan akun Instagram sendiri untuk posting gambar-gambar hasil karya mereka karena sering gak sempat posting di blog. "Sesekali foto selfie atau welfie bareng temanlah, Ma, biar ada kenang-kenangannya." Oke deh! Kalau untuk mendukung kreativitas, udah pasti mama dan papi setuju.



Gak disangka, hanya dalam waktu singkat setelah dibuatkan Instagram, mereka bisa menemukan "personal branding" nya sendiri. Yang paling kelihatan adalah kakak Asyah. Aku selalu berpesan pada anak-anak, apapun yang mereka lakukan harus bermanfaat. Kalau belum bisa memberi manfaat untuk orang lain, at least bermanfaat untuk dirinya sendiri. Apalagi kalau sesuatu itu dilakukan di dunia maya, sebuah dunia yang batasannya tidak terjangkau. Yah, untungnya mereka bukan anak-anak yang lebay dan suka narsis gak jelas, jadi gak terlalu khawatir dengan self control masing-masing.



Selain punya target dengan branding IG-nya, Asyah dan Ashira juga ternyata dapat ilmu banyak dari Instagram. Banyak sekali artist (seniman/pelukis) yang sering posting karya-karya mereka di IG. Banyak yang suka ngasih tutorial juga sehingga mereka bisa langsung belajar mengaplikasikan tutorial itu ke coretan-coretan mereka. Awalnya mereka sempat terbawa arus, mengikuti teman-temannya sekadar mengumpulkan followers dan likes. Mereka juga sempat gentar ketika ada akun yang mengancam akan nge-block kalau gak dipolbek. Sekarang mereka lebih selektif follow dan folback akun lain. Kakak Asyah semacam bikin announcement gitu di bio-nya, kalau F4F hanya berlaku untuk akun-akun khusus art, dan folback untuk teman. Ashira malah lebih galak :D




Aku juga baru menyadari, ternyata, meskipun semua aktivitas online terutama social media mensyaratkan usia minimum adalah 13 tahun, gak semuanya cocok untuk langsung dikenalkan pada anak begitu umur mereka 13 tahun. Harus liat juga karakter anaknya, supaya social media itu berdampak positif untuk mereka. Untuk sementara, Instagram dan blog masih menjadi pilihan yang tepat untuk anak-anakku berkarya dan berekspresi tapi gak sampai kebablasan. Dalam sebuah diskusi parenting, seorang teman psikolog bilang, orangtua dan anak sewajarnya tetap berteman (tanpa paksaan) di socmed dengan tetap menjaga privacy masing-masing. Orangtua (biasanya) follow akun anaknya. Tapi kalau anak gak follow bahkan menolak follow kita di socmed, orangtua sebaiknya mawas diri :)

Yah, semoga aja anak-anakku gak bosan kalau mamanya sih sering sekali repost dan nggrecoki socmed mereka. Mau gimana lagi? Ternyata aku ngefans sama anak-anakku sendiri ^_^


32 comments:

  1. jaman sekarang ortu memang dilarang kudet ya. gak boleh jadi warga imigran di jaman internet ini supaya bisa seimbang dengan jaman anak sekarang. aku menerapkan beberapa peraturan ber socmed dan memegang gadget.gak boleh unfoll ortu,jangan ikutan alay dan curhat,nyampah,dan sebaiknya personal branding harus jelas.waktu megang gadget juga ada mak,kalo lagi makan atau ngobrol gak boleh sering2 ngelirik hp,setelah update stat di path gadget simpen dulu,dan mama juga berusaha gak komen di wall dia.paling nge-like aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Idem, mak. Anak-anakku juga ada waktu-waktu tertentu dimana gak boleh pegang hape sama sekali. Saat makan, diskusi dengan orangtua, no gadget at all. Saat jalan-jalan bareng keluarga dan silaturahmi atau berkunjung ke rumah orang juga gak boleh asyik sendiri sama gadget. Harus disimpan, kecuali mau foto-foto bareng. Sebisa mungkin aku juga gak intervensi langsung aktivitas online mereka. Kalau ada status/foto/postingan yang kurang berkenan, negurnya bukan di socmed/blognya, tapi lewat diskusi bareng, supaya mereka paham do and dont nya.

