Kepergian Lelaki Kedua

Tanpa terasa, sudah satu minggu sejak Kak Win berpulang. 

Ini adalah minggu yang berat. Kabar kepergian Kak Win begitu mendadak. Ketika kami semua sedang merasa optimis dengan kesehatannya setelah 5 bulan yang melelahkan untuknya.

Aku selalu mengagumi semangat Kak Win. Pelajar berprestasi di masa sekolah, pekerja keras dan sangat berdedikasi, anak, saudara dan kepala keluarga yang setia dan bertanggungjawab pada keluarganya.

Kak Win mungkin bukan kakak yang paling dekat denganku sejak aku kecil sampai sekarang. Tapi, dengan caranya sendiri, Kak Win selalu jadi orang pertama yang hadir dalam momen-momen khusus di hidupku. Kak Win dengan caranya sendiri, selalu memastikan aku baik-baik saja. 

Pertemuan terakhirku dengan Kak Win, mungkin jadi kebersamaan yang paling lama di usia dewasa kami. Menemaninya mengobrol tentang banyak banyak hal di dalam ruang perawatannya. Tentang impiannya untuk jalan-jalan. Kak Win ingin seperti travel blogger, katanya. "Enak, ya, jalan-jalan terus. Kenapa Sary gak jadi travel blogger aja?" ucapnya kala itu sambil tatapannya menerawang entah kemana.

Bahkan ketika aku masih ingin berlama-lama menemaninya pun, dia memintaku segera pulang, karena khawatir perjalananku jauh dan aku kehujanan. Sementara Kak Win sedang menahan sakit di seluruh tubuhnya.

Selamat jalan, Kak. 
Kakak pergi di hari Jumat, hari yang baik. 
Kakak sudah tenang sekarang. Sudah gak sakit lagi. Semoga sakit Kakak meleburkan semua dosa dan kesalahan di dunia dan sekarang Kakak bahagia dalam pelukan-Nya.

Salam buat Bapak ya, Kak ...


No comments

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)