Kapan Anak Boleh Punya Ponsel Sendiri?

Usia berapa sih anak-anak sebaiknya diberi ponsel sendiri? Ponsel yang bebas dipakai dan dibawa kemanapun mereka pergi termasuk ke sekolah? Aku rasa jawaban para orangtua pasti beragam karena kebutuhan dan kepentingannya pun berbeda. 


Beberapa waktu yang lalu salah satu orangtua temannya Moses, sebut saja Bu Q, curhat tentang penyalahgunaan ponsel oleh anaknya. Dia kesal dan memarahi anaknya. Kemudian menyesal tapi tidak berdaya untuk menarik kembali ponsel itu dari anaknya. 

Sebelumnya, beberapa waktu yang lalu Moses pernah bercerita tentang teman-temannya banyak yang membawa ponsel ke sekolah. Di sekolah mereka pakai ponsel itu untuk main games dan melihat gambar-gambar yang parah-parah. Gambar-gambar yang parah, begitu kata Moses. Tuing-tuing, karena insting keibuanku langsung bilang something not right, aku mengubah tone suaraku menjadi lebih santai supaya kekepoanku terjawab. Well, kadang-kadang anak-anak kan begitu orangtuanya kelihatan mau marah, melarang, mereka malah langsung berhenti bercerita karena takut ceritanya salah dan dimarahi. 

Trikku berhasil karena Moses langsung cerita tentang teman-temannya yang punya group whatsapp dan mereka tukar-tukaran gambar-gambar parah itu tadi. Moses juga tanya, "Gambar bok*p itu apa, Mak?" Hmm, pusing kan ditanya seperti itu oleh anak umur 9 tahun? Tapi itu adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Sebagai orangtua, aku harus siap menghadapi pertanyaan apapun dari anak. Lebih baik mereka bertanya kepada orangtua dan dapat jawaban yang benar daripada mereka bertanya pada orang lain dan jawabannya menyesatkan kan?

Curhat Bu Q tidak jauh berbeda dengan ceritanya Moses. Bedanya mungkin, kalau Moses tiap pulang sekolah selalu cerita ada kejadian apa saja di sekolah, Bu Q ini tipe ibu yang cuek dan yakin aja anaknya di sekolah baik-baik saja. Beliau mengakui kalau jarang bertanya tentang pelajaran apalagi kejadian-kejadian di sekolah. Pokoknya taunya pagi anak sekolah, siang pulang trus main. Wes, no komunikasi apalagi curhat-curhatan. Sampai suatu hari dia pinjam ponsel anaknya untuk menelepon dan kaget melihat galeri foto.

Bu Q tanya, kenapa Moses tidak dikasih ponsel. Aku bilang Moses memang belum perlu ponsel. Sekolah selalu antar jemput tepat waktu dan kalaupun ada hal darurat aku mengajari Moses untuk memberi nomorku ke gurunya dan meminta guru untuk meneleponku. Untuk urusan pelajaran seperti misalnya PR, sejauh ini memang di sekolahnya Moses tidak butuh diskusi pelajaran melalui aplikasi chat. Karena alasannya si Bu Q, anaknya minta ponsel supaya bisa nanya-nanya PR ke temannya tapi koq malah disalahgunakan.

Karena tau aku punya anak yang sudah remaja, beliau tanya bagaimana caranya supaya anaknya gak berbuat aneh-aneh dengan ponselnya? 😅 Ini yang aku sarankan pada Bu Q,

Mereview kembali keputusannya memberi ponsel untuk anaknya. Penting bangetkah? Perlu bangetkah? Urgent bangetkah? Kalau semua jawabannya tidak, tarik aja lagi ponselnya.

Jawaban Bu Q, TIDAK. Tapi beliau masih ragu menarik kembali ponsel dari anaknya karena khawatir anaknya marah dan minder di sekolah. Selain itu Bu Q juga sering terlambat jemput sekolah. Ponsel memudahkannya menghubungi anaknya.

Oke deh, Bu, kalau gitu, perlu banget gak ponselnya dipakein internet? Kalau alasannya supaya memudahkan komunikasi saat menjemput, SMS atau telpon saja bisa gak? Jawaban Bu Q, WhatsApp lebih murah. SMS dan telpon mahal.

*Mamak Sary lap keringet* 😅

Kalau memang ponsel dan internet penting untuk anak, Ibu suka ngecek ponsel anaknya gak?

Jawaban Bu Q, ENGGA. Alasannya, memangnya anak-anak mau ngapain sih. Palingan kan nanya PR sama teman-temannya? 

Tapi buktinya kan, Bu? Kalau anaknya hanya nanya-nanya PR ke teman-temannya, Ibu gak akan ada di sini curhat ke saya dan marah-marah ke anaknya kan?

...........

Intinya aku ingin menulis cerita ini adalah pemberian ponsel untuk anak sah-sah saja koq kalau memang kebutuhannya seperti itu. Misalnya supaya anak mudah dihubungi, ya go ahead. Pertanyaannya adalah sejauh mana kebebasan yang dimiliki anak-anak ketika dunia dalam genggamannya. Sejauh mana orangtua aware dengan kebebasan yang dimiliki anak-anaknya.

Teman-teman ada yang pernah mengalami hal sama? Punya tips dan trik khusus supaya anak-anak tetap aman saat memakai ponsel berinternet? Share, yuk!




6 comments:

  1. Kalau anakku diksh waktu sejam sehari buat yg main games, itu pun gamesnya udh aku download dan dibuat tanpa simcard. Mungkin akan diberikan hp kl sdh besar hanya untuk komunikasi, kan banyak hp jadul tuh yg hanya buat tlp heheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anakku pas SMP baru dikasih HP itupun yg jadul cuma bisa SMS dan telpon. Kalau untuk main games, di gadget yang gak ada simcard/internet.

      Delete
  2. Aku belum kasih ponsel ke anakku, wong msh SD jg. Mereka pernahbnanya sih, kapan dikasih hape sendiri. Aku jwb, nanti kalau sudha tau dan sadar nana yg boleh dan mana yg gk boleh dilakukan dg ponsel. Aku dikejar lg dg pertanyaan, berarti kalo sudah SMP? Haha. Ora uwis2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya sama Moses juga masih SD blm perlu hape. Ntar SMP liat sikon, belajarnya e-learning atau gak di sekolahnya. Sesuaikan dengan kebutuhan anak aja.

      Delete
  3. aku belum kasih ponsel ke anak-anakku. kalau kutinggal pergi dan anak2 di rumah, any urgent matter aku hubungi tetangga yang kutitipi saja. meski sering dipaksa rayu oleh Umar, aku tetap bersikukuh, belum waktunya dia untuk punya ponsel sendiri. semua alasan masuk akal aku obrolin sambil santai, supaya krucil gak merasa digurui.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak zaman now kritis2 yaa, apa2 alasannya harus jelas dan logis buat mereka :)

      Delete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)