      Delete
  2. Taruli dan Kayla juga punya instagram, malah mereka yang folbek aku duluan :))
    Kayla mah instagramnya buat posting foto-foto idolanya Michael Jackson dan makanan, kalau Taruli sudah nemuin passionnya, hasil fotonya. Dan Taruli lebih aktif di instagram dibanding facebook.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau fb aku kurang rekomen untuk anak2 abg sih, mbak. Apalagi dulu akun fb anakku jg suka diadd sama orang2 dewasa temen2 orangtuanya. Tadinya kupikir gak masalah. Tapi pas ada status orang dewasa yg kurang cocok dibaca anak2, rasanya gimana gitu. Sementara ini instagram utk posting foto2 karya dan kegiatan mereka bareng temen masih lebih baik drpd fb. Interaksinya kalo di IG gak terlalu banyak dan ribet :)

      Delete
  3. Kok di blog list-ku updatemu nggak muncul ya? Katanya , nggak bisa nemu feed dr blog ini? Mungkin aku unfollow dulu kali ya? Terus diulang follow lagi. Soalnya buat nyingkat wktu klo mau bw banyak.
    Anakku nggak punya FB semua & aku nggak ngotot bikin utk mrk dg alasan keep in touch. Masih banyak channel utk keep in touch & kami pilih dg cara privat, group BB berempat. Mereka punya line & instagram. Sisulung cuma aktif di line bareng teman2 sekelas. Si bungsu jg aktif di instagram kepoin artis korea. Semua foto atau status jalan2 , makan dll hampir nggak pernah mereka posting, mamahnya aja yg begitu. Tapi aku sudah pesankan ke mereka, jika mereka pengin lebih "keluar", mereka hanya boleh tampilkan satu sisi hidup mereka saja, tdk boleh semua gerakan diumbar. Apalagi kemarin habis rame bayi dijual murah di instagram yg ternyata foto colongan dr ortu yg pengin sharing foto lucu bayinya. Naudzubillah jika itu terjadi pd remaja, sedangkan netizen Ind itu latah bgt main share aja blm dicek kebenerannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pake link ini, Mah http://feeds.feedburner.com/saryahd . Feed dari blog langsung memang gak kuaktifkan gara-gara suka error, makanya aku gak pasang tombol follow blog juga. Kalau mau follow, subscribe email atau pake link feedburner itu aja.

      Iyaaa, anak-anakku juga untungnya gak narsisan gitu. Malah mereka suka heran kalo liat orang dewasa yang narsisnya nyamain abege hihihi. Sejak pake whatsapp, mereka lebih senang interaksi dengan teman2nya di group wa, dan kebetulan ada guru wali kelasnya juga nimbrung di situ :D

      Delete
    2. nah ini baru saja aku ngecek feedburnerku kok malah munculnya ke internet positif. Terus aku ingat, di blog mak Sary kan ada tombol RSS juga, setelah kucoba juga sama ternyata mengarah ke situ. Setelah kupikir-pikir mungkin jaringan internetku, gegara barusan pasang telkom indihome. Ternyata benar, setelah kucoba klik RSS pake hp di indosat, masuk kok feedburnernya.

      Delete
    3. Mamah lusi juga ternyata masalah di providernya. Entah apa salahku atau feedburnernya, la wong isinya baik-baik koq hihihi

      Delete
  4. Naaaahhhh itu mba aku kan ngeprivat akun raffi...jadi pengen ngapus2 foto raffi jg diblog.... --"
    Kalo instagram dan fb aku masih selektif milih temen...nah ini masalahnya...kadang ada yg ngeadd2 aja padahal ngobrol aja nggak cm biar banyak yg follow...kan lagi tren itu :p polopolo... Tapi nanti mungkin raffi jg nemuin passionnya pas dia dah gede kayak kakak ashira dan asyha... Skrg narsis dulu >.<...note buat aku juga biar g mudah menjalin pertemanan ^^...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untungnya, ternyata, anak-anakku cukup "galak" dan selektif juga. Aku tinggal mantau aja. Soal follow dan followback buatku sih, bukan keharusan. Tergantung kebutuhan aja *anti mainstream* :)))

      Delete
  5. setuju, Mak. Orang tua zaman sekarang itu lebih berat karena pengaruh yang doterima anak dari mana-mana. Saya gak bisa menghilangkan gadget dari dunia mereka. Karena zamannya memang udah beda.

    Seneng deh lihat gambar-gambarnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kurang bijak juga ya kalo menjauhkan anak-anak dari gadget dan internet. tinggal kita aja orangtuanya yang harus mau membuka diri supaya bisa tetep mendampingi dan mengarahkan mereka.

      Delete
  6. Anak-anakku pegang gadget hanya asyik dengan teman2nya saja...ga terlalu tertarik di instagram n medsos lainnya paling BBM an sama LINE bareng BFF nya hihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. samaaa. kalo interaksi sama temen, mereka lebih milih bbm atau whatsapp. socmed cuma bwt karya2nya aja. untungnya pada gak narsis juga :D

      Delete
  7. kalo memang utk kebaikan anak2, memang gak usah dilarang2 ya mak utk mengenal dunia medsos

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kalo aku sih gitu orangnya hihihi

      Delete
  8. Kakak Asyah gambarnya bagus banget, moga Thifa kalo udah gede bisa gambar sebagus itu juga. Btw instagram kayaknya masih lebih aman dari FB ya mak kalo untuk anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aman atau engganya, relatif, sih, kalau menurutku. Tergantung kebutuhan anaknya juga. Kalo anakku butuh socmed cuma utk posting karyanya dan upgrade skill gambarnya, jd instagram yang dirasa paling cocok. Karena interaksinya juga gak banyak. Tapi di instagram jg adalah yg nakal2, di situ peran orangtuanya.

      Aamiin, semoga Thifa juga pinter gambar yaa, biar bisa gambar komik sendiri ^_^

      Delete
  9. wow pada pinter2 gambarnya ya, bagus-bagus. Enak kalo anak sudah mengerti sendiri tentang keamanan di sosmed ya mak Sary. Anakku sukanya bbm an sama temen2nya, fb jarang sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo sama temen, anak-anakku jg sukanya bbm-an, gak di socmed :D

      Delete
  10. Iya..ortu mesti banget melek tekhnologi..anak saya gak pernah minta ajarin sy..usia 4 taun udah pernah ngejebol kartu kredit kakeknya krn mau beli program..jd dah dr usia tk klw ada tugas kdg sy titip ke dy..anak jaman sekarang hadeeh kdg menghawatirkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, 4 tahun bisa ngejebol kartu kredit? Gimana caranya? Mesti diawasi terus yaa :)

      Delete
  11. anakku masih piyik, baru 5 taun lebih. dan sampe skrg blm minat mengenalkan anak dg sosmed.. juga mulai kurangi share foto2 anak di IG dan blog. ngeri aja..
    dg smartphone juga palingan dikasi yg harganya murah dan isinya cuma mainan kaya hayday sama zombie..

    tfs, mak.. buat catatan besok2 kalo anak udah gede :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih 5 tahun, main sepeda sam main crayon aja, mak, jangan main socmed :)))

      Delete
  12. Anakku yg gede yg memperkenalkan akun IG ke aku... eh..
    Aku followers anakmu tuh..wkwkwkw...bagus2 gambarnya... anakku suka jadi aku ikutN suka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak, kalo anak tau lebih banyak dr kita, jangan antipati ya. Cari tau dan belajar juga spy gak kudet hihihi

      Makasih yg udah follow IG nya kakak ^_^

      Delete
  13. berbakat gambar ya, mirip sama Emma aslinya

    ReplyDelete
  14. Senengnya terdampar di sini, baca tulisan mak sary, jg komen2 emak2 kece di atas, bener2 nambah ilmu aku nih bwt si kecil ken nanti...
    Tengkiu pakek bgd dah :)

    ReplyDelete
  15. waaa, gambarnya keren.

    siapapun pemakai sosmed emang kudu bijak, kadang masih ada orang dewasa sendiri yang masih suka "alay" makai sosmed... duh -.-"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti orang dewasa juga mestinya terus belajar kan hihihi

      Delete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